MAKALAH
FILSAFAT UMUM
TENTANG
FILSAFAT
ABAD MODERN ( 16 – 17 M )
Nama: medika yunita
DOSEN
PEMBIMBING : RINI FITRIA
INSTITUT
AGAMA ISLAM NEGERI
FAKULTAS
SYARI’AH DAN EKONOMI ISLAM
PRODI
PERBANKAN SYARI’AH
TAHUN
2013/2014
LOKAL
1C
KATA
PENGANTAR
Asalamualaikum wr.wb, alhaamdulilah berkat rahmat allah S.W.T dan atas karunialanyalah
kami dapat membuat makalah “tentang filsafat pada zaman modaern”
Memahami
filsafat pada zaman modern yang berlangsung
sampai kontenporen atau pascamodernisme tidaklah mudah bagi sebagian orang ataau pun semua
orang ,dikarenakan tidak mudah dalam membuat penggolongannya ,ada berapa
filosof modren tampak lebih individualistis dengan menampilkan indualitasnya
masing-masimng ,hal ini menyulitkan bagi pemula atau kami yang belum atau sama
sekali mengenal dan mempeljarinya . Oleh karena itu ,untuk mempermudah bagi
pemula dalam mengenal dan mempelajarinya dapat dikelompokan menjadi 3 bagian
yaitu : Masa Renaissance, Rasionalisme
,empirisme ,dan kritisme . 4 pokok
bahasana inilah yang akan dibahas dalam makalah ini
Kepada
rekan mahasiswa perbankan dan dosen filsafat kami ucapkaan terima kasih ,dengan
demikian ,keritikkan dari rekan sekalian sangat kami harapkan yeng bersifat
membangun makalah ini agar lebih sempurna ,atas perhaatiannya kami ucapkan
terima kasih
semoga ilmu ini berguna bagi kita semua
amin............ya robilalamin..
Bengkulu,
7 oktober 2013
penulis
ii
DAFTAR
ISI
Kata
pengantar........................................................................................................ii
Daftar
isi .................................................................................................................. iii
Bab
1 pendahuluan
................................................................................................. 1
A. Latar
belakang................................................................................................ 1
B. Tujuan
penulisan............................................................................................ 2
C. Manfaat
penulisan.......................................................................................... 2
Bab
2
pembahasan................................................................................................... 3
A. Filsafat
Modern (Masa Renaissance )............................................................ 3
B. Rasionalisme.................................................................................................. 8
C. Empirisme...................................................................................................... 13
D. Kritisme.......................................................................................................... 16
Bab
3
penutup.......................................................................................................... 17
A. Kesimpulan
................................................................................................... 17
Daftar
pustaka.......................................................................................................... 18
iii
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Tradisi pemikiran
Barat dewasa ini merupakan paradigma bagipengembangan budaya Barat dengan
implikasi yang sangat luas dan mendalam di semua segi dari seluruh lini
kehidupan. Memahami tradisi pemikiran Barat sebagaimana tercermin dalam
pandangan filsafatnya merupakan kearifan tersendiri, karena kita akan dapat
melacak segi-segi positifnya yang layak kita tiru dan menemukan sisi-sisi
negatifnya untuk tidak kita ulangi.
Ditinjau dari sudut
sejarah, filsafat Barat memiliki empat periodisasi. Periodisasi ini didasarkan
atas corak pemikiran yang dominan pada waktu itu. Pertama, adalah zaman Yunani
Kuno, ciri yang menonjol dari filsafat Yunani kuno adalah ditujukannya
perhatian terutama pada pengamatan gejala kosmik dan fisik sebagai ikhtiar guna
menemukan asal mula (arche) yang merupakan unsur awal terjadinya gejala-gejala.
Para filosof pada masa ini mempertanyakan asal usul alam semesta dan jagad
raya, sehingga ciri pemikiran filsafat pada zaman ini disebut kosmosentris.
Kedua, adalah zaman Abad Pertengahan, ciri pemikiran filsafat pada zaman ini di
sebut teosentris. Para filosof pada masa ini memakai pemikiran filsafat untuk
memperkuat dogma-dogma agama Kristiani, akibatnya perkembangan alam pemikiran
Eropa pada abad pertengahan sangat terkendala oleh keharusan untuk disesuaikan
dengan ajaran agama, sehingga pemikiran filsafat terlalu seragam bahkan
dipandang seakan-akan tidak penting bagi sejarah pemikiran filsafat sebenarnya.
Ketiga, adalah zaman Abad Modern, para filosof zaman ini menjadikan manusia
sebagai pusat analisis filsafat, maka corak filsafat zaman ini lazim disebut
antroposentris. Filsafat Barat modern dengan demikian memiliki corak yang
berbeda dengan filsafat Abad Pertengahan. Letak perbedaan itu terutama pada otoritas
kekuasaan politik dan ilmu pengetahuan. Jika pada Abad Pertengahan otoritas
kekuasaan mutlak dipegang oleh Gereja dengan dogma-dogmanya, maka pada zaman
Modern otoritas kekuasaan itu terletak pada kemampuan akal manusia itu sendiri.
Manusia pada zaman modern tidak mau diikat oleh kekuasaan manapun, kecuali oleh
kekuasaan yang ada pada dirinya sendiri yaitu akal. Kekuasaan yang mengikat itu
adalah agama dengan gerejanya
1
serta Raja dengan
kekuasaan politiknya yang bersifat absolut. Keempat, adalah Abad
Kontemporer dengan
ciri pokok pemikiran logosentris, artinya teks menjadi tema sentral diskursus
filsafat.
B.
TUJUAN
PENULISAN
Tujuan
dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui :
1. Untuk mengetahui sejarah filsafat pada
zaman modern.
2. Mengetahui filsafat pada abad 16-17
C.
MANFAAT
PENULISAN
Disamping
untuk memenuhi tugas, penulis berharap makalah ini dapat memberikan tambahan
ilmu pengetahuan yang kita miliki terutama dalam mata kuliah Filsafat Umum.
2
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Filsafat Modern (Masa Renaissance
)
Renaissance
berarti “lahir kembali”. Pengertian riilnya adalah manusia mulai memiliki
kesadaran-kesadaran baru yang mengedepankan nilai dan keluhuran manusia.
Suasana dan budaya berpikirnya memang melukiskan “kembali” kepada semangat
awali, yaitu semangat filsafat Yunani kuno yang mengedepankan penghargaan
terhadap kodrat manusia itu sendiri.
Zaman
renaissance sering disebut sebagai sebagai zaman humanisme, sebab pada abad
pertengahan manusia kurang dihargai sebagai manusia, kebenaran diukur
berdasarkan kebenaran gereja, bukan
menurut yang dibuat oleh manusia. humanisme menghendaki ukuran haruslah
manusia, karena manusia mempunyai kemampuan berpikir, berkreasi, memilih dan
menentukan, maka humanisme menganggap manusia mampu mengatur dirinya dan
mengatur dunianya. Ciri utama renaissance dengan demikian adalah humanisme,
individualisme, lepas dari agama. Manusia sudah mengandalkan akal (rasio) dan
pengalaman (empiris) dalam merumuskan pengetahuan, meskipun harus diakui bahwa
filsafat belum menemukan bentuk pada zaman renaissance, melainkan pada zaman
sesudahnya, yang berkembang pada waktu itu sains, dan penemuan-penemuan dari
hasil pengembangan sains yang kemudian berimplikasi pada semakin ditinggalkan
agama kristen karena semangat humanisme. Fenomena tersebut cukup tampak pada
abad modern.
Filsafat
Barat Pada Masa Renaissance
Tidak
mudah menentukan batas yang jelas mengenai akhir zaman pertengahan dan awal
yang pasti dari zaman modern. Hal ini disebabkan perbedaan pandangan para ahli
sejarah tentang peralihan zaman pertengahan ke zaman modern. Sebagian ahli
sejarah berpendapat bahwa zaman pertengahan berakhir ketika Konstantinopel
ditaklukkan oleh Turki Usmani pada tahun 1453 M. Peristiwa tersebut dianggap
sebagai akhir zaman pertengahan dan titik awal zaman modern.
3
Abad
Pertengahan adalah abad ketika alam pikiran dikungkung oleh Gereja. Dalam
keadaan seperti itu kebebasan pemikiran amat dibatasi, sehingga perkembangan
sains sulit terjadi, demikian pula filsafat tidak berkembang, bahkan dapat
dikatakan bahwa manusia tidak mampu menemukan dirinya sendiri. Oleh karena itu,
orang mulai mencari alternatif.
Dalam
perenungan mencari alternatif itulah
orang teringat pada suatu zaman ketika peradaban begitu bebas dan maju,
pemikiran tidak dikungkung, sehingga sains berkembang, yaitu zaman Yunani kuno.
Pada zaman Yunani kuno tersebut orang melihat kemajuan kemanusiaan telah
terjadi. Kondisi seperti itulah yang hendak dihidupkan kembali.
Tidak
dapat dinafikan bahwa pada abad pertengahan orang telah mempelajari karya-karya
para filosof Yunani dan Latin, namun apa yang telah dilakukan oleh orang pada
masa itu berbeda dengan apa yang diinginkan dan dilakukan oleh kaum humanis.
Para humanis bermaksud meningkatkan perkembangan yang harmonis dari kecakapan
serta berbagai keahlian dan sifat-sifat alamiah manusia dengan mengupayakan
adanya kepustakaan yang baik dan mengikuti kultur klasik Yunani. Para humanis
pada umumnya berpendapat bahwa hal-hal yang alamiah pada diri manusia adalah
modal yang cukup untuk meraih pengetahuan dan menciptakan peradaban manusia.
Tanpa wahyu, manusia dapat menghasilkan karya budaya yang sebenarnya. Dengan
demikian dapat dikatakan bahwa humanisme telah memberi sumbangannya kepada
renaisans untuk menjadikan kebudayaan bersifat alamiah.
Zaman
renaisans banyak memberikan perhatian pada aspek realitas. Perhatian yang
sebenarnya difokuskan pada hal-hal yang bersifat kongkret dalam lingkup alam
semesta, manusia, kehidupan masyarakat dan sejarah. Pada masa itu pula terdapat
upaya manusia untuk memberi tempat kepada akal yang mandiri. Hal ini dibuktikan
dengan perang terbuka terhadap kepercayaan yang dogmatis dan terhadap
orang-orang yang enggan menggunakan akalnya. Asumsi yang digunakan adalah,
semakin besar kekuasaan akal, maka akan lahir dunia baru yang dihuni oleh manusia-manusia
yang dapat merasakan kepuasan atas dasar kepemimpinan akal yang sehat.
4
Zaman
ini juga sering disebut sebagai Zaman Humanisme. Maksud ungkapan tersebut
adalah manusia diangkat dari Abad pertengahan. Pada abad tersebut manusia
kurang dihargai kemanusiaannya. Kebenaran diukur berdasarkan ukuran gereja,
bukan menurut ukuran yang dibuat oleh manusia sendiri. Humanisme menghendaki
ukurannya haruslah manusia, karena manusia mempunyai kemampuan berpikir.
Bertolak
dari sini, maka humanisme menganggap manusia mampu mengatur dirinya sendiri dan
mengatur dunia.
Karena
semangat humanisme tersebut , akhirnya agama Kristen semakin ditinggalkan,
sementara pengetahuan rasional dan sains berkembang pesat terpisah dari agama
dan nilai-nilai spiritual.
Menurut
Mahmud Hamdi Zaqzuq, ada beberapa faktor penting yang mempengaruhi kelahiran Renaisans,
yaitu:
1. Implikasi yang sangat signifikan yang
ditimbulkan oleh gerakan keilmuan dan filsafat. Gerakan tersebut lahir sebagai
hasil dari penerjemahan ilmu-ilmu Islam ke dalam bahasa latin selama dua abad,
yaitu abad ke-13 dan 14. Bahkan sebelumnya telah terjadi penerjemahan
kitab-kitab Arab di bidang filsafat dan ilmu pengetahuan. Hal itu dilakukan
setelah Barat sadar bahwa Arab memiliki kunci-kunci khazanah turas klasik
Yunani.
2. Pasca penaklukan Konstantinopel oleh
Turki Usmani, terjadi migrasi para pendeta dan sarjana ke Italia dan
negara-negara Eropa lainnya. Para sarjana tersebut menjadi pionir-pionir bagi
pengembangan ilmu di Eropa. Mereka secara bahu-membahu menghidupkan turas
klasik Yunani di Florensia, dengan membawa teks-teks dan manuskrip-manuskrip
yang belum dikenal sebelumnya.
3. Pendirian berbagai lembaga ilmiah yang
mengajarkan beragam ilmu.
Selain
itu, ada beberapa faktor yang dikemukakan Slamet Santoso seperti yang dikutip
Rizal Mustansyir, yaitu:
5
1. Hubungan antara kerajaan Islam di
Semenanjung Iberia dengan Prancis membuat para pendeta mendapat kesempatan
belajar di Spanyol kemudian mereka kembali ke Prancis untuk menyebarkan ilmu pengetahuan yang mereka
peroleh di lembaga-lembaga pendidikan di Prancis.
2. Perang Salib (1100-1300 M) yang terulang
enam kali, tidak hanya menjadi ajang peperangan fisik, namun juga menjadikan
para tentara atau serdadu Eropa yang berasal dari berbagai negara itu menyadari
kemajuan negara-negara Islam, sehingga mereka menyebarkan pengalaman mereka itu
sekembalinya di negara-negara masing-masing.
Pada
zaman renaisans ada banyak penemuan di bidang ilmu pengetahuan. Di antara
tokoh-tokohnya adalah:
1. Nicolaus Copernicus (1473-1543)
Ia
dilahirkan di Torun, Polandia dan belajar di Universitas Cracow. Walaupun ia
tidak mengambil studi astronomi, namun ia mempunyai koleksi buku-buku astronomi
dan matematika. Ia sering disebut sebagai Founder of Astronomy. Ia mengembangkan teori bahwa
matahari adalah pusat jagad raya dan bumi mempunyai dua macam gerak, yaitu:
perputaran sehari-hari pada porosnya dan perputaran tahunan mengitari matahari.
Teori itu disebut heliocentric menggeser teori Ptolemaic. Ini adalah
perkembangan besar, tetapi yang lebih penting adalah metode yang dipakai
Copernicus, yaitu metode mencakup penelitian terhadap benda-benda langit dan
kalkulasi matematik dari pergerakan benda-benda tersebut.
2. Galileo Galilei (1564-1642)
Galileo
Galilei adalah salah seorang penemu terbesar di bidang ilmu pengetahuan. Ia
menemukan bahwa sebuah peluru yang ditembakkan membuat suatu gerak parabola,
bukan gerak horizontal yang kemudian berubah menjadi gerak vertikal. Ia
menerima pandangan bahwa matahari adalah pusat jagad raya. Dengan teleskopnya,
ia mengamati jagad raya dan menemukan bahwa bintang Bimasakti terdiri dari
bintang-bintang yang banyak sekali jumlahnya dan masing-masing berdiri sendiri.
Selain itu, ia juga berhasil mengamati bentuk Venus dan menemukan beberapa
satelit Jupiter.
6
3. Francis Bacon (1561-1626)
Francis
Bacon adalah seorang filosof dan politikus Inggris. Ia belajar di Cambridge
University dan kemudian menduduki jabatan penting di pemerintahan serta pernah
terpilih menjadi anggota parlemen. Ia adalah pendukung penggunaan scientific
methods, ia berpendapat bahwa pengakuan tentang pengetahuan pada zaman dahulu
kebanyakan salah, tetapi ia percaya bahwa orang dapat mengungkapkan kebenaran
dengan inductive method, tetapi lebih dahulu harus membersihkan fikiran dari
prasangka yang ia namakan idols (arca).[9] Bacon telah memberi kita pernyataan
yang klasik tentang kesalahan-kesalahan berpikir dalam Idols of the Mind.
Bacon
menolak silogisme, sebab dipandang tanpa arti dalam ilmu pengetahuan karena
tidak mengajarkan kebenaran-kebenaran yang baru.
Ia
juga menekankan bahwa ilmu pengetahuan hanya dapat dihasilkan melalui
pengamatan, eksperimen dan harus berdasarkan data-data yang tersusun. Dengan
demikian Bacon dapat dipandang sebagai peletak dasar-dasar metode induksi
modern dan pelopor dalam usaha sitematisasi secara logis prosedur ilmiah.
Dalam
bidang filsafat, zaman renaisans tidak menghasilkan karya penting bila
dibandingkan dengan bidang seni dan sains. Filsafat berkembang bukan pada zaman
itu, melainkan kelak pada zaman sesudahnya yaitu zaman modern. Meskipun
terdapat berbagai perubahan mendasar, namun abad-abad renaisans tidaklah secara
langsung menjadi lahan subur bagi pertumbuhan filsafat. Baru pada abad ke-17
dengan dorongan daya hidup yang kuat sejak era renaisans, filsafat mendapatkan
pengungkapannya yang lebih jelas. Jadi, zaman modern filsafat didahului oleh
zaman renaisans. Ciri-ciri filsafat renaisans dapat ditemukan pada filsafat
modern. Ciri tersebut antara lain, menghidupkan kembali rasionalisme Yunani,
individualisme, humanisme, lepas dari pengaruh agama dan lain-lain.
Pada
abad ke-17 pemikiran renaisans mencapai kesempurnaannya pada diri beberapa
tokoh besar. Pada abad ini tercapai kedewasaan pemikiran, sehingga ada kesatuan
yang memberi semangat yang diperlukan pada abad-abad berikutnya. Pada masa ini,
yang dipandang sebagai sumber pengetahuan hanyalah apa yang secara alamiah
dapat dipakai manusia, yaitu akal (rasio) dan pengalaman (empiri).
7
Sebagai
akibat dari kecenderungan berbeda dalam memberi penekanan kepada salah satu
dari keduanya, maka pada abad ini lahir dua aliran yang saling bertentangan,
yaitu rasionalisme yang memberi penekanan pada rasio dan empirisme yang memberi
penekanan pada empirisme.
B.
Rasionalisme
Usaha
manusia untuk memberi kemandirian kepada akal sebagaimana yang telah dirintis
oleh para pemikir renaisans, masih berlanjut terus sampai abad ke-17. Abad
ke-17 adalah era dimulainya pemikiran-pemikiran kefilsafatan dalam artian yang
sebenarnya.
Semakin
lama manusia semakin menaruh kepercayaan yang besar terhadap kemampuan akal,
bahkan diyakini bahwa dengan kemampuan akal segala macam persoalan dapat
dijelaskan, semua permasalahan dapat dipahami dan dipecahkan termasuk seluruh
masalah kemanusiaan.Keyakinan yang berlebihan terhadap kemampuan akal telah
berimplikasi kepada perang terhadap mereka yang malas mempergunakan akalnya,
terhadap kepercayaan yang bersifat dogmatis seperti yang terjadi pada abad
pertengahan, terhadap norma-norma yang bersifat tradisi dan terhadap apa saja
yang tidak masuk akal termasuk keyakinan-keyakinan dan serta semua anggapan
yang tidak rasional.Dengan kekuasaan akal tersebut, orang berharap akan lahir
suatu dunia baru yang lebih sempurna, dipimpin dan dikendalikan oleh akal sehat
manusia. Kepercayaan terhadap akal ini sangat jelas terlihat dalam bidang
filsafat, yaitu dalam bentuk suatu keinginan untuk menyusun secara a priori
suatu sistem keputusan akal yang luas dan tingkat tinggi. Corak berpikir yang
sangat mendewakan kemampuan akal dalam filsafat dikenal dengan nama aliran
rasionalisme.
Pada
zaman modern filsafat, tokoh pertama rasionalisme adalah Rene Descartes
(1595-1650). Tokoh rasionalisme lainnya adalah Baruch Spinoza (1632-1677) dan
Gottfried Wilhelm Leibniz (1646-1716). Descartes dianggap sebagai Bapak Filsafat
Modern. Menurut Bertrand Russel, kata “Bapak” pantas diberikan kepada Descartes
karena dialah orang pertama pada zaman modern itu yang membangun filsafat
berdasarkan atas keyakinan diri sendiri yang dihasilkan oleh pengetahuan
akliah.
8
Dia
pula orang pertama di akhir abad pertengahan yang menyusun argumentasi yang
kuat dan tegas yang menyimpulkan bahwa dasar filsafat haruslah akal, bukan
perasaan, bukan iman, bukan ayat suci dan bukan yang lainnya.
Hal
ini disebabkan perasaan tidak puas terhadap perkembangan filsafat yang amat
lamban dan banyak memakan korban. Ia melihat tokoh-tokoh Gereja yang
mengatasnamakan agama telah menyebabkan lambannya perkembangan itu. Ia ingin
filsafat dilepaskan dari dominasi agama Kristen, selanjutnya kembali kepada
semangat filsafat Yunani, yaitu filsafat yang berbasis pada akal.
Descartes
sangat menyadari bahwa tidak mudah meyakinkan tokoh-tokoh Gereja bahwa dasar
filsafat haruslah rasio. Tokoh-tokoh Gereja waktu itu masih berpegang teguh
pada keyakinan bahwa dasar filsafat haruslah iman sebagaimana tersirat dalam
jargon credo ut intelligam yang dipopulerkan oleh Anselmus. Untuk meyakinkan
orang bahwa dasar filsafat haruslah akal, ia menyusun argumentasinya dalam
sebuah metode yang sering disebut cogito Descartes, atau metode cogito saja.
Metode tersebut dikenal juga dengan metode keraguan Descartes (Cartesian
Doubt).
Lebih
jelas uraian Descartes tentang bagaimana memperoleh hasil yang sahih dari
metode yang ia canangkan dapat dijumpai dalam bagian kedua dari karyanya
Anaximenes Discourse on Methode yang menjelaskan perlunya memperhatikan empat
hal berikut ini:
Tidak
menerima sesuatu apa pun sebagai kebenaran, kecuali bila saya melihat bahwa hal
itu sungguh-sungguh jelas dan tegas, sehingga tidak ada suatu keraguan apa pun
yang mampu merobohkannya.
Pecahkanlah
setiap kesulitan atau masalah itu sebanyak mungkin bagian, sehingga tidak ada
suatu keraguan apa pun yang mampu merobohkannya.
Bimbinglah
pikiran dengan teratur, dengan memulai dari hal yang sederhana dan mudah
diketahui, kemudian secara bertahap sampai pada yang paling sulit dan kompleks.
Dalam
proses pencarian dan penelaahan hal-hal sulit, selamanya harus dibuat
perhitungan-perhitungan yang sempurna serta pertimbangan-pertimbangan yang
menyeluruh, sehingga kita menjadi yakin bahwa tidak ada satu pun yang
terabaikan atau ketinggalan dalam penjelajahan itu.
9
Atas
dasar aturan-aturan itulah Descartes mengembangkan pikiran filsafatnya. Ia
meragukan segala sesuatu yang dapat diragukan. Pertama-tama ia mulai meragukan
hal-hal yang berkaitan dengan panca indera. Ia meragukan adanya badannya
sendiri. Keraguan itu dimungkinkan karena pada pengalaman mimpi, halusinasi,
ilusi dan pengalaman tentang roh halus, ada yang sebenarnya itu tidak jelas. Pada
keempat keadaan itu seseorang dapat mengalami sesuatu seolah-olah dalam keadaan
yang sesungguhnya. Di dalam mimpi, seolah-olah seseorang mengalami sesuatu yang
sungguh-sungguh terjadi, persis seperti tidak mimpi. Begitu pula pada
pengalaman halusinasi, ilusi dan hal gaib. Tidak ada batas yang tegas antara
mimpi dan jaga. Oleh karena itu, Descartes berkata, ”Aku dapat meragukan bahwa
aku di sini sedang siap untuk pergi ke luar; ya, aku dapat meragukan itu karena
kadang-kadang aku bermimpi persis sepeti itu, padahal aku ada di tempat tidur
sedang bermimpi”. Jadi, siapa yang dapat menjamin bahwa yang sedang kita alami
sekarang adalah kejadian yang sebenarnya dan bukan mimpi?
Pada
langkah pertama ini Descartes berhasil meragukan semua benda yang dapat diindera.
Sekarang , apa yang dapat dipercaya dan yang sungguh-sungguh ada? Menurut
Descartes, dalam keempat keadaan itu (mimpi, halusinasi, ilusi dan hal gaib),
juga dalam jaga, ada sesuatu yang selalu
muncul.
Ada
yang selalu muncul baik dalam jaga maupun dalam mimpi, yaitu gerak, jumlah dan besaran (volume). Ketiga hal tersebut
adalah matematika. Untuk membuktikan ketiga hal ini benar-benar ada, maka
Descartes pun meragukannya. Ia mengatakan bahwa matematika bisa salah. Saya
sering salah menjumlah angka, salah mengukur besaran, demikian pula pada gerak.
Jadi, ilmu pasti pun masih dapat saya ragukan, meskipun matematika lebih pasti
dari benda. Kalau begitu, apa yang pasti itu dan dapat kujadikan dasar bagi
filsafatku? Aku ingin yang pasti, yang distinct. Sampailah ia sekarang kepada
langkah ketiga dalam metode cogito. Satu-satunya hal yang tak dapat ia ragukan
adalah eksistensi dirinya sendiri yang sedang ragu-ragu. Mengenai satu hal ini
tidak ada satu manusia pun yang dapat menipunya termasuk setan licik dan botak
sekali pun. Bahkan jika kemudian ia disesatkan dalam berpikir bahwa dia ada,
maka penyesatan itu pun bagi Descartes merupakan bukti bahwa ada seseorang yang
sedang disesatkan. Ini bukan khayalan, melainkan kenyataan. Batu karang
kepastian Descartes ini diekspresikan dalam bahasa latin cogito ergo sum (saya
berpikir, karena itu saya ada).
10
Dalam
usaha untuk menjelaskan mengapa kebenaran yang satu (saya berpikir, maka saya
ada) adalah benar, Descartes berkesimpulan bahwa dia merasa diyakinkan oleh
kejelasan dan ketegasan dari ide tersebut. Di atas dasar ini dia menalar bahwa
semua kebenaran dapat kita kenal karena kejelasan dan ketegasan yang timbul
dalam pikiran kita:” Apa pun yang dapat digambarkan secara jelas dan tegas
adalah benar.
Dengan
demikian, falsafah rasional mempercayai bahwa pengetahuan yang dapat diandalkan
bukanlah turunan dari dunia pengalaman melainkan dari dunia pikiran. Descartes
mengakui bahwa pengetahuan dapat dihasilkan oleh indera, tetapi karena dia
mengakui bahwa indera itu bisa menyesatkan seperti dalam mimpi atau khayalan,
maka dia terpaksa mengambil kesimpulan bahwa data keinderaan tidak dapat
diandalkan.
Cogito
ergo sum dianggap sebagai fase yang paling penting dalam filsafat Descartes
yang disebut sebagai kebenaran filsafat yang pertama (primum philosophium). Aku
sebagai sesuatu yang berpikir adalah suatu substansi yang seluruh tabiat dan
hakikatnya terdiri dari pikiran dan keberadaannya tidak butuh kepada suatu
tempat atau sesuatu yang bersifat bendawi.
Untuk
menguatkan gagasannya, ia mengemukakan ide-ide bawaan (innate ideas). Descartes
berpendapat bahwa dalam dirinya terdapat tiga ide bawaan yang telah ada pada
dirinya sejak lahir, yaitu pemikiran, Tuhan dan keluasan.
Argumen
tentang ide bawaan tersebut adalah ketika saya memahami diri saya sebagai
makhluk yang berpikir, maka harus diterima bahwa pemikiran merupakan hakikat
saya. Ketika saya mempunyai ide sempurna, maka pasti ada penyebab sempurna bagi
ide tersebut, karena akibat tidak mungkin melebihi penyebabnya. Wujud yang
sempurna itu tidak lain adalah Tuhan. Adapun alasan tentang keluasan karena
saya mengerti ada materi sebagai keluasan, sebagaimana diketahui dan dipelajari
dalam ilmu geometri.
Mengenai
substansi, Descartes menyimpulkan bahwa selain dari Tuhan ada dua substansi,
yaitu jiwa yang hakikatnya adalah pemikiran dan materi yang hakikatnya adalah
keluasan. Tetapi, karena Descartes telah menyangsikan adanya dunia di luar
dirinya, maka ia kesulitan membuktikan adanya dunia luar tersebut. Bagi
Descartes, satu-satunya alasan untuk menerima adanya dunia luar adalah bahwa
Tuhan akan menipu saya sekiranya Ia memberi ide keluasan.
11
Namun
tidak mungkin Tuhan sebagai wujud yang sempurna akan menipu saya. Jadi, di luar
saya benar-benar ada dunia material.
Adapun
Spinoza beranggapan bahwa hanya ada satu substansi, yaitu Tuhan. Jika Descartes
membagi substansi menjadi tiga, yaitu tubuh (bodies), jiwa (mind) dan Tuhan,
maka Spinoza menyimpulkan hanya ada satu substansi. Adapun bodies dan mind
bukan substansi yang berdiri sendiri, melainkan sifat dari satu substansi yang
tak terbatas. Ketika ia ditanya,”Bagaimana membedakan atribut bodies dan mind?”
Spinoza memberi jawaban mengejutkan: ”Anda hanyalah satu bagian dari substansi
kosmik (universe)”. Jika demikian, alam semesta juga adalah Tuhan. Bagi
Spinoza, Tuhan dan alam semesta adalah satu dan sama. Ya, Spinoza percaya
kepada Tuhan, tetapi Tuhan yang dimaksudkannya adalah alam semesta ini. Tuhan
Spinoza itu tidak berkemauan, tidak melakukan sesuatu, tak mempedulikan manusia
dan tak terbatas (ultimate). Inilah penjelasan logis dan dapat diketahui
tentang Tuhan menurut Spinoza.
Sebagai
penganut rasionalisme, Spinoza dianggap sebagai orang yang tepat dalam
memberikan gambaran tentang apa yang dipikirkan oleh penganut rasionalisme. Ia
berusaha menyusun sebuah sistem filsafat yang menyerupai sistem ilmu ukur
(geometri). Seperti halnya orang Yunani, Spinoza mengatakan bahwa dalil-dalil
ilmu ukur merupakan kebenaran-kebenaran yang tidak perlu dibuktikan lagi.
Spinoza
meyakini bahwa jika seseorang memahami makna yang dikandung oleh kata-kata yang
dipergunakan dalam ilmu ukur, maka ia pasti akan memahami makna yang terkandung
dalam pernyataan “sebuah garis lurus merupakan jarak terdekat di antara dua
buah titik”, maka kita harus mengakui kebenaran pernyataan tersebut. Kebenaran
yang menjadi aksioma.
Contoh
ilmu ukur (geometri) yang dikemukakan oleh Spinoza di atas adalah salah satu
contoh favorit kaum rasionalis. Mereka berdalih bahwa aksioma dasar geometri
seperti, “sebuah garis lurus merupakan jarak yang terdekat antara dua titik”,
adalah idea yang jelas dan tegas yang baru kemudian dapat diketahui oleh
manusia. Dari aksioma dasar itu dapat dideduksikan sebuah sistem yang terdiri
dari subaksioma-subaksioma.
12
Hasilnya
adalah sebuah jaringan pernyataan yang formal dan konsisten yang secara logis
tersusun dalam batas-batas yang telah digariskan oleh suatu aksioma dasar yang
sudah pasti.
C.
Empirisme
Para
pemikir di Inggris bergerak ke arah yang berbeda dengan tema yang telah
dirintis oleh Descartes. Mereka lebih mengikuti Jejak Francis Bacon, yaitu
aliran empirisme. Empirisme adalah suatu doktrin filsafat yang menekankan
peranan pengalaman dalam memperoleh pengetahuan dan pengetahuan itu sendiri dan
mengecilkan peran akal. Istilah empirisme diambil dari bahasa yunani empeiria
yang berarti pengalaman. Sebagai suatu doktrin, empirisme adalah lawan
rasionalisme. Akan tetapi tidak berarti bahwa rasionalisme ditolak sama sekali.
Dapat dikatakan bahwa rasionalisme dipergunakan dalam kerangka empirisme, atau
rasionalisme dilihat dalam bingkai empirisme.
Orang
pertama pada abad ke-17 yang mengikuti aliran empirisme di Inggris adalah
Thomas Hobbes (1588-1679). Jika Bacon lebih berarti dalam bidang metode
penelitian, maka Hobbes dalam bidang doktrin atau ajaran. Hobbes telah menyusun
suatu sistem yang lengkap berdasar kepada empirisme secara konsekuen. Meskipun
ia bertolak pada dasar-dasar empiris, namun ia menerima juga metode yang
dipakai dalam ilmu alam yang bersifat matematis. Ia telah mempersatukan
empirisme dengan rasionalisme matematis. Ia mempersatukan empirisme dengan
rasionalisme dalam bentuk suatu filsafat materialistis yang konsekuen pada
zaman modern.
Menurut
Hobbes, filsafat adalah suatu ilmu pengetahuan yang bersifat umum, sebab
filsafat adalah suatu ilmu pengetahuan tentang efek-efek atau akibat-akibat,
atau tentang penampakan-panampakan yang kita peroleh dengan merasionalisasikan
pengetahuan yang semula kita miliki dari sebab-sebabnya atau asalnya.
Sasaran
filsafat adalah fakta-fakta yang diamati untuk mencari sebab-sebabnya. Adapun
alatnya adalah pengertian-pengertian yang diungkapkan dengan kata-kata yang
menggambarkan fakta-fakta itu. Di dalam pengamatan disajikan fakta-fakta yang
dikenal dalam bentuk pengertian-pengertian yang ada dalam kesadaran kita.
Sasaran ini dihasilkan dengan perantaraan pengertian-pengertian; ruang, waktu,
bilangan dan gerak yang diamati pada benda-benda yang bergerak.
13
Menurut
Hobbes, tidak semua yang diamati pada benda-benda itu adalah nyata, tetapi yang
benar-benar nyata adalah gerak dari bagian-bagian kecil benda-benda itu. Segala
gejala pada benda yang menunjukkan sifat benda itu ternyata hanya perasaan yang
ada pada si pengamat saja.
Segala
yang ada ditentukan oleh sebab yang hukumnya sesuai dengan hukum ilmu pasti dan
ilmu alam. Dunia adalah keseluruhan sebab akibat termasuk situasi kesadaran
kita.
Sebagai
penganut empirisme, pengenalan atau pengetahuan diperoleh melalui pengalaman.
Pengalaman adalah awal dari segala pengetahuan, juga awal pengetahuan tentang
asas-asas yang diperoleh dan diteguhkan oleh pengalaman. Segala pengetahuan
diturunkan dari pengalaman. Dengan demikian, hanya pengalamanlah yang memberi
jaminan kepastian.
Berbeda
dengan kaum rasionalis, Hobbes memandang bahwa pengenalan dengan akal hanyalah
mempunyai fungsi mekanis semata-mata. Ketika melakukan proses penjumlahan dan
pengurangan misalnya, pengalaman dan akal yang mewujudkannya. Yang dimaksud
dengan pengalaman adalah keseluruhan atau totalitas pengamatan yang disimpan
dalam ingatan atau digabungkan dengan suatu pengharapan akan masa depan, sesuai
dengan apa yang telah diamati pada masa lalu. Pengamatan inderawi terjadi
karena gerak benda-benda di luar kita menyebabkan adanya suatu gerak di dalam
indera kita. Gerak ini diteruskan ke otak kita kemudian ke jantung. Di dalam
jantung timbul reaksi, yaitu suatu gerak dalam jurusan yang sebaliknya.
Pengamatan yang sebenarnya terjadi pada
awal gerak reaksi tadi.
Untuk
mempertegas pandangannya, Hobbes menyatakan bahwa tidak ada yang universal
kecuali nama belaka. Konsekuensinya ide dapat digambarkan melalui kata-kata.
Dengan kata lain, tanpa kata-kata ide tidak dapat digambarkan.
14
Tanpa
bahasa tidak ada kebenaran atau kebohongan. Sebab, apa yang dikatakan benar
atau tidak benar itu hanya sekedar sifat saja dari kata-kata. Setiap benda
diberi nama dan membuat ciri atau identitas-identitas di dalam pikiran orang.
Selanjutnya
tradisi empiris diteruskan oleh John Locke (1632-1704) yang untuk pertama kali
menerapkan metode empiris kepada persoalan-persoalan tentang pengenalan atau
pengetahuan. Bagi Locke, yang terpenting adalah menguraikan cara manusia
mengenal. Locke berusaha menggabungkan teori-teori empirisme seperti yang
diajarkan Bacon dan Hobbes dengan ajaran rasionalisme Descartes. Usaha ini
untuk memperkuat ajaran empirismenya. Ia menentang teori rasionalisme mengenai
idea-idea dan asas-asas pertama yang dipandang sebagai bawaan manusia. Menurut dia,
segala pengetahuan datang dari pengalaman dan tidak lebih dari itu. Peran akal
adalah pasif pada waktu pengetahuan didapatkan. Oleh karena itu akal tidak
melahirkan pengetahuan dari dirinya sendiri. Pada waktu manusia dilahirkan,
akalnya merupakan sejenis buku catatan yang kosong (tabula rasa). Di dalam buku
catatan itulah dicatat pengalaman-pangalaman inderawi. Seluruh pengetahuan kita
diperoleh dengan jalan menggunakan serta membandingkan ide-ide yang diperoleh
dari penginderaan serta refleksi yang pertama dan sederhana. Tapi pikiran,
menurut Locke, bukanlah sesuatu yang pasif terhadap segala sesuatu yang datang
dari luar. Beberapa aktifitas berlangsung dalam pikiran. Gagasan-gagasan yang
datang dari indera tadi diolah dengan cara berpikir, bernalar, mempercayai,
meragukan dan dengan demikian memunculkan apa yang dinamakannya dengan
perenungan.
Locke
menekankan bahwa satu-satunya yang dapat kita tangkap adalah penginderaan
sederhana. Ketika kita makan apel misalnya, kita tidak merasakan seluruh apel
itu dalam satu penginderaan saja. Sebenarnya, kita menerima serangkaian
penginderaan sederhana, yaitu apel itu berwarna hijau, rasanya segar, baunya
segar dan sebagainya. Setelah kita makan apel berkali-kali, kita akan berpikir
bahwa kita sedang makan apel. Pemikiran kita tentang apel inilah yang kemudian
disebut Locke sebagai gagasan yang rumit atau ia sebut dengan persepsi. Dengan
demikian kita dapat mengatakan bahwa semua bahan dari pengetahuan kita tentang
dunia didapatkan melalui penginderaan.
15
Ini
berarti bahwa semua pengetahuan kita betapapun rumitnya, dapat dilacak kembali
sampai kepada pengalaman-pengalaman inderawi yang pertama-tama yang dapat
diibaratkan seperti atom-atom yang menyusun objek-objek material. Apa yang
tidak dapat atau tidak perlu dilacak kembali seperti demikian itu bukanlah
pengetahuan atau setidak-tidaknya bukanlah pengetahuan mengenai hal-hal yang
faktual.
Di
tangan empirisme Locke, filsafat mengalami perubahan arah. Jika rasionalisme
Descartes mengajarkan bahwa pengetahuan yang paling berharga tidak berasal dari
pengalaman, maka menurut Locke, pengalamanlah yang menjadi dasar dari segala
pengetahuan. Namun demikian, empirisme dihadapkan pada sebuah persoalan yang
sampai begitu jauh belum bisa dipecahkan secara memuaskan oleh filsafat.
Persoalannya adalah menunjukkan bagaimana kita mempunyai pengetahuan tentang
sesuatu selain diri kita dan cara kerja pikiran itu sendiri.
D.
KRITISME
Aliran
ini dimulai di Inggris, kemudian Prancis dan selanjutnya menyebar keseluruh
Eropa,terutama di Jerman. Di Jerman pertentangan antara rasionalisme dan
empirisme terus berlanjut. Masing-masing berebut otonomi. Kemudian timbul
masalah,siapah sebenarnya dikatakan sumber pengetahuan? Apakah pengetahuan yang
benar itu lewat rasio atau empiri? Kant mencoba menyelesaikan persoalan diatas.
Pada awalnya Kant mengikuti rasionalisme, tetapi kemudian terpengaruh oleh
empirisme (Hume). Walaupun demikian, Kant tidak begitu mudah menerimanya,
karena ia mengetahui bahwa dalam empirisme terkandung skeptisme. Untuk itu
tetap mengakui kebenaran ilmu dan dengan akal manusia akan dapat mencapai
kebenaran.
Ciri-ciri
kritisisme diantarnya adalah sebagai berikut:
•
Menganggap bahwa objek pengenalan itu berpusat pada subjek dan bukan pada
objek.
•
Menegaskan keterbatasan kemampuan rasio manusia untuk mengetahui realitas atau
hakikat
sesuatu; rasio hanyalah mampu menjangkau gejalanya atau fenomenya saja.
16
BAB 1II
PENUTUP
KESIMPULAN
Renaissance berarti “lahir kembali”. Pengertian
riilnya adalah manusia mulai memiliki kesadaran-kesadaran baru yang
mengedepankan nilai dan keluhuran manusia. Suasana dan budaya berpikirnya
memang melukiskan “kembali” kepada semangat awali, yaitu semangat filsafat
Yunani kuno yang mengedepankan penghargaan terhadap kodrat manusia itu sendiri.
Rasionalisme adalah suatu aliran dalam filsafat yang
berpendirian bahwa sumber pengetahuan yang mencukupi dan dapat dipercaya adalah
akal. Rasionalisme tidak mengingkari peran pengalaman, tetapi pengalaman
dipandang sebagai perangsang bagi akal atau sebagai pendukung bagi pengetahuan
yang telah ditemukan oleh akal. Akal dapat menurunkan kebenaran-kebenaran dari
dirinya sendiri melalui metode deduktif. Rasionalisme menonjolkan “diri” yang
metafisik, ketika Descartes meragukan “aku” yang empiris, ragunya adalah ragu
metafisik.
Empirisme adalah suatu aliran dalam filsafat yang berpendapat
bahwa empiri atau pengalamanlah yang menjadi sumber pengetahuan. Akal bukanlah
sumber pengetahuan, akan tetapi akal berfungsi mengolah data-data yang
diperoleh dari pengalaman. Metode yang digunakan adalah metode induktif. Jika
rasionalisme menonjolkan “aku” yang metafisik, maka empirisme menonjolkan “aku”
yang empiris.
Aliran ini dimulai di Inggris, kemudian Prancis dan
selanjutnya menyebar keseluruh Eropa,terutama di Jerman. Di Jerman pertentangan
antara rasionalisme dan empirisme terus berlanjut. Masing-masing berebut
otonomi. Kemudian timbul masalah,siapah sebenarnya dikatakan sumber
pengetahuan? Apakah pengetahuan yang benar itu lewat rasio atau empiri? Kant
mencoba menyelesaikan persoalan diatas. Pada awalnya Kant mengikuti
rasionalisme, tetapi kemudian terpengaruh oleh empirisme (Hume). Walaupun
demikian, Kant tidak begitu mudah menerimanya, karena ia mengetahui bahwa dalam
empirisme terkandung skeptisme. Untuk itu tetap mengakui kebenaran ilmu dan
dengan akal manusia akan dapat mencapai kebenaran
17
Daftar Pustaka
Achmadi,
Asmoro. Filsafat Umum. Cet. V; Jakarta:
PT Raja Grafindo Persada, 2003.
Abdul Hakim,
Atang., dan Beni Ahmad Saebani. (2008). Filsafat Umum ”dari Metologi sampai
Teofilosofi. Bandung: Pustaka Setia.
Sudarsono, Drs. (1993). Ilmu Filsafat Suatu Pengantar.
Jakarta: PT Rineka Cipta.
Bertens,K.(2004 ). Ringkasan
sejarah filsafat. Yogyakarta : Kanisius
Wiramihardja, Sutardjo A. ( 2009 ). Pengantar filsafat. Bandung : PT Refika Aditama