Rabu, 23 April 2014



MATEMATIKA EKONOMI
PENERAPAN DEFERENSIAL FUNGSI SEDERHANA
DALAM EKONOMI

KELOMPOK   : VII (TUJUH)
NAMA            : 1. BERRY PORLIWAN
                           2. M. IRFAN AZHARI
                           3. MEDIKA YUNITA




Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam Prodi Perbankan Syariah
Institut Agama Islam Negeri ( IAIN )
BENGKULU
2013


PENERAPAN DEFERENSIAL FUNGSI SEDERHANA
DALAM EKONOMI

A.   ELASTISITAS
Elastisitas dari suatu fungsi berkenaan dengan y = ƒ(x) dapat didefinisikan sebagai :
Ini berarti bahwa elastisitas y = ƒ(x) merupakan limit dari rasio antara perubahan relative dalam y terhadap perubahan relative dalam x, untuk perubahan x yang sangat kecil atau mendekati nol. Dengan terminology lain, elastisitas y terhadap x dapat juga dikatakan sebagai rasio antara persentase perubahan y terhadap perubahan x.
a) Elastisitas Permintaan
Elastisitas permintaan (istilahnya yang lengkap : elastisitas harga permintaan, price elasticity of demand) ialah suatu koefisien yang menjelaskan besarnya perubahan jumlah barang yang diminta akibat adanya perubahan harga. Jadi, merupakan rasio antara persentase perubahan jumlah barang yang diminta terhadap persentase perubahan harga. Jika fungsi permintaan dinyatakan dengan
Qd = f(P), maka elastisitas permintaannya :
Permintaan akan suatu barang dikatakan bersifat elastic apabila |ηd| , elastic – uniter jika  , dan inelastic bila |ηd| . Barang yang permintaanya elastic mengisyaratkan bahwa jika harga barang tersebut berubah sebesar persentase tertentu, maka permintaan terhadapnya akan berubah (secara berlawanan arah) dengan persentase yang lebih besar daripada persentase perubahan harganya.
Contoh kasus:
Fungsi permintaan akan suatu barang ditunjukan oleh persamaan Qd = 25 – 3 P2 . tentukan elastisitas permintaannya pada tingkat harga P = 5.
ηd = 3 berarti bahwa apabila, dari kedudukan P = 5, harga naik (turun) sebesar 1 persen maka jumlah barang yang diminta akan berkurang (bertambah) sebanyak 3 persen.
b) Elastisitas Penawaran
Elastisitas penawaran (istilahnya yang lengkap : elastisitas harga penawaran, price elasticity of supply) ialah suatu koefisien yang menjelaskan besarnya perubahan jumlah barang yang ditawarkan berkenaan adanya perubahan harga. Jadi, merupakan rasio antara persentase perubahan harga. Jika fungsi penawaran dinyatakan dengan Qs = f(P), maka elastisitas penawarannya :
Penawaran suatu barang dikatakan bersifat
elastic apabila ηs > 1 , elastic – uniter jikaηs = 1 dan inelastic bilaηs < 1 . Barang yang penawarannya inelastic mengisyaratkan bahwa jika harga barang tersebut (secara searah) dengan persentase yang lebih kecil daripada persentase perubahan harganya.
Contoh kasus :
Fungsi penawaran suatu barang dicerminkan oleh Qs = -200 + 7 P2. Berapa elastisitas penawarannya pada tingkat harga P = 10 dan P = 15 ?
ηs = 2,8 berarti bahwa apabila dari kedudukan P = 10, harga naik (turun) sebesar 1 % maka
jumlah barang yang ditawarkan akan bertambah (berkurang) sebanyak 2,8%
Dan ηs = 2,3 berarti bahwa apabila dari kedudukan P = 15, harga naik (turun) sebesar 1% maka
jumlah barang yang ditawarkan akan bertambah (berkurang) sebanyak 2,3%

B.   BIAYA MARGINAL
Biaya marjinal (marginal cost, MC ) ialah biaya tambahan yang di keluarkan untukmenghasilkan satu unit tambahan produk. Secara matematik, fungsi biaya marjinal merupakan derivatif pertama fungsi biaya total diyatakan dengan C = ƒ(Q) dimana C adalah biaya total dan Q melambangkan jumlah produk, maka biaya marjinalnya:
Contoh kasus
          Biaya total  : C = ƒ(Q) = Q³ – 3 Q² + 4 Q + 4
          Biaya marjinal      : MC = C’ = dC/dQ= 3 Q² – 6 Q + 4
Pada umumnya fungsi biaya total yang non – linear berbentuk fungsi kubik, sehingga fungsi biaya marjinalnya berbentuk fungsi kuadrat. Dalam hal demikian, seperti ditunjukan di atas, kuarva biaya marjinal (MC ) selalu mencapai minimumnya tepat pada saat kurva biaya total (C ) berada pada posisi beloknya.
C = Q³ – 3 Q² + 4 Q + 4
MC = C’ = 3 Q ² – 6 Q + 4
(MC)’ = C” = 6 Q – 6
MC minimum jika (MC)’ = 0
(MC)’ = 0          6 Q – 6 = 0       Q = 1
Pada Q = 1      MC = 3 (1)² – 6(1) + 4 = 1
C = 1³ – 3 (1)² + 4(1) + 4 = 6
    C, MC                                                                                                                                                                                                     
                                                                        
  6                                                                        C                                                      

  4 
                                                        MC
  1
  0                                             1                                                    Q

BIAYA MARGINAL
• TC = C(Q)          total cost
• MC = C'(Q)       marginal cost
• AC = C(Q)/Q     average cost

Biaya Tetap (Fixed Cost : FC) yaitu, merupakan balas jasa dari pada pemakaian faktor produksi
tetap (fixed factor), yaitu biaya yang dikeluarkan tehadap penggunaan faktor produksi yang tetap
dimana besar kecilnya biaya ini tidak dipengaruhi oleh besar kecilnya output yang dihasilkan.
Biaya tidak tetap (Variabel cost : VC), yaitu merupakan biaya yang dikeluarkan sebagai balas jasa atas pemakaian variabel faktor, yang besar kecilnya dipengaruhi langsung oleh besar kecilnya output.
Biaya Total (Total cost : TC), yaitu merupakan jumlah keseluruhan dari biaya tetap dan biaya tidak tetap.
Biaya Rata-rata (Average Cost : AC), yaitu merupakan ongkos persatu satuan output; baik untuk biaya rata-rata tetap (average fixed cost) dan biaya rata-rata variabel (average variable cost) dan rata-rata total (average total cost), diperoleh dengan jalan membagi biaya Total dengan jumlah output yang dihasilkan.
Biaya Marginal (Marginal cost : MC), yaitu merupakan biaya tambahan yang diakibatkan dari penambahan satu-satuan unit output.
Biaya Tetap Rata-Rata (Average fixed cost : AFC), biaya hasil bagi biaya tetap dengan jumlah yang dihasilkan.
Biaya Variabel Rata-Rata (Average Variable cost : AVC), diperoleh dengan jalan membagi biaya variabel dengan jumlah produk yang dihasilkan.
RUMUS :
Biaya tetap : FC = k          (k=konstanta)
Biaya variable : VC = f(Q)
Biaya total : TC = FC + VC = k + f(Q) = f(Q)
Biaya tetap rata-rata : AFC = FC / Q
Biaya variable rata-rata : AVC = VC / Q
Biaya rata-rata : AC = TV / Q = AFC + AVC
Biaya marjinal : MC = DTC / DQ
Hubungan antara biaya total dan bagian-bagiannya :
A. Biaya total merupakan fungsi kuadrat parabolic
Andaikan TC = aQ2 – bQ + c
VC = aQ2 – bQ
FC = c
maka :
AC = TC / Q = aQ – b + c / Q
AVC = VC / Q = aQ – b
AFC = FC / Q = c / Q
Baik biaya total (TC) maupun biaya variable (VC) sama-sama berbentuk parabola. Perbedaan antara keduanya terletak pada konstanta c, yang mencerminkan biaya tetap (FC).
B. Biaya total merupakan fungsi kubik
Andaikan TC = aQ3 – bQ2 + cQ + d
VC = aQ3 – bQ2 - cQ
FC = d
maka :
AC = TC / Q = aQ2 – bQ + c + d / Q
AVC = VC / Q = aQ2 – bQ + c
AFC = FC / Q = d / Q
Biaya total berfungsi kubik diatas selalu membuahkan AC dan AVC berbentuk parabola terbuka keatas.
Contoh;
Biaya total yang dikeluarkan oleh sebuah perusahaan ditunjukkan oleh persamaan TC = 2Q2 – 24Q + 102.
- Pada tingkat produksi berapa unit biaya total (TC) ini
minimum ?
- Hitunglah besarnya biaya total minimum tersebut !
- Hitung pula besarnya biaya tetap (FC), biaya variable (VC),
biaya rata-rata (AC), biaya tetap rata-rata (AFC) dan biaya
variable rata-rata (AVC) pada tingkat produksi tadi !
- Seandainya dari kedudukan ini produksinya dinaikkan 1 unit,
berapa besarnya biaya marjinal (MC) ?
Jawab :
Untuk TC minimum maka ® dTC / dQ = 0
TC = 2Q2 – 24Q + 102
dTC / dQ = 4Q – 24 = 0
Q = 6
Untuk Q = 6 ® besarnya TC minimum adalah
TC = 2Q2 – 24Q + 102
TC = 2(6)2 – 24(6) + 102
TC = 30
Selanjutnya pada Q = 6 ini :
FC = 102
VC = 2Q2 – 24Q = 2(6)2 – 24(6) = -72
AC = TC / Q = 30 / 6 = 5
AFC = FC / Q = 102 / 6 = 17
AVC = VC / Q = -72 / 6 = -12
Seandainya produksi dinaikkan 1 unit, maka :
Q = 7
TC = 2Q2 – 24Q + 102
TC = 2(7)2 – 24(7) + 102
TC = 32
MC = DTC / DQ
MC = (32 – 30) / (7 – 6)
MC = 2

C.   PENERIMAAN MARGINAL
Penerimaan marjinal ( marginal revenue , MR ) ialah penerimaan tambahan yang diperoleh berkenaan bertambahnya satu unit keluaran yang diproduksi atau terjual. Secara matematik, fungsi penerimaan marjinal merupakan derivatif pertama dari fungsi penerimaan total. Jika fungsi penerimaan total dinyatakan dengan R = ƒ (Q ) dimana R melambangkan penerimaan total dan Q adalah jumlah keluaran, maka penerimaan marjinalnya :
Karena fungsi penerimaan total non – linear pada umumnya berbentuk fungsi kuadrat (parabolik), fungsi penerimaan marjinal akan berbentuk fungsi linear. Kurva penerimaan marjinal (MR) selalu mencapai nol tepat pada saat kurva penerimaan total (R) berada pada posisi puncaknya.
Contoh
Andaikanfungsi permintaan akan suatu barang di tunjukan oleh P = 16 – 2 Q
Penerimaan total :
R = P . Q = ƒ (Q) = 16 Q – 2 Q²
Penerimaan marjinal :
MR = R’ = 16 – 4 Q
Pada MR = 0, Q = 4
P = 16 – 2 (4) = 8
R = 16(4) – 2 (4)² = 32



D.   UTILITAS MARGINAL
Utilitas marjinal ( marjinal utility, MU ) ialah utilitas tambahan yang di peroleh konsumen berkenaan satu unit tabahan barang yang dikomsomsinya .secara matematik,fungsi utilitas marjinal merupakan derivatif  pertama dari fungsi rutinitas total jika funsi utilitas total dinyatakan dengan U=F(Q) dimana U melambangkan ultilitas total dan Q adalah jumlah barang yang di komsumsi, maka biaya marjinalnya :
 Karena fungsi utilitas total yang non – linear pada umumnya berbentuk fungsi kuadrat, fungsi utilitas marjinalnya akan berbentuk fungsi linear. Kurva ultilitas total (U) berada di posisi puncaknya.
Contoh :
U = ƒ(Q) = 90 Q – 5 Q²
MU = U’ = 90 – 10 Q
U maksimum pada MU = 0
MU = 0       Q = 9
                    = 90(9) – 5(9)²
                     = 810 – 450
                     =405




E.    PRODUK MARGINAL
Produk marjinal ( marginal product, MP) ialah produk tambahan yang di hasilkan dari satu unit tambahan faktor produksi yang di gunakan. Secara matematik, fungsi produk marjinal merupakan derivatif pertama dari fungsi  produk total jika fungsi produk tatal. Jika fungsi produk total dinyatakan dengan P = ƒ(X) dimana P melambangkan jumlah produk total dan X jumlah masukan. Maka produk marjinalnya :
karena fungsi produk total yang non – linear pada umumnya berbenruk fungsi kubik, fungsi produk marjinalnya akan berbentuk fungsi kuadrat ( prabolik ). Kurva produk marjinal ( MP ) selalu mencapai nilai ekstrimnya, dalam hal ini nilai maksimum, tepat pada saat kurva produk total (P) berada pada posisi titik beloknya ; kedudukan ini mencermikan berlakunya hukum tambahan hasil yang semakin berkurang . produk total mencapai puncak ketika produk marjinal nya nol. Sesudah kedudukan ini, produk total menurun bersama dengan produk marjinal menjadi negatif. Area dimana produk marjinal negatif menunjukkan bahwa penambahan penggunaan masukan yang bersangkutan justru akan mengurangi jumlah produk total, mengisyaratkan terjadinya disefisiensi dalam kegiatan produksi. Dalam area ini, jika produk total hendak di tingkatkan, jumlah masukan yang digunakan harus di kurangi.
Produksi total :
P = ƒ(X) = 9X² – X³
Produk marjinal :
MP= P’ = 18 X – 3X²
Pmaksimum pada P’ = 0 ; yakni pada
X = 6, dengan P maksimum  = 108
P berada pada titi belok dan MP maksimum pada P” = (MP)’ = 0;
Yakni pada X = 3.


F.    ANALISIS KEUNTUNGAN MAKSIMUM
 Tingkat produksi  yang memberikan makanan keuntungan maksimum, atau menimbulkan kerugian maksimum, dapat disidik dengan pedekatan diferensial. Karena baik penerimaan total (R) maupun biaya total (C) sama-sama merupakan fungsi dari jumblah keluaran yang dihasilkan/terjual (Q), maka dari sini dapat dibentuk suatu fungsi baru yaitu fungsi keuntungan ( ). Nilai ekstrim atau nilai optimum  dapat ditentukan dengan cara menetapkan derivatif pertamanya sama dengan nol.
           R =r(Q)                       =R–C=r(Q)–c(Q)=ƒ(Q)
           C=c(Q)                         optimul jika jika n1  =  ƒ1(Q)=  d n /Dq = 0
Karena  = R–C                                             berarti pada  optimum:
Maka   = R’ – C’ = MR – MC                   = 0      MR – MC = 0        MR = MC
Secara grafik, kesamaaan MR=MC atau kedudukan  =0 ditunjukan oleh perpotogan antara kurva penerimaan marjinal (MR) dan kurva biaya marjinal (MC). Hal ini sekali gus mencerminkan jarak terlebar antara kurva penerimaan total (R) dan kurva biaya total (C). Akan tetapi akan syarat MR=MC atau  =0 belumlah cukup untuk mengisyaratkan keuntungan maksimum, sebap jarakterlebar yang dicerminkan mungkin merupakan selisih positif “R – C” (berarti keuntungan) atau merupakan selisih negatif “R – C” (berarti kerugian).
 Untuk mengetahui apaka  = 0 mencrminkan keuntungan maksimum ataukah justre kerugian maksimum, perlu diuji melalui derivatif kedua dari fungsi .
Jika
Jika

 









Syarat agar di peroleh keuntungan maksimum adalah :