MAKALAH
KEWIRAUSAHAAN
PELUANG USAHA, KREATIVITAS DAN INOVASI
OLEH
KELOMPOK I
MEDIKA YUNITA :
131 614 0393
M. YAYUS SUTRISNO : 131
614 0304
RANDY FEBDIAWAN :
IHSAN KHARISWANTHONI :
DOSEN
SALAMAH
Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam Prodi
Perbankan Syariah
Institut Agama Islam Negeri ( IAIN )
BENGKULU
2014
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Banyak dari mereka yang
tidak mempunyai latar belakang usaha bisnis kuliner namun ikut terjun di dunia
ini. Jadi, jika mereka bisa, kita juga pasti bisa dong? Mereka yang berhasil
dalam mengelola usaha kuliner mengganggap membuka dan menjalankan usaha kuliner
bukanlah hal yang gampang. Butuh usaha dengan kerja keras, usaha yang
dijalankan selama 12 jam dalam sehari 7 hari dalam seminggu.
Bisnis kuliner adalah
rangkaian kegiatan yang secara terus menerus melibatkan semua bidang pengadaan
peralatan dan bahan mentah, kontrol kualitas untuk bahan dan produksi,
standarisasi resep dan proses, berurusan dengan segi hukum, promosi, keluhan
pelanggan, dekorasi, identitas dan citra, penanganan pegawai, strategi harga,
variasi dan inovasi menu, serta masih banyak lagi. Bagi para pecinta makanan
alias yang hobi makan, peluang usaha makanan pasti bisa menjadi salah satu
pilihan bagi kita yang ingin memulai usaha. Suatu usaha akan dapat maju dan
berkembang jika berangkat dari sebuah hobi. Hobi makan, usaha kuliner tentu
menjadi pilihannya.
B. Rumusan masalah
1. Apakah pengertian peluang usaha?
2. Apa pengertian kreativitas?
3. Apa pengertian invoasi?
C. Tujuan
1. Menjelaskan Apakah pengertian peluang usaha?
2. Menjelaskan Apa pengertian kreativitas?
3. Menjelaskan Apa pengertian invoasi?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Peluang Usaha
Masih banyak yang salah
kaprah tentang pengertian peluang usaha, karena selama ini peluang usaha
diartikan sebagai sebuah peluang usaha yang menjanjikan dan akan mendapatkan
keuntungan yang sebesar-besarnya, hal itu merupakan harapan untuk anda yang
menekuni usaha.
Bahwa pengertian
peluang usaha itu, esensinya adalah asas manfaat. Semua kondisi yang di
tawarkan kepada anda, adalah penawaran terhadap sebuah aktifitas bisnis yang
pantas untuk anda geluti dan tentu saja bisa memberikan keuntungan yang luar
biasa kepada anda. Dengan catatan, jika peluang usaha yg dimaksud
benar-benar di manfaatkan dan di kemas sedemikian rupa sehingga bisa
memberikan manfaat yang di harapkan.[1]
Lalu bagaimana jika hal
itu berlaku sebaliknya. Dengan menggunakan logika terbalik. Bahwa tidak semua
peluang usaha yang anda anggap tepat, benar-benar bisa klop dengan apa yang
anda harapkan.
Karena perlu juga di
garis bawahi, bahwa pengertian peluang usaha adalah sebuah ruang kreasi yg
independent dan mandiri. Dan bukanlah sebuah kegiatan yang ikut-ikutan demi
mengikuti sebuah trend dan gaya hidup semata. Contohnya ada teman anda yg
berbisnis XX anda ikutan juga bisnis XX. karena menurut teman anda, bisnis XX
adalah Peluang Usaha! Bisnis ini sangat menjanjikan dan prospektif. Padahal
belum tentu bisnis XX cocok dengan anda.
1. Pengertian Peluang Usaha
Peluang usaha ialah kesempatan atau waktu yang tepat yang seharusnya di
ambil atau dimanfaatkan bagi seorang wirausahawan untuk mendapat keuntungan.
Peluang Bisnis/Usaha ini merupakan kesempatan yang pasti bisa didapatkan
seseorang atau lebih dengan mengandalkan potensi diri yang ada dan dengan
memanfaatkan berbagai kesempatan baik itu peluang usaha apa saja, yang bisa
dengan sigap kita ambil.
Peluang usaha dapat muncul dari hobi kita sendiri, yang sebelumnya mungkin
Anda tidak sadar bahwa hobi Anda bisa dijadikan sebagai usaha. Kalau hobi atau
bidang yang Anda kuasai saat ini belum layak untuk dijadikan peluang usaha,
Anda membutuhkan ide-ide yang menimbulkan peluang usaha. Bagaimana cara
menimbulkan ide itu? Ide yang berpeluang usaha bisa didapatkan dari hal-hal
seperti berikut ini.
a.
Cita-cita. Peluang bisa
muncul dari cita-cita Anda sendiri. Bila keinginan Anda untuk menjadi seorang
pengusaha sangat kuat, maka Anda akan melihat peluang-peluang di hampir semua
bidang. Hampir setiap apa yang dilihat adalah peluang usaha. Atau setidaknya,
Anda secara naluri akan berupaya mencari peluang di suatu jenis usaha. Hal ini
tidak akan terjadi pada orang yang tidak memiliki cita-cita menjadi seorang
pengusaha.
b.
Tekanan. Bila seseorang
menghadapi tekanan maka banyak gagasan yang mucul. Tekanan bisa datang dari
luar, bisa pula diciptakan oleh diri sendiri. Ketika seseorang mendapatkan
tekanan untuk bisa hidup dan menghidupi keluarganya, biasanya dia akan banyak
berpikir untuk mendapatkan solusinya.
c.
Kecenderungan pasar.
Mengamati kebutuhan konsumen di pasar dapat menimbulkan peluang usaha. Contoh,
kecendrungan sebagian orang akan belanja langsung ke pabrik dengan harga murah.
Maka muncullah factory outlet di mana-mana. Dengan berbagai promosi maka FO
menawarkan barang dengan harga murah dengan kualitas barang yang dapat dijamin.
d.
Inovasi baru. Gagasan
untuk menciptakan produk baru timbul karena adanya kebutuhan, sementara produk
itu belum ada di pasaran. Apabila kita berhasil menciptakan produk tersebut dan
dibutuhkan konsumen maka kita dapat menjadi yang pertama dan menguasai usaha
tersebut (leader).
e.
Komplemen dari produk
yang ada. Sebuah produk dapat memberikan peluang usaha dengan membuat
produk-produk yang melengkapinya, biasanya berupa aksesori. Produk otomotif
seperti mobil biasanya disertai dengan produk aksesori yang menyertainya.
Seperti diketahui, aksesori semacam ini bisa menjadi peluang bagi si pembuat
produk maupun perusahaan.
f.
Peristiwa yang digemari
atau munculnya tokoh. Suatu peristiwa bisa menimbulkan peluang baru. Contoh,
adanya musim kompetisi sepak bola, muncul produk-produk seperti t-shirt yang
bergambar piala, pemain sepak bola favorit, dan lain-lain.
g.
Wawasan. Orang yang
wawasannya luas, pergaulannya luas dan dia mau berpikir, maka akan menemukan
peluang usaha. Misalnya seseorang yang sering melihat usaha yang dilakukan di
luar negeri (bisa didapatkan dari media massa atau berkunjung) dan usaha
tersebut belum ada di negaranya, ini merupakan cara untuk mendapatkan peluang
usaha.
h.
Bahan bacaan. Membaca,
selain menambah wawasan dan pengetahuan, juga bisa menimbulkan gagasan yang
mengandung peluang usaha. Bahan bacaan bisa
dari berbagai media. Bila Anda memang sedang berpikir keras mencari peluang,
ketika Anda membaca iklan produk barang atau jasa, ada kemungkinan Anda
mendapatkan peluang usaha.
i.
Ide yang muncul tiba-tiba. Kadang kala gagasan
bisa muncul tiba-tiba, di mana saja dan kapan saja. Hampir setiap orang
mengalaminya. Tetapi tidak banyak orang yang bisa mewujudkan gagasan menjadi
usaha nyata yang membawa keuntungan. Kebanyakan orang melupakan ide-ide yang
tiba-tiba muncul, dia tidak bisa melihat bahwa idenya bisa menjadi suatu
peluang usaha.
2. Menangkap Peluang Usaha
Untuk menggali dan memanfaatkan peluang usaha ,seorang wirausaha harus
berpikir secara positif dan kreatif, diantaranya[2] :
a.
Harus percaya dan yakin
dengan usahanya
b.
Menerima
gagasan-gagasan baru
c.
Berintropeksi diri
d.
Bersifat terbuka
e.
Etos kerja tinggi
f.
Pandai berkomunikasi
Dengan tersedianya
informasi internal dan eksternal, maka wirausahawan dapat mengetahui :
a.
Peluang (opportunity)
b.
Ancaman usaha (threat)
c.
Kekuatan (strength)
d.
Kelemahan (weakness)
3. Resiko Usaha
Beberapa risiko
bisnis/usaha yang mungkin terjadi, sebagai berikut :
a.
Perubahan permintaan
b.
Perubahan konjugtur
c.
Persaingan
d.
Akibat lain, seperti
perubahan teknologi,peraturan,bencana dll.
B.
Kreativitas
Kreativitas
merupakan daya menciptakan sesuatu yang menuntut pemusatan perhatian, kemauan,
kerja keras dan ketekunan[3].
Menurut Sulaiman Sahlan dan Maswan, kreativitas adalah ide atau gagasan dan
kemampuan berpikir kreatif.[4]
Sementara itu dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia yang dimaksud dengan
kreativitas ialah kemampuan untuk mencipta daya cipta. Menurut Zimmer
kretivitas adalah kemampuan untuk mengembangkan ide-ide baru dan cara-cara baru
dalam pemecahan masalah dan menemukan peluang (thinking new thing)[5]
Dari
definisi di atas dapat disimpulkan bahwa kreativitas merupakan kemampuan
seseorang dalam menuangkan ide atau gagasan melalui proses berpikir kreatif
untuk menciptakan sesuatu yang menuntut pemusatan, perhatian, kemauan, kerja
keras dan ketekunan. Sedangkan yang dimaksud dengan wirausaha adalah pengusaha,
tetapi tidak semua pengusaha adalah wirausaha. Wirausaha adalah pionir dalam
bisnis, inovator, penanggung resiko yang mempunyai penglihatan visi ke depan
dan memiliki keunggulan dalam berprestasi di bidang usaha.[6] Sementara itu menurut Prawirokusumo wirausaha adalah
mereka yang melakukan upaya-upaya kreatif dan inovatif dengan jalan
mengembangkan ide dan meramu sumber daya untuk menemukan peluang (opportunity)
dan perbaikan (preparation) hidup. Senada dengan pendapat di atas, menurut Suryana, enterpreneur
atau wirausaha adalah seseorang yang memiliki kombinasi unsur-unsur (elemen-elemen)
internal yang meliputi kombinasi motivasi diri, visi, komunikasi,
optimisme, dorongan semangat, dan kemampuan untuk memanfaatkan peluang
usaha.[7]
1.
Definisi Kerativitas
a.
Menurut
NACCCE (National Advisory Committee on Creative and Cultural Education) (dalam
Craft, 2005), kreativitas adalah aktivitas imaginatif yang menghasilkan hasil
yang baru dan bernilai.
b.
Feldman
(dalam Craft, 2005) medefinisikan kreativitas adalah: “the achievement of
something remarke and new, something which transforms and changes a field of
endeavor in a significant way ... the kinds of things that people do that
change the world.”
c.
Menurut
Munandar (1985), kreativitas adalah kemampuan untuk membuat kombinasi baru,
berdasarkan data, informasi atau unsur-unsur yang ada. Hasil yang diciptakan
tidak selalu hal-hal yang baru, tetapi juga dapat berupa gabungan (kombinasi)
dari hal-hal yang sudah ada sebelumnya.
d.
Csikszentmihalyi
(dalam Clegg, 2008) menyatakan kreativitas sebagai suatu tindakan, ide, atau
produk yang mengganti sesuatu yang lama menjadi sesuatu yang baru.
e.
Guiford
(dalam Munandir, 2009) menyatakan kreativitas merupakan kemampuan berpikir
divergen atau pemikiran menjajaki bermacam-macam alternatif jawaban terhadap
suatu persoalan, yang sama benarnya (Guilford, dalam Munandar 2009).
f.
Menurut
Rogers (dalam Zulkarnain, 2002), kreativitas merupakan kecenderungan-kecenderungan
manusia untuk mengaktualisasikan dirinya sesuai dengan kemampuan yang
dimilikinya.
Campbell (dalam Manguhardjana, 1986) mengemukakan kreativitas
sebagai kegiatan yang mendatangkan hasil yang sifatnya:
a.
Baru
atau novel, yang diartikan sebagai inovatif, belum ada sebelumnya, segar, menarik,
aneh dan mengejutkan.
b.
Berguna
atau useful, yang diartikan sebagai lebih enak, praktis, mempermudah,
mendorong, mengembangkan, mendidik, memecahkan masalah, mengurangi hambatan,
mengatasi kesulitan, mendatangkan hasil yang baik.
c.
Dapat
dimengerti atau understandable, yang diartikan hasil yang sama dapat dimengerti
dan dapat dibuat dilain waktu, tau sebaliknya peristiwa-peristiwa yang terjadi
begitu saja, tak dapat dimengerti, tak dapat diramalkan dan tak dapat diulangi.
Beragamnya pendapat para ahli akan pengertian kreativitas, maka dapat
disimpulkan bahwa kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk menghasilkan
suatu produk yang baru ataupun kombinasi dari hal-hal yang sudah ada
sebelumnya, yang berguna, serta dapat dimengerti.
2.
Ciri-Ciri Kreativitas
Guilford (dalam
Munandar, 2009) mengemukakan ciri-ciri dari kreativitas antara lain:
a.
Kelancaran
berpikir (fluency of thinking), yaitu kemampuan untuk menghasilkan banyak ide
yang keluar dari pemikiran seseorang secara cepat. Dalam kelancaran berpikir,
yang ditekankan adalah kuantitas, dan bukan kualitas.
b.
Keluwesan
berpikir (flexibility), yaitu kemampuan untuk memproduksi sejumlah ide,
jawaban-jawaban atau pertanyaan-pertanyaan yang bervariasi, dapat melihat suatu
masalah dari sudut pandang yang berbeda-beda, mencari alternatif atau arah yang
berbeda-beda, serta mampu menggunakan bermacam-macam pendekatan atau cara
pemikiran. Orang yang kreatif adalah orang yang luwes dalam berpikir. Mereka
dengan mudah dapat meninggalkan cara berpikir lama dan menggantikannya dengan
cara berpikir yang baru.
c.
Elaborasi
(elaboration), yaitu kemampuan dalam mengembangkan gagasan dan menambahkan atau
memperinci detail-detail dari suatu objek, gagasan atau situasi sehingga
menjadi lebih menarik.
d.
Originalitas
(originality), yaitu kemampuan untuk mencetuskan gagasan unik atau kemampuan untuk
mencetuskan gagasan asli.
3.
Faktor-Faktor yang mempengaruhi kreativitas
Menurut Rogers
(dalam Munandar, 2009), faktor-faktor yang dapat mendorong terwujudnya
kreativitas individu diantaranya:
a.
Dorongan
dari dalam diri sendiri (motivasi intrinsik)
Menurut Roger, setiap individu memiliki kecenderungan atau dorongan dari dalam dirinya untuk berkreativitas, mewujudkan potensi, mengungkapkan dan mengaktifkan semua kapasitas yang dimilikinya. Dorongan ini merupakan motivasi primer untuk kreativitas ketika individu membentuk hubungan-hubungan baru dengan lingkungannya dalam upaya menjadi dirinya sepenuhnya. Hal ini juga didukung oleh pendapat Munandar (2009) yang menyatakan individu harus memiliki motivasi intrinsik untuk melakukan sesuatu atas keinginan dari dirinya sendiri, selain didukung oleh perhatian, dorongan, dan pelatihan dari lingkungan.
Menurut Rogers (dalam Zulkarnain, 2002), kondisi internal (interal press) yang dapat mendorong seseorang untuk berkreasi diantaranya:
Menurut Roger, setiap individu memiliki kecenderungan atau dorongan dari dalam dirinya untuk berkreativitas, mewujudkan potensi, mengungkapkan dan mengaktifkan semua kapasitas yang dimilikinya. Dorongan ini merupakan motivasi primer untuk kreativitas ketika individu membentuk hubungan-hubungan baru dengan lingkungannya dalam upaya menjadi dirinya sepenuhnya. Hal ini juga didukung oleh pendapat Munandar (2009) yang menyatakan individu harus memiliki motivasi intrinsik untuk melakukan sesuatu atas keinginan dari dirinya sendiri, selain didukung oleh perhatian, dorongan, dan pelatihan dari lingkungan.
Menurut Rogers (dalam Zulkarnain, 2002), kondisi internal (interal press) yang dapat mendorong seseorang untuk berkreasi diantaranya:
Ø Keterbukaan terhadap pengalaman Keterbukaan terhadap pengalaman
adalah kemampuan menerima segala sumber informasi dari pengalaman hidupnya
sendiri dengan menerima apa adanya, tanpa ada usaha defense, tanpa kekakuan
terhadap pengalaman-pengalaman tersebut dan keterbukaan terhadap konsep secara
utuh, kepercayaan, persepsi dan hipotesis. Dengan demikian individu kreatif
adalah individu yang mampu menerima perbedaan.
Ø Kemampuan untuk menilai situasi sesuai dengan patokan pribadi
seseorang (internal locus of evaluation) Pada dasarnya penilaian terhadap
produk ciptaan seseorang terutama ditentukan oleh diri sendiri, bukan karena
kritik dan pujian dari orang lain. Walaupun demikian individu tidak tertutup
dari kemungkinan masukan dan kritikan dari orang lain.
Ø Kemampuan untuk bereksperimen atau “bermain” dengan konsep-konsep.
b.
Dorongan
dari lingkungan (motivasi ekstrinsik) Munandar (2009) mengemukakan bahwa
lingkungan yang dapat mempengaruhi kreativitas individu dapat berupa lingkungan
keluarga, sekolah, dan masyarakat[8]. Lingkungan keluarga merupakan kekuatan yang penting dan merupakan
sumber pertama dan utama dalam pengembangan kreativitas individu. Pada
lingkungan sekolah, pendidikan di setiap jenjangnya mulai dari pra sekolah
hingga ke perguruan tinggi dapat berperan dalam menumbuhkan dan meningkatkan
kreativitas individu. Pada lingkungan masyarakat, kebudayaan-kebudayaan yang
berkembang dalam masyarakat juga turut mempengaruhi kreativitas individu.
Rogers (dalam Munandar, 2009) menyatakan kondisi lingkungan yang dapat
mengembangkan kreativitas ditandai dengan adanya[9]:
1.
Keamanan
psikologis Keamanan psikologis dapat terbentuk melalui 3 proses yang saling
berhubungan, yaitu:
a.
Menerima
individu sebagaimana adanya dengan segala kelebihan dan keterbatasannya.
b.
Mengusahakan
suasana yang didalamnya tidak terdapat evaluasi eksternal (atau
sekurang-kurangnya tidak bersifat atau mempunyai efek mengancam.
c.
Memberikan
pengertian secara empatis, ikut menghayati perasaan, pemikiran, tindakan
individu, dan mampu melihat dari sudut pandang mereka dan menerimanya.
2.
Kebebasan
psikologis, Lingkungan yang bebas secara psikologis, memberikan kesempatan
kepada individu untuk bebas mengekspresikan secara simbolis pikiran-pikiran
atau perasaan-perasaannya.
Munandar (dalam Zulkarnain, 2002)
menyatakan faktor-faktor yang mempengaruhi kreativitas dapat berupa kemampuan
berpikir dan sifat kepribadian yang berinteraksi dengan lingkungan tertentu.
Faktor kemampuan berpikir terdiri dari kecerdasan (inteligensi) dan pemerkayaan
bahan berpikir berupa pengalaman dan ketrampilan. Faktor kepribadian terdiri
dari ingin tahu, harga diri dan kepercayaan diri, sifat mandiri, berani
mengambil resiko dan sifat asertif.
4.
Tahap-Tahap perkembangan kreativitas
Menurut Cropley
(1999), terdapat 3 tahapan perkembangan kreativitas diantaranya:
a.
Tahap
prekonvensional (Preconventional phase) Tahap ini terjadi pada usia 6–8 tahun.
Pada tahap ini, individu menunjukkan spontanitas dan emosional dalam
menghasilkan suatu karya, yang kemudian mengarah kepada hasil yang aestetik dan
menyenangkan. Individu menghasilkan sesuatu yang baru tanpa memperhatikan
aturan dan batasan dari luar.
b.
Tahap
konvensional (Conventional phase) Tahap ini berlangsung pada usia 9–12 tahun.
Pada tahap ini kemampuan berpikir seseorang dibatasi oleh aturan-aturan yang
ada sehingga karya yang dihasilkan menjadi kaku. Selain itu, pada tahap ini
kemampuan kritis dan evaluatif juga berkembang.
c.
Tahap
poskonvensional (Postconventional phase) Tahap ini berlangsung pada usia 12
tahun hingga dewasa. Pada tahap ini, individu sudah mampu menghasilkan
karya-karya baru yang telah disesuaikan dengan batasan-batasan eksternal dan
nilai-nilai konvensional yang ada di lingkungan.
C.
Inovasi
Inovasi
adalah kemampuan untuk menerapkan kreatifitas dalam rangka pemecahan masalah
dan menemukan peluang (doing new thing)[10] inovasi merupakan fungsi utama dalam proses
kewirausahaan. Peter Druckermengatakan inovasi memiliki fungsi yang khas
bagi wirausahawan. Dengan inovasi wirausahawan menciptakan baik sumberdaya
produksi baru maupun pengelolahan sumber daya yang ada dengan peningkatan nilai
potensi untuk menciptakan sesuatu yang tidak ada menjadi ada.[11]
1.
Pengertian
a.
Menurut
Schumpeter (1934) inovasi adalah mengkreasikan dan mengimplementasikan sesuatu
menjadi satu kombinasi. Dengan inovasi maka seseorang dapat menambahkannilai
dari produk, pelayanan, proses kerja, pemasaran,sistem pengiriman, dan
kebijakan, tidak hanya bagiperusahaan tapi juga stakeholder dan masyarakat
(dalam de Jong & Den Hartog, 2003).
b.
Menurut
Zimmerer dan Scarborough (2005), inovasi merupakan kemampuan untuk menerapkan
solusi yang kreatif terhadap suatu permasalahan berikut dengan peluang untuk
meningkatkan atau untuk memperkaya kehidupan seseorang. Entrepreneur adalah
inovator, bukan hanya sekedarinventor. Ia tidak hanya berhenti sampai pada
prosespenciptaan atau penemuan ide, tapi melanjutkannyauntuk dapat
direalisasikan kedalam bentuk inovasi.
2.
Perilaku yang Inovatif
Pengertian
perilaku inovatif menurut Wess & Farr (dalam De Jong & Kemp, 2003)
adalah semua perilaku individu yang diarahkan untuk menghasilkan,
memperkenalkan, dan mengaplikasikan hal-hal ‘baru’, yang bermanfaat dalam
berbagai level organisasi. Beberapa peneliti menyebutnya sebagai shop-floor
innovation[12].
Perilaku
inovatif adalah semua perilaku individu yang diarahkan untuk menghasilkan dan
mengimplementasikan hal-hal ‘baru’, yang bermanfaat dalam berbagai level
organisasi; yang terdiri dari dua dimensi yaitu kreativitas dan pengambilan
resiko dan proses inovasinya bersifat inkremental.
3.
Karakter Individu yang Berperilaku
Inovatif
a.
Memiliki
keinginan yang kuat untuk menambah pengetahuan dan berusaha mengenali
sebab-sebab dari segala sesuatu.
b.
Dia
selalu mencari dan menulis setiap ide baru yang akan mempermudah pekerjaannya
dan meningkatkan kualitas dirinya.
c.
Melontarkan
ide-ide kepada orang lain untuk didiskusikan bersama.
d.
Berfikir
dengan menggunakan berbagai cara.
e.
Tidak
akan terpengaruh oleh hinaan, ejekan, atau gentar dengan rintangan. Dia akan
terus mengamati, dan berusaha mencari temuan-temuan baru.
f.
Tidak
mau menerima rutinitas yang membuatnya stagman.
g.
Seorang
yang berjiwa inovatif tidak pernah merasa bosan berusaha (ulet)
h.
Tidak
takut melakukan kesalahan.
i.
Memandang
setiap kesulitan adalah sebagai jalan pembuka untuk menuju sukses.
4.
Tahapan prilaku Inovatif
De Jong &
Den Hartog (2003) merinci lebih mendalam proses inovasi dalam 4 tahap yaitu:
a.
Melihat
kesempatan bagi karyawan untuk mengidentifikasi kesempatan.
Kesempatan dapat berawal dari ketidakkongruenan dan diskontinuitas yang terjadi karena adanya ketidaksesuaian dengan pola yang diharapkan misalnya timbulnya masalah pada pola kerja yang sudah berlangsung,adanya kebutuhan konsumen yang belum terpenuhi,atau adanya indikasi trends yang sedang berubah.
Kesempatan dapat berawal dari ketidakkongruenan dan diskontinuitas yang terjadi karena adanya ketidaksesuaian dengan pola yang diharapkan misalnya timbulnya masalah pada pola kerja yang sudah berlangsung,adanya kebutuhan konsumen yang belum terpenuhi,atau adanya indikasi trends yang sedang berubah.
b.
Mengeluarkan
ide.
Dalam fase ini,
karyawan mengeluarkan konsep baru dengan tujuan menambah peningkatan. Hal ini
meliputi mengeluarkan ide sesuatu yang baru atau memperbaharui pelayanan,
pertemuan dengan klien dan teknologi pendukung. Kunci dalam mengeluarkan ide
adalah mengkombinasikan dan mereorganisasikan informasi dan konsep yang telah
ada sebelumnya untuk memecahkan masalah dan atau meningkatkan kinerja. Proses
inovasi biasanya diawali dengan adanya kesenjangan kinerja yaitu
ketidaksesuaian antara kinerja aktual dengan kinerja potensial.
c.
Implementasi.
Dalam fase ini, ide ditransformasi terhadap hasil yang konkret. Pada tahapan ini sering juga disebut tahapan konvergen.Untuk mengembangkan ide dan mengimplementasikan ide, karyawan harus memiliki perilaku yang mengacu pada hasil.Perilaku inovasi Konvergen meliputi usaha menjadi juara dan bekerja keras.Seorang yang berperilaku juara mengeluarkan seluruh usahanya pada ide kreatif.Usaha menjadi juara meliputi membujuk dan mempengaruhi karyawan dan juga menekan dan bernegosiasi.Untuk mengimplementasikan inovasi sering dibutuhkan koalisi, mendapatkan kekuatan dengan menjual ide kepada rekan yang berpotensi.
Dalam fase ini, ide ditransformasi terhadap hasil yang konkret. Pada tahapan ini sering juga disebut tahapan konvergen.Untuk mengembangkan ide dan mengimplementasikan ide, karyawan harus memiliki perilaku yang mengacu pada hasil.Perilaku inovasi Konvergen meliputi usaha menjadi juara dan bekerja keras.Seorang yang berperilaku juara mengeluarkan seluruh usahanya pada ide kreatif.Usaha menjadi juara meliputi membujuk dan mempengaruhi karyawan dan juga menekan dan bernegosiasi.Untuk mengimplementasikan inovasi sering dibutuhkan koalisi, mendapatkan kekuatan dengan menjual ide kepada rekan yang berpotensi.
d.
Aplikasi.
Dalam fase ini meliputi perilaku karyawan yang ditujukan untuk membangun, menguji, dan memasarkan pelayanan baru. Hal ini berkaitan dengan membuat inovasi dalam bentuk proses kerja yang baru ataupun dalam proses rutin yang biasa dilakukan.
Dalam fase ini meliputi perilaku karyawan yang ditujukan untuk membangun, menguji, dan memasarkan pelayanan baru. Hal ini berkaitan dengan membuat inovasi dalam bentuk proses kerja yang baru ataupun dalam proses rutin yang biasa dilakukan.
Adair (1996) mengatakan ada 3 fase dalam proses inovasi sebagai
berikut:
a.
Generating
ideas.
Keterlibatan
individu dan tim dalam menghasilkan ide untuk memperbaiki produk, proses dan
layanan yang ada dan menciptkaan sesuatu yang baru.
b.
Harvesting ideas.
Melibatkan
sekumpulan orang untuk mengumpulkan dan mengevaluasi ide-ide.
c.
Developing
and implementing these ideas.
Mengembangkan
ide-ide yang telah terkumpul dan selanjutnya mengimplementasikan ide tersebut.
5.
Prinsip Inovasi
Drucker (1985)
mengatakan bahwa dalam melakukan inovasi perlu memperhatikan prinsip-prinsip
sebagai berikut:
a. Sesuatu yang harus dilakukan adalah:
1. Menganalisis peluang
2. Apa yang harus dilakukan untuk memuaskan peluang
3. Sederhana dan terarah
4. Dimulai dari yang kecil
5. Kepemimpinan
b.
Sesuatu
yang tidak harus dilakukan:
1.
mencoba
untuk menjadi yang pandai
2.
mencoba
ingin mengerjakan sesuatu yang banyak
3.
mencoba
inovasi untuk masa yang akan datang
c.
Kondisi:
1.
Memerlukan
ilmu pengetahuan
2.
Membangun keunggulannya sendiri
3.
Inovasi
adalah efek dari ekonomi dan masyarakat
6.
Tipe Inovasi
Ada 5 tipe
inovasi menurut para ahli, yaitu:
a.
Inovasi
produk; yang melibatkan pengenalan barang baru dan pelayanan baru yang secara substansial
meningkat. Melibatkan peningkatan karakteristik fungsi juga kemampuan teknisi
yang mudah dalam menggunakannya. Contohnya: telepon genggam, komputer,
kendaraan bermotor, dsb.
b.
Inovasi
proses; melibatkan implementasi peningkatan kualitas produk yang baru atau
pengiriman barangnya.
c.
Inovasi
pemasaran; mengembangkan metode mencari pangsa pasar baru dengan meningkatkan
kualitas desain, pengemasan dan promosi.
d.
Inovasi
organisasi; kreasi organisasi baru, praktek bisnis, cara menjalankan organisasi
atau perilaku berorganisasi.
e.
Inovasi
model bisnis; mengubah cara berbisnis berdasarkan nilai yang dianut.
7.
Sumber Inovasi
Terdapat dua
sumber utama inovasi , yaitu:
a.
Secara
tradisional, sumbernya adalah inovasi fabrikasi. Hal tersebut karena agen
(orang atau bisnis) berinovasi untuk menjual hasil inovasinya.
b.
Inovasi
pengguna; hal tersebut dimana agen (orang atau bisnis) mengembangkan inovasi
sendiri (pribadi atau di rumahnya sendiri), hal itu dilakukan karena produk
yang dipakainya tidak memenuhi apa yang dibutuhkannya.
8.
Tujuan Inovasi
Tujuan utama
inovasi adalah:
a.
Meningkatkan
Kualitas;
b.
Menciptakan
Pasar Baru;
c.
Memperluas
Jangkauan Produk;
d.
Mengurangi
Biaya Tenaga Kerja;
e.
Meningkatkan
Proses Produksi;
f.
Mengurangi
Bahan Baku;
g.
Mengurangi
Kerusakan Lingkungan;
h.
Mengganti
Produk Atau Pelayanan;
i.
Mengurangi
Konsumsi Energi;
j.
Menyesuaikan
Diri Dengan Undang-Undang;
9.
Kegagalan Inovasi
Hasil survey
menunjukkan, bahwa dari 3000 ide tentang sebuah produk, hanya satu yang sukses
di pasaran. Kegagalan inovasi mengakibatkan hilangnya sejumlah nilai investasi,
menurunkan moral pekerja, meningkatkan sikap sinis, atau penolakan produk
serupa yang ada, padahal produk yang
gagal seringkali memiliki potensi sebagai ide yang baik, penolakan terjadi
karena kurangnya modal, keahlian yang kurang, atau produk tidak sesuai
kebutuhan pasar. Kegagalan harus diidentifikasi dan diseleksi ketika proses
berlangsung. Penyeleksian dini memungkinkan kita dapat menghindari uji coba ide
yang tidak cocok dengan bahan baku sehingga dapat menghemat biaya
produksi.
Penyebab umum
gagalnya suatu proses inovasi, dapat disaring kedalam 5 macam, yaitu:
a.
Definisi
tujuan yang buruk
b.
Buruknya
mensejajarkan aksi untuk mencapai tujuan
c.
Buruknya
partisipasi anggota tim;
d.
Buruknya
pengawasan produk;
e.
Buruknya
komunikasi dan akses informasi.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Aktivitas bisnis sangat memerlukan
orang-orang yang inovatif, kreatif dan cepat tanggap terhadap setiap perubahan.
Para peneliti telah mengatakan bahwa kreativitas menyangkut keputusan-keputusan
Anda tentang apa yang Anda inginkan dan bagaimana Anda melakukannya dengan
lebih baik. Jadi, urutan tersebut melibatkan sebuah proses, bukan hanya melihat
hasil akhir yang diharapkan, sehingga kita tidak perlu merasa sangat terbebani
untuk menjadi kreatif.
Para peneliti telah membedakan tipe
kreativitas dalam kehidupan sehari-hari,yaitu:
a.
Membuat atau menciptakan,
yaitu proses membuat sesuatu dari tidak ada menjadi ada.
b.
Mengombinasikan dua hal atau lebih
yang sebelumnya tidak saling berkaitan menjadi lebih bermanfaat.
c.
Memodifikasi sesuatu yang memang
sudah ada. Proses ini menggunakan berbagai cara untuk membentuk fungsi-fungsi
baru atau menjadikan sesuatu menjadi lebih berguna bagi orang lain
Demikian kesimpulan yang dapat kami
uraikan. Inovatif dan kreatif adalah 2 hal penting yang menjadi penyeimbang
dalam rangka mengelola wirausaha secara berkesinambungan dan akan selalu
diterima dimasyarakat karena pembaharuan kreasi dan inovasi slalu dilakukan
demi kepuasan konsumen.
DAFTAR
PUSTAKA
Oetami, Noer Dewi. 2009. Acuan Pengayaan Ekonomi. Solo: CV
Sindhuhanata.
Suharyadi, dkk. 2011. Kewirausahaan, Jakarta : Salemba Empat
Shadily,Hassan .1987. Ensiklopedi Indonesia jilid 4, Jakarta:
Ichtion Van Hoeve
Sahlan Sulaiman dan Misman.1988. Multi Dimensi Berkratifitas
Manusia, Bandung: Sinar Baru 1988
Swasono Sri Edi. Kasus Manusia Indonesia Dalam Pembangunan Jurnal
Pustaka No 8tahun 11. Hlm:38
Suryana. 2001. Kewirausahaan. Jakarta: Salemba Empat
Kasali Rhenald. 2010. Modul Kewirausahaan. Jakarta Selatan : PT Mizan Publika
Drucker Petter ..Innovation And Entrepreneurship (New
York:Harper Dan Row.1985) hlm: 20
McClelland, D. 1987. Pengantar Kewirausahaan. Jakarta:
Intermedia.
[1] Oetami, Noer
Dewi. 2009. Acuan Pengayaan Ekonomi. Solo: CV Sindhuhanata.
[4] Sahlan Sulaiman dan Misman.Multi Dimensi Berkratifitas
Manusia.(Bandung:Sinar Baru 1988). Hlm:5
[5] Suryana op cit.hlm 2
[6] Swasono Sri Edi. Kasus
Manusia Indonesia Dalam Pembangunan Jurnal Pustaka No 8tahun 11. Hlm:38
[7] Suryana.Kewirausahaan. (Jakarta: Salemba Empat,
2001).Hlm 5
[9]
Suryana. 2006. Kewirausahaan (Pedoman Praktis: Kiat dan Proses Menuju Sukses). Jakarta:
Penerbit Salemba Empat, hal: 39
[10] Suryana.Kewirausahaan.
(Jakarta: Salemba Empat, 2001).,hlm: 2-3
[12]
McClelland, D. (1987). Pengantar Kewirausahaan. Jakarta: Intermedia. Hal: 165
Tidak ada komentar:
Posting Komentar