Rabu, 23 April 2014

KEWIRAUSAHAAN TENTANG PELUANG USAHA, INOVASI DAN KREATIVITAS



MAKALAH
KEWIRAUSAHAAN
PELUANG USAHA, KREATIVITAS DAN INOVASI
 

OLEH
KELOMPOK I
MEDIKA YUNITA                          : 131 614 0393
M. YAYUS SUTRISNO                  : 131 614 0304
RANDY FEBDIAWAN                   :
IHSAN KHARISWANTHONI       :

DOSEN
SALAMAH




Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam Prodi Perbankan Syariah
Institut Agama Islam Negeri ( IAIN )
BENGKULU
2014


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Banyak dari mereka yang tidak mempunyai latar belakang usaha bisnis kuliner namun ikut terjun di dunia ini. Jadi, jika mereka bisa, kita juga pasti bisa dong? Mereka yang berhasil dalam mengelola usaha kuliner mengganggap membuka dan menjalankan usaha kuliner bukanlah hal yang gampang. Butuh usaha dengan kerja keras, usaha yang dijalankan selama 12 jam dalam sehari 7 hari dalam seminggu.
Bisnis kuliner adalah rangkaian kegiatan yang secara terus menerus melibatkan semua bidang pengadaan peralatan dan bahan mentah, kontrol kualitas untuk bahan dan produksi, standarisasi resep dan proses, berurusan dengan segi hukum, promosi, keluhan pelanggan, dekorasi, identitas dan citra, penanganan pegawai, strategi harga, variasi dan inovasi menu, serta masih banyak lagi. Bagi para pecinta makanan alias yang hobi makan, peluang usaha makanan pasti bisa menjadi salah satu pilihan bagi kita yang ingin memulai usaha. Suatu usaha akan dapat maju dan berkembang jika berangkat dari sebuah hobi. Hobi makan, usaha kuliner tentu menjadi pilihannya.
B.     Rumusan masalah
1.      Apakah pengertian peluang usaha?
2.      Apa pengertian kreativitas?
3.      Apa pengertian invoasi?
C.    Tujuan
1.      Menjelaskan Apakah pengertian peluang usaha?
2.      Menjelaskan Apa pengertian kreativitas?
3.      Menjelaskan Apa pengertian invoasi?




BAB II
PEMBAHASAN

A.     Peluang Usaha
Masih banyak yang salah kaprah tentang pengertian peluang usaha, karena selama ini peluang usaha diartikan sebagai sebuah peluang usaha yang menjanjikan dan akan mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya, hal itu merupakan harapan untuk anda yang menekuni usaha.
Bahwa pengertian peluang usaha itu, esensinya adalah asas manfaat. Semua kondisi yang di tawarkan kepada anda, adalah penawaran terhadap sebuah aktifitas bisnis yang pantas untuk anda geluti dan tentu saja bisa memberikan keuntungan yang luar biasa kepada anda. Dengan catatan, jika peluang usaha yg dimaksud benar-benar  di manfaatkan dan di kemas sedemikian rupa sehingga bisa memberikan manfaat yang di harapkan.[1]
Lalu bagaimana jika hal itu berlaku sebaliknya. Dengan menggunakan logika terbalik. Bahwa tidak semua peluang usaha yang anda anggap tepat, benar-benar bisa klop dengan apa yang anda harapkan.
Karena perlu juga di garis bawahi, bahwa pengertian peluang usaha adalah sebuah ruang kreasi yg independent dan mandiri. Dan bukanlah sebuah kegiatan yang ikut-ikutan demi mengikuti sebuah trend dan gaya hidup semata. Contohnya ada teman anda yg berbisnis XX anda ikutan juga bisnis XX. karena menurut teman anda, bisnis XX adalah Peluang Usaha! Bisnis ini sangat menjanjikan dan prospektif. Padahal belum tentu bisnis XX cocok dengan anda.

1.    Pengertian Peluang Usaha
Peluang usaha ialah kesempatan atau waktu yang tepat yang seharusnya di ambil atau dimanfaatkan bagi seorang wirausahawan untuk mendapat keuntungan. Peluang Bisnis/Usaha ini merupakan kesempatan yang pasti bisa didapatkan seseorang atau lebih dengan mengandalkan potensi diri yang ada dan dengan memanfaatkan berbagai kesempatan baik itu peluang usaha apa saja, yang bisa dengan sigap kita ambil.
Peluang usaha dapat muncul dari hobi kita sendiri, yang sebelumnya mungkin Anda tidak sadar bahwa hobi Anda bisa dijadikan sebagai usaha. Kalau hobi atau bidang yang Anda kuasai saat ini belum layak untuk dijadikan peluang usaha, Anda membutuhkan ide-ide yang menimbulkan peluang usaha. Bagaimana cara menimbulkan ide itu? Ide yang berpeluang usaha bisa didapatkan dari hal-hal seperti berikut ini.
a.         Cita-cita. Peluang bisa muncul dari cita-cita Anda sendiri. Bila keinginan Anda untuk menjadi seorang pengusaha sangat kuat, maka Anda akan melihat peluang-peluang di hampir semua bidang. Hampir setiap apa yang dilihat adalah peluang usaha. Atau setidaknya, Anda secara naluri akan berupaya mencari peluang di suatu jenis usaha. Hal ini tidak akan terjadi pada orang yang tidak memiliki cita-cita menjadi seorang pengusaha.
b.         Tekanan. Bila seseorang menghadapi tekanan maka banyak gagasan yang mucul. Tekanan bisa datang dari luar, bisa pula diciptakan oleh diri sendiri. Ketika seseorang mendapatkan tekanan untuk bisa hidup dan menghidupi keluarganya, biasanya dia akan banyak berpikir untuk mendapatkan solusinya.
c.         Kecenderungan pasar. Mengamati kebutuhan konsumen di pasar dapat menimbulkan peluang usaha. Contoh, kecendrungan sebagian orang akan belanja langsung ke pabrik dengan harga murah. Maka muncullah factory outlet di mana-mana. Dengan berbagai promosi maka FO menawarkan barang dengan harga murah dengan kualitas barang yang dapat dijamin.
d.        Inovasi baru. Gagasan untuk menciptakan produk baru timbul karena adanya kebutuhan, sementara produk itu belum ada di pasaran. Apabila kita berhasil menciptakan produk tersebut dan dibutuhkan konsumen maka kita dapat menjadi yang pertama dan menguasai usaha tersebut (leader).
e.         Komplemen dari produk yang ada. Sebuah produk dapat memberikan peluang usaha dengan membuat produk-produk yang melengkapinya, biasanya berupa aksesori. Produk otomotif seperti mobil biasanya disertai dengan produk aksesori yang menyertainya. Seperti diketahui, aksesori semacam ini bisa menjadi peluang bagi si pembuat produk maupun perusahaan.
f.          Peristiwa yang digemari atau munculnya tokoh. Suatu peristiwa bisa menimbulkan peluang baru. Contoh, adanya musim kompetisi sepak bola, muncul produk-produk seperti t-shirt yang bergambar piala, pemain sepak bola favorit, dan lain-lain.
g.         Wawasan. Orang yang wawasannya luas, pergaulannya luas dan dia mau berpikir, maka akan menemukan peluang usaha. Misalnya seseorang yang sering melihat usaha yang dilakukan di luar negeri (bisa didapatkan dari media massa atau berkunjung) dan usaha tersebut belum ada di negaranya, ini merupakan cara untuk mendapatkan peluang usaha.
h.         Bahan bacaan. Membaca, selain menambah wawasan dan pengetahuan, juga bisa menimbulkan gagasan yang mengandung peluang usaha. Bahan bacaan bisa dari berbagai media. Bila Anda memang sedang berpikir keras mencari peluang, ketika Anda membaca iklan produk barang atau jasa, ada kemungkinan Anda mendapatkan peluang usaha.
i.            Ide yang muncul tiba-tiba. Kadang kala gagasan bisa muncul tiba-tiba, di mana saja dan kapan saja. Hampir setiap orang mengalaminya. Tetapi tidak banyak orang yang bisa mewujudkan gagasan menjadi usaha nyata yang membawa keuntungan. Kebanyakan orang melupakan ide-ide yang tiba-tiba muncul, dia tidak bisa melihat bahwa idenya bisa menjadi suatu peluang usaha.



2.      Menangkap Peluang Usaha
Untuk menggali dan memanfaatkan peluang usaha ,seorang wirausaha harus berpikir secara positif dan kreatif, diantaranya[2] :
a.         Harus percaya dan yakin dengan usahanya
b.         Menerima gagasan-gagasan baru
c.         Berintropeksi diri
d.        Bersifat terbuka
e.         Etos kerja tinggi
f.          Pandai berkomunikasi
Dengan tersedianya informasi internal dan eksternal, maka wirausahawan dapat mengetahui :
a.         Peluang (opportunity)
b.         Ancaman usaha (threat)
c.         Kekuatan (strength)
d.        Kelemahan (weakness)

3.       Resiko Usaha
Beberapa risiko bisnis/usaha yang mungkin terjadi, sebagai berikut :
a.         Perubahan permintaan
b.         Perubahan konjugtur
c.         Persaingan
d.        Akibat lain, seperti perubahan teknologi,peraturan,bencana dll.

B.     Kreativitas
Kreativitas merupakan daya menciptakan sesuatu yang menuntut pemusatan perhatian, kemauan, kerja keras dan ketekunan[3]. Menurut Sulaiman Sahlan dan Maswan, kreativitas adalah ide atau gagasan dan kemampuan berpikir kreatif.[4] Sementara itu dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia yang dimaksud dengan kreativitas ialah kemampuan untuk mencipta daya cipta. Menurut Zimmer kretivitas adalah kemampuan untuk mengembangkan ide-ide baru dan cara-cara baru dalam pemecahan masalah dan menemukan peluang (thinking new thing)[5]
Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa kreativitas merupakan kemampuan seseorang dalam menuangkan ide atau gagasan melalui proses berpikir kreatif untuk menciptakan sesuatu yang menuntut pemusatan, perhatian, kemauan, kerja keras dan ketekunan. Sedangkan yang dimaksud dengan wirausaha adalah pengusaha, tetapi tidak semua pengusaha adalah wirausaha. Wirausaha adalah pionir dalam bisnis, inovator, penanggung resiko yang mempunyai penglihatan visi ke depan dan memiliki keunggulan dalam berprestasi di bidang usaha.[6] Sementara itu menurut Prawirokusumo wirausaha adalah mereka yang melakukan upaya-upaya kreatif dan inovatif dengan jalan mengembangkan ide dan meramu sumber daya untuk menemukan peluang (opportunity) dan perbaikan (preparation) hidup. Senada dengan  pendapat di atas, menurut Suryana, enterpreneur atau wirausaha adalah seseorang yang memiliki kombinasi unsur-unsur (elemen-elemen) internal yang meliputi kombinasi motivasi diri, visi, komunikasi, optimisme, dorongan semangat, dan kemampuan untuk memanfaatkan peluang usaha.[7]
1.    Definisi Kerativitas
a.    Menurut NACCCE (National Advisory Committee on Creative and Cultural Education) (dalam Craft, 2005), kreativitas adalah aktivitas imaginatif yang menghasilkan hasil yang baru dan bernilai.
b.    Feldman (dalam Craft, 2005) medefinisikan kreativitas adalah: “the achievement of something remarke and new, something which transforms and changes a field of endeavor in a significant way ... the kinds of things that people do that change the world.”
c.    Menurut Munandar (1985), kreativitas adalah kemampuan untuk membuat kombinasi baru, berdasarkan data, informasi atau unsur-unsur yang ada. Hasil yang diciptakan tidak selalu hal-hal yang baru, tetapi juga dapat berupa gabungan (kombinasi) dari hal-hal yang sudah ada sebelumnya.
d.   Csikszentmihalyi (dalam Clegg, 2008) menyatakan kreativitas sebagai suatu tindakan, ide, atau produk yang mengganti sesuatu yang lama menjadi sesuatu yang baru.
e.    Guiford (dalam Munandir, 2009) menyatakan kreativitas merupakan kemampuan berpikir divergen atau pemikiran menjajaki bermacam-macam alternatif jawaban terhadap suatu persoalan, yang sama benarnya (Guilford, dalam Munandar 2009).
f.     Menurut Rogers (dalam Zulkarnain, 2002), kreativitas merupakan kecenderungan-kecenderungan manusia untuk mengaktualisasikan dirinya sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya.
Campbell (dalam Manguhardjana, 1986) mengemukakan kreativitas sebagai kegiatan yang mendatangkan hasil yang sifatnya:
a.         Baru atau novel, yang diartikan sebagai inovatif, belum ada sebelumnya, segar, menarik, aneh dan mengejutkan.
b.         Berguna atau useful, yang diartikan sebagai lebih enak, praktis, mempermudah, mendorong, mengembangkan, mendidik, memecahkan masalah, mengurangi hambatan, mengatasi kesulitan, mendatangkan hasil yang baik.
c.         Dapat dimengerti atau understandable, yang diartikan hasil yang sama dapat dimengerti dan dapat dibuat dilain waktu, tau sebaliknya peristiwa-peristiwa yang terjadi begitu saja, tak dapat dimengerti, tak dapat diramalkan dan tak dapat diulangi. Beragamnya pendapat para ahli akan pengertian kreativitas, maka dapat disimpulkan bahwa kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk menghasilkan suatu produk yang baru ataupun kombinasi dari hal-hal yang sudah ada sebelumnya, yang berguna, serta dapat dimengerti.
2.    Ciri-Ciri Kreativitas
Guilford (dalam Munandar, 2009) mengemukakan ciri-ciri dari kreativitas antara lain:
a.    Kelancaran berpikir (fluency of thinking), yaitu kemampuan untuk menghasilkan banyak ide yang keluar dari pemikiran seseorang secara cepat. Dalam kelancaran berpikir, yang ditekankan adalah kuantitas, dan bukan kualitas.
b.    Keluwesan berpikir (flexibility), yaitu kemampuan untuk memproduksi sejumlah ide, jawaban-jawaban atau pertanyaan-pertanyaan yang bervariasi, dapat melihat suatu masalah dari sudut pandang yang berbeda-beda, mencari alternatif atau arah yang berbeda-beda, serta mampu menggunakan bermacam-macam pendekatan atau cara pemikiran. Orang yang kreatif adalah orang yang luwes dalam berpikir. Mereka dengan mudah dapat meninggalkan cara berpikir lama dan menggantikannya dengan cara berpikir yang baru.
c.    Elaborasi (elaboration), yaitu kemampuan dalam mengembangkan gagasan dan menambahkan atau memperinci detail-detail dari suatu objek, gagasan atau situasi sehingga menjadi lebih menarik.
d.   Originalitas (originality), yaitu kemampuan untuk mencetuskan gagasan unik atau kemampuan untuk mencetuskan gagasan asli.

3.    Faktor-Faktor yang mempengaruhi kreativitas
Menurut Rogers (dalam Munandar, 2009), faktor-faktor yang dapat mendorong terwujudnya kreativitas individu diantaranya:
a.    Dorongan dari dalam diri sendiri (motivasi intrinsik)
Menurut Roger, setiap individu memiliki kecenderungan atau dorongan dari dalam dirinya untuk berkreativitas, mewujudkan potensi, mengungkapkan dan mengaktifkan semua kapasitas yang dimilikinya. Dorongan ini merupakan motivasi primer untuk kreativitas ketika individu membentuk hubungan-hubungan baru dengan lingkungannya dalam upaya menjadi dirinya sepenuhnya. Hal ini juga didukung oleh pendapat Munandar (2009) yang menyatakan individu harus memiliki motivasi intrinsik untuk melakukan sesuatu atas keinginan dari dirinya sendiri, selain didukung oleh perhatian, dorongan, dan pelatihan dari lingkungan.
Menurut Rogers (dalam Zulkarnain, 2002), kondisi internal (interal press) yang dapat mendorong seseorang untuk berkreasi diantaranya:
Ø  Keterbukaan terhadap pengalaman Keterbukaan terhadap pengalaman adalah kemampuan menerima segala sumber informasi dari pengalaman hidupnya sendiri dengan menerima apa adanya, tanpa ada usaha defense, tanpa kekakuan terhadap pengalaman-pengalaman tersebut dan keterbukaan terhadap konsep secara utuh, kepercayaan, persepsi dan hipotesis. Dengan demikian individu kreatif adalah individu yang mampu menerima perbedaan.
Ø  Kemampuan untuk menilai situasi sesuai dengan patokan pribadi seseorang (internal locus of evaluation) Pada dasarnya penilaian terhadap produk ciptaan seseorang terutama ditentukan oleh diri sendiri, bukan karena kritik dan pujian dari orang lain. Walaupun demikian individu tidak tertutup dari kemungkinan masukan dan kritikan dari orang lain.
Ø  Kemampuan untuk bereksperimen atau “bermain” dengan konsep-konsep.
b.    Dorongan dari lingkungan (motivasi ekstrinsik) Munandar (2009) mengemukakan bahwa lingkungan yang dapat mempengaruhi kreativitas individu dapat berupa lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat[8]. Lingkungan keluarga merupakan kekuatan yang penting dan merupakan sumber pertama dan utama dalam pengembangan kreativitas individu. Pada lingkungan sekolah, pendidikan di setiap jenjangnya mulai dari pra sekolah hingga ke perguruan tinggi dapat berperan dalam menumbuhkan dan meningkatkan kreativitas individu. Pada lingkungan masyarakat, kebudayaan-kebudayaan yang berkembang dalam masyarakat juga turut mempengaruhi kreativitas individu. Rogers (dalam Munandar, 2009) menyatakan kondisi lingkungan yang dapat mengembangkan kreativitas ditandai dengan adanya[9]:
1.    Keamanan psikologis Keamanan psikologis dapat terbentuk melalui 3 proses yang saling berhubungan, yaitu:
a.    Menerima individu sebagaimana adanya dengan segala kelebihan dan keterbatasannya.
b.    Mengusahakan suasana yang didalamnya tidak terdapat evaluasi eksternal (atau sekurang-kurangnya tidak bersifat atau mempunyai efek mengancam.
c.    Memberikan pengertian secara empatis, ikut menghayati perasaan, pemikiran, tindakan individu, dan mampu melihat dari sudut pandang mereka dan menerimanya.
2.    Kebebasan psikologis, Lingkungan yang bebas secara psikologis, memberikan kesempatan kepada individu untuk bebas mengekspresikan secara simbolis pikiran-pikiran atau perasaan-perasaannya.
Munandar (dalam Zulkarnain, 2002) menyatakan faktor-faktor yang mempengaruhi kreativitas dapat berupa kemampuan berpikir dan sifat kepribadian yang berinteraksi dengan lingkungan tertentu. Faktor kemampuan berpikir terdiri dari kecerdasan (inteligensi) dan pemerkayaan bahan berpikir berupa pengalaman dan ketrampilan. Faktor kepribadian terdiri dari ingin tahu, harga diri dan kepercayaan diri, sifat mandiri, berani mengambil resiko dan sifat asertif.
4.    Tahap-Tahap perkembangan kreativitas
Menurut Cropley (1999), terdapat 3 tahapan perkembangan kreativitas diantaranya:
a.         Tahap prekonvensional (Preconventional phase) Tahap ini terjadi pada usia 6–8 tahun. Pada tahap ini, individu menunjukkan spontanitas dan emosional dalam menghasilkan suatu karya, yang kemudian mengarah kepada hasil yang aestetik dan menyenangkan. Individu menghasilkan sesuatu yang baru tanpa memperhatikan aturan dan batasan dari luar.
b.         Tahap konvensional (Conventional phase) Tahap ini berlangsung pada usia 9–12 tahun. Pada tahap ini kemampuan berpikir seseorang dibatasi oleh aturan-aturan yang ada sehingga karya yang dihasilkan menjadi kaku. Selain itu, pada tahap ini kemampuan kritis dan evaluatif juga berkembang.
c.         Tahap poskonvensional (Postconventional phase) Tahap ini berlangsung pada usia 12 tahun hingga dewasa. Pada tahap ini, individu sudah mampu menghasilkan karya-karya baru yang telah disesuaikan dengan batasan-batasan eksternal dan nilai-nilai konvensional yang ada di lingkungan.

C.    Inovasi
Inovasi adalah kemampuan untuk menerapkan kreatifitas dalam rangka pemecahan masalah dan menemukan peluang (doing new thing)[10] inovasi merupakan fungsi utama dalam proses kewirausahaan. Peter Druckermengatakan inovasi memiliki fungsi yang khas bagi wirausahawan. Dengan inovasi wirausahawan menciptakan baik sumberdaya produksi baru maupun pengelolahan sumber daya yang ada dengan peningkatan nilai potensi untuk menciptakan sesuatu yang tidak ada menjadi ada.[11]


1.         Pengertian
a.         Menurut Schumpeter (1934) inovasi adalah mengkreasikan dan mengimplementasikan sesuatu menjadi satu kombinasi. Dengan inovasi maka seseorang dapat menambahkannilai dari produk, pelayanan, proses kerja, pemasaran,sistem pengiriman, dan kebijakan, tidak hanya bagiperusahaan tapi juga stakeholder dan masyarakat (dalam de Jong & Den Hartog, 2003).
b.        Menurut Zimmerer dan Scarborough (2005), inovasi merupakan kemampuan untuk menerapkan solusi yang kreatif terhadap suatu permasalahan berikut dengan peluang untuk meningkatkan atau untuk memperkaya kehidupan seseorang. Entrepreneur adalah inovator, bukan hanya sekedarinventor. Ia tidak hanya berhenti sampai pada prosespenciptaan atau penemuan ide, tapi melanjutkannyauntuk dapat direalisasikan kedalam bentuk inovasi.

2.         Perilaku yang Inovatif
Pengertian perilaku inovatif menurut Wess & Farr (dalam De Jong & Kemp, 2003) adalah semua perilaku individu yang diarahkan untuk menghasilkan, memperkenalkan, dan mengaplikasikan hal-hal ‘baru’, yang bermanfaat dalam berbagai level organisasi. Beberapa peneliti menyebutnya sebagai shop-floor innovation[12].
Perilaku inovatif adalah semua perilaku individu yang diarahkan untuk menghasilkan dan mengimplementasikan hal-hal ‘baru’, yang bermanfaat dalam berbagai level organisasi; yang terdiri dari dua dimensi yaitu kreativitas dan pengambilan resiko dan proses inovasinya bersifat inkremental.
3.          Karakter Individu yang Berperilaku Inovatif
a.       Memiliki keinginan yang kuat untuk menambah pengetahuan dan berusaha mengenali sebab-sebab dari segala sesuatu.
b.      Dia selalu mencari dan menulis setiap ide baru yang akan mempermudah pekerjaannya dan meningkatkan kualitas dirinya.
c.       Melontarkan ide-ide kepada orang lain untuk didiskusikan bersama.
d.      Berfikir dengan menggunakan berbagai cara.
e.       Tidak akan terpengaruh oleh hinaan, ejekan, atau gentar dengan rintangan. Dia akan terus mengamati, dan berusaha mencari temuan-temuan baru.
f.       Tidak mau menerima rutinitas yang membuatnya stagman.
g.      Seorang yang berjiwa inovatif tidak pernah merasa bosan berusaha (ulet)
h.      Tidak takut melakukan kesalahan.
i.        Memandang setiap kesulitan adalah sebagai jalan pembuka untuk menuju sukses.

4.         Tahapan prilaku Inovatif
De Jong & Den Hartog (2003) merinci lebih mendalam proses inovasi dalam 4 tahap yaitu:
a.         Melihat kesempatan bagi karyawan untuk mengidentifikasi kesempatan.
Kesempatan dapat berawal dari ketidakkongruenan dan diskontinuitas yang terjadi karena adanya ketidaksesuaian dengan pola yang diharapkan misalnya timbulnya masalah pada pola kerja yang sudah berlangsung,adanya kebutuhan konsumen yang belum terpenuhi,atau adanya indikasi trends yang sedang berubah.
b.        Mengeluarkan ide.
Dalam fase ini, karyawan mengeluarkan konsep baru dengan tujuan menambah peningkatan. Hal ini meliputi mengeluarkan ide sesuatu yang baru atau memperbaharui pelayanan, pertemuan dengan klien dan teknologi pendukung. Kunci dalam mengeluarkan ide adalah mengkombinasikan dan mereorganisasikan informasi dan konsep yang telah ada sebelumnya untuk memecahkan masalah dan atau meningkatkan kinerja. Proses inovasi biasanya diawali dengan adanya kesenjangan kinerja yaitu ketidaksesuaian antara kinerja aktual dengan kinerja potensial.
c.         Implementasi.
Dalam fase ini, ide ditransformasi terhadap hasil yang konkret. Pada tahapan ini sering juga disebut tahapan konvergen.Untuk mengembangkan ide dan mengimplementasikan ide, karyawan harus memiliki perilaku yang mengacu pada hasil.Perilaku inovasi Konvergen meliputi usaha menjadi juara dan bekerja keras.Seorang yang berperilaku juara mengeluarkan seluruh usahanya pada ide kreatif.Usaha menjadi juara meliputi membujuk dan mempengaruhi karyawan dan juga menekan dan bernegosiasi.Untuk mengimplementasikan inovasi sering dibutuhkan koalisi, mendapatkan kekuatan dengan menjual ide kepada rekan yang berpotensi.
d.        Aplikasi.
Dalam fase ini meliputi perilaku karyawan yang ditujukan untuk membangun, menguji, dan memasarkan pelayanan baru. Hal ini berkaitan dengan membuat inovasi dalam bentuk proses kerja yang baru ataupun dalam proses rutin yang biasa dilakukan.
Adair (1996) mengatakan ada 3 fase dalam proses inovasi sebagai berikut:
a.         Generating ideas.
Keterlibatan individu dan tim dalam menghasilkan ide untuk memperbaiki produk, proses dan layanan yang ada dan menciptkaan sesuatu yang baru.
b.         Harvesting ideas.
Melibatkan sekumpulan orang untuk mengumpulkan dan mengevaluasi ide-ide.
c.         Developing and implementing these ideas.
Mengembangkan ide-ide yang telah terkumpul dan selanjutnya mengimplementasikan ide tersebut.

5.         Prinsip Inovasi
Drucker (1985) mengatakan bahwa dalam melakukan inovasi perlu memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut:
a.       Sesuatu yang harus dilakukan adalah:
1.      Menganalisis peluang
2.      Apa yang harus dilakukan untuk memuaskan peluang
3.      Sederhana dan terarah
4.      Dimulai dari yang kecil
5.      Kepemimpinan
b.      Sesuatu yang tidak harus dilakukan:
1.      mencoba untuk menjadi yang pandai
2.      mencoba ingin mengerjakan sesuatu yang banyak
3.      mencoba inovasi untuk masa yang akan datang
c.       Kondisi:
1.      Memerlukan ilmu pengetahuan
2.       Membangun keunggulannya sendiri
3.      Inovasi adalah efek dari ekonomi dan masyarakat

6.         Tipe Inovasi
Ada 5 tipe inovasi menurut para ahli, yaitu:
a.       Inovasi produk; yang melibatkan pengenalan barang baru dan pelayanan baru yang secara substansial meningkat. Melibatkan peningkatan karakteristik fungsi juga kemampuan teknisi yang mudah dalam menggunakannya. Contohnya: telepon genggam, komputer, kendaraan bermotor, dsb.
b.      Inovasi proses; melibatkan implementasi peningkatan kualitas produk yang baru atau pengiriman barangnya.
c.       Inovasi pemasaran; mengembangkan metode mencari pangsa pasar baru dengan meningkatkan kualitas desain, pengemasan dan promosi.
d.      Inovasi organisasi; kreasi organisasi baru, praktek bisnis, cara menjalankan organisasi atau perilaku berorganisasi.
e.       Inovasi model bisnis; mengubah cara berbisnis berdasarkan nilai yang dianut. 

7.         Sumber Inovasi 
Terdapat dua sumber utama inovasi , yaitu:
a.         Secara tradisional, sumbernya adalah inovasi fabrikasi. Hal tersebut karena agen (orang atau bisnis) berinovasi untuk menjual hasil inovasinya. 
b.        Inovasi pengguna; hal tersebut dimana agen (orang atau bisnis) mengembangkan inovasi sendiri (pribadi atau di rumahnya sendiri), hal itu dilakukan karena produk yang dipakainya tidak memenuhi apa yang dibutuhkannya. 

8.         Tujuan Inovasi 
Tujuan utama inovasi adalah: 
a.         Meningkatkan Kualitas; 
b.        Menciptakan Pasar Baru; 
c.         Memperluas Jangkauan Produk; 
d.        Mengurangi Biaya Tenaga Kerja;
e.         Meningkatkan Proses Produksi; 
f.         Mengurangi Bahan Baku; 
g.        Mengurangi Kerusakan Lingkungan; 
h.        Mengganti Produk Atau Pelayanan; 
i.          Mengurangi Konsumsi Energi; 
j.          Menyesuaikan Diri Dengan Undang-Undang;

9.         Kegagalan Inovasi 
Hasil survey menunjukkan, bahwa dari 3000 ide tentang sebuah produk, hanya satu yang sukses di pasaran. Kegagalan inovasi mengakibatkan hilangnya sejumlah nilai investasi, menurunkan moral pekerja, meningkatkan sikap sinis, atau penolakan produk serupa yang ada,  padahal produk yang gagal seringkali memiliki potensi sebagai ide yang baik, penolakan terjadi karena kurangnya modal, keahlian yang kurang, atau produk tidak sesuai kebutuhan pasar. Kegagalan harus diidentifikasi dan diseleksi ketika proses berlangsung. Penyeleksian dini memungkinkan kita dapat menghindari uji coba ide yang tidak cocok dengan bahan baku sehingga dapat menghemat biaya produksi. 
Penyebab umum gagalnya suatu proses inovasi, dapat disaring kedalam 5 macam, yaitu: 
a.         Definisi tujuan yang buruk
b.        Buruknya mensejajarkan aksi untuk mencapai tujuan
c.         Buruknya partisipasi anggota tim; 
d.        Buruknya pengawasan produk; 
e.         Buruknya komunikasi dan akses informasi.














BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Aktivitas bisnis sangat memerlukan orang-orang yang inovatif, kreatif dan cepat tanggap terhadap setiap perubahan. Para peneliti telah mengatakan bahwa kreativitas menyangkut keputusan-keputusan Anda tentang apa yang Anda inginkan dan bagaimana Anda melakukannya dengan lebih baik. Jadi, urutan tersebut melibatkan sebuah proses, bukan hanya melihat hasil akhir yang diharapkan, sehingga kita tidak perlu merasa sangat terbebani untuk menjadi kreatif.
Para peneliti telah membedakan tipe kreativitas dalam kehidupan sehari-hari,yaitu:
a.         Membuat  atau menciptakan, yaitu proses membuat sesuatu dari tidak ada menjadi ada.
b.        Mengombinasikan dua hal atau lebih yang sebelumnya tidak saling berkaitan menjadi lebih bermanfaat.
c.         Memodifikasi sesuatu yang memang sudah ada. Proses ini menggunakan berbagai cara untuk membentuk fungsi-fungsi baru atau menjadikan sesuatu menjadi lebih berguna bagi orang lain
Demikian kesimpulan yang dapat kami uraikan. Inovatif dan kreatif adalah 2 hal penting yang menjadi penyeimbang dalam rangka mengelola wirausaha secara berkesinambungan dan akan selalu diterima dimasyarakat karena pembaharuan kreasi dan inovasi slalu dilakukan demi kepuasan konsumen.








DAFTAR PUSTAKA

Oetami, Noer Dewi. 2009. Acuan Pengayaan Ekonomi. Solo: CV Sindhuhanata.
Suharyadi, dkk. 2011. Kewirausahaan, Jakarta : Salemba Empat
Shadily,Hassan .1987. Ensiklopedi Indonesia jilid 4, Jakarta: Ichtion Van Hoeve
Sahlan Sulaiman dan Misman.1988. Multi Dimensi Berkratifitas Manusia, Bandung: Sinar Baru 1988
Swasono Sri Edi. Kasus Manusia Indonesia Dalam Pembangunan Jurnal Pustaka No 8tahun 11. Hlm:38
Suryana. 2001. Kewirausahaan. Jakarta: Salemba Empat
Kasali Rhenald. 2010. Modul Kewirausahaan.  Jakarta Selatan : PT Mizan Publika
Drucker Petter ..Innovation And Entrepreneurship (New York:Harper Dan Row.1985) hlm: 20
McClelland, D. 1987. Pengantar Kewirausahaan. Jakarta: Intermedia.



[1] Oetami, Noer Dewi. 2009. Acuan Pengayaan Ekonomi. Solo: CV Sindhuhanata.
[2] Suharyadi, dkk. 2011. Kewirausahaan, Jakarta : Salemba Empat
[3] Shadily,Hassan .Ensiklopedi Indonesia jilid 4( Jakarta:Ichtion Van Hoeve.1987)  .Hlm:29.
[4] Sahlan Sulaiman dan Misman.Multi Dimensi Berkratifitas Manusia.(Bandung:Sinar Baru 1988). Hlm:5
[5]  Suryana op cit.hlm 2
[6]  Swasono Sri Edi. Kasus Manusia Indonesia Dalam Pembangunan Jurnal Pustaka No 8tahun 11. Hlm:38
[7] Suryana.Kewirausahaan. (Jakarta: Salemba Empat, 2001).Hlm 5

[8] ] Kasali Rhenald.2010. Modul Kewirausahaan. Jakarta Selatan : PT Mizan Publika. Hal: 43


[9] Suryana. 2006. Kewirausahaan (Pedoman Praktis: Kiat dan Proses Menuju Sukses). Jakarta: Penerbit Salemba Empat, hal: 39

[10]  Suryana.Kewirausahaan. (Jakarta: Salemba Empat, 2001).,hlm: 2-3
[11] Drucker Petter ..Innovation And Entrepreneurship (New York:Harper Dan Row.1985) hlm: 20
[12] McClelland, D. (1987). Pengantar Kewirausahaan. Jakarta: Intermedia. Hal: 165

Tidak ada komentar:

Posting Komentar