Rabu, 23 Oktober 2013

filsafat umum



MERESUME FILSAFAT UMUM
TENTANG
CIRI-CIRI DAN METODE BERFIKIR FILSAFAT
A.      Ciri-ciri pikiran kefilsafatan
1.       Suatu bagan konsepsional.
Perenungan kefilsafatan berusaha untuk menyusun suatu bagan konsepsional. Konsepsi (rencana kerja ) merupakan hasil generalisasi serta abstraksi dari pengalaman tentang hal-hal serta proses-proses satu demi satu. Karena itu , filsafat merupakan pemikiran tentang hal-hal serta proses-proses dalam hubungan yang umum. Di antara proses-proses yang di bicarakan ialah pemikiran itu sendiri. Filsafat merupakan hasil menjadi – sadarnya manusia mengenai dirinya sendiri sebagai pemikir , dan menjadi – kritisnya manusia terhadap diri sendiri sebagai pemikir di dalam dunia yang di fikirkannya.
2.       Saling hubungan antara jawaban-jawaban kefilsafatan.
Kesukaran yang menyangkut pertanyaan-pertanyaan yang membuhtuhkan pemikiran tentang proses pemikiran , muncu segera setelah seseorang berusaha untuk menjawab salah  satu di antaranya ; karena, usaha untuk menjawab pertanyaan yang satu menyangkut pertanyaan-pertanyaan yang lain.  Dalam usaha untuk mengatakan apakah yang di namakan kebenaran, orang harus berusaha menemukan apakah yang di namakan kenyataan. Untuk mengatakan apakah yang dinamakan kebajikan , orang terpaksa berusaha mencari penyelesaian mengenai pernyataan tentang kemerdekaan kehendak, yang mau tidak mau, membawa kita pada pertanyaan tantang susunan dunia tempat kita hidup. Bagaimana mungkin seseorang dikatakan merdeka karena bersifat bajik, jika dunia ini merupakan suatu sistem  yang serba tentu ( deterministik ), dan jika manusia tidak lebih dari pada sesuatu yang tiada berati yang di tentukan oleh hukum –hukum alam yang tetap , dan berlaku tidak putus-putusnya ?
        Suatu contoh yang baik mengenai bentuk analisa kefilsafatan yang berupa dialog, yang juga menggambarkan adanya antara hubungan yang yang hakiki dari semua pertanyaan.
3.       Sebuah sistem filsafat harus bersifat koheren.
Perenungan kefilsafatan berusaha untuk menyusun suatu bagan yang koheren, yang konsepsional. Secara singkat, yang di mmaksuk dengan istilah” koheren “ ialah runtut. Bagan konsepsional yang merupakan hasil perenungan kefilsafatan haruslah bersifat runtun. Jika orang bertanya apakah “runtut” (“consistent”) maka saya akan mencoba menjawab dengan pertama-tama memberikan batasan terhadap kebalikan rutut . kebalikannya ini di sebut “ tidak rutut “  ( “ inconsistent”)  “ bertentangan” ( contradictory”) kiranya baik saya berikan contoh dengan menyebutkan dua buah pernyataan :
Hujan turun
Tidak benar bahwa hujan turun
Suatu perenungan filsafat tidak boleh mengandung pernyatan-pernyatan yang saling        bertentangan. Jika orang mulai menyukai perenungan kefilsafatan maka ia mungkin bertanya” mengapa tidak boleh ? “ . jawabanya kiranya sudah di mengeti. Kita telah mengatakan bahwa filsafat berusaha memperoleh penyelesaian atau jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan agar dapat di pahami.
4.       Filsafat merupakan pemikiran secara rasional.
Perenungan kefilsafatan berusaha menyusun suatu bagan konsepsional yang bersifat rasional. Yang di maksudkan bagai konsepsional yang bersifat rasional ialah bagan yang bagian-bagiannya bersifat logis berhubungan satu dengan yang lain. Jika saya boleh memakai bahasa yang bebas , bagan tersebut ialah bagan yang berisi kesimpulan yang “ diperoleh dari premise-premise”. Dan bagan yang premise-premisenya di tetapkan dengan baik. Ilmu ukur merupakan suatu contoh mengenai sistem yang rasional yang mungkin telah anda kenal. Ilmu ukur mulai dengan definisi , aksioma dan dalil yang di anggap telah terbukti dengan sendirinya dan kebenarannya tidak dapat diragu-ragukan – setidak- tidaknya demikian menurut Euclides. Dan berusaha untuk menyimpulkan semua pertanyaan yang lain sebagai teoremayang berasal dari kebenaran-kebenaran yang terbukti dengan sendirinya tersebut , hanya memakai logoka. Juga filsafat merupakan suatu sistem yang bagian-bagianya saling berhubungan serupa itu.
         Tetapi filsafat tidak mulai dari pengetian – pengertian yang dapat diterima akal sehat seperti halnya ilmu ukur Euclides, juga biasanya tidak mengambil bentuk seperti sistem yang dibuktikan secra ketat semacam itu. Filsafat berusaha mulai dari bahan-bahan yang telah di tetapkan secra baik, dan berusaha menarik kesimpulan dari bahan –bahan tersebut secara logis.
5.       Filsafat senantiasa bersifat menyeluruh ( komperehensif ) .
Perenungan filsafat berusaha menyusun suatu bagan konsepsional yang memadai untuk dunia tempat kita hidup maupun diri sendiri. Di katakan bahwa ilmu memberi penjelasan tentang kenyatan empiris yang di alami ; filsafat berusaha untuk memperoleh penjelasan mengenai ilmu itu sendiri. Tetapi sesungguhnya filsafat meliputi lebih banyak hal lagi. Filsafat berusaha memberikan penjelasan tentang dunia seluruhnya , termasuk dirinya sendiri. Menurut sudut pandang ini. Filsafat mencari kebenaran tentang segala sesuatu dan kebenaran ini harus dinyatakan dalam bentuk yang paling umum.
        Suatu sistem filsafat harus bersifat komprehensif tidak ada stu pun yang berada di luar jangkauannya. Jika tidak demikian, filsafat akan di tolak serta di katakan berat sebelah atau tidak memadai. Suatu sistem baru dapat di katakan memadai jika membuat penjelasan tentang semua gejala. Memang sala satu cara tertentu untuk mengecam suatu sistem filsafat ialah , menunjukan bahwa sistem tersebut melupakan sesuatu yang tidak memperoleh tempat di dalamnya. jika demikian,maka sistem semacam itu perlu di perluas atau do tolak.
6.       Suatu pandangan dunia.
Secara singkat, perenungan kefilsafatan berusaha memahami segenap kenyataan dengan jalan menyusun suatu pandangan dunia ( biasanya di pakai perkataan jerman weltanschauung) yang memberikan keterangan tentang dunia dan semua hal yang ada di dalamnya. Lama seorang filsuf Ionia, democritus ( 460-370) sebelum masehi ), memberikan kepada kita suatu pandangan dunia yang di kenal sebagai “ atomisme “ , yang dewasa ini masih banyak yang menganutnya.
        Penyair romawi , Lucretius ( 94-54 sebelum masehi ) , menyatan pandangan dunia ini di dalam syairnya yang bersifat kefilsafatan yang berjudul tentang hakekat segala sesuatu. Lucretius mengatakan bahwa pada mulanya hanya ada atom-atom yang bergerak melalui ruang. Semula atom-atom ini bergerak dalam garis yang lurus, tatapi secara kebetulan salah satu diantaranya melayang keluar dari garis dan benturan dengan atom yang lain yang pada gilirannya terlempar dari jalanya dan berbenturan semacam ini lah dunia kita terjadi. Kemudian Lucretius berusaha menerangkan segala sesuatu yang ada di dunia ini dalam hubunganya dengan atom-atom yang bergerak. Tatapi Lucretius meningalkan teka-teki rahasia bagi pembacanya. Bagaimananakah caranya dan mengapa atom yang pertama itu keluar dari jalanya?.
        Sistem Lucretius tersebut tidak memadai , karena tidak sepenuhnya menjelaskan tentang prinsip penjelasan yang di pakainya. Sebab, di dalam filsafat tidak boleh ada misteri ! dewasa ini terdapat banyak pertentangan paham mengenai cara pengambaran moderen tentang antomisme. Apakah pandangan dunia yang bersifat ilmia memadeai untuk menerangkan semua gejala ? atau apakh sesuatu pandangtan dunia yang lebih baik?
7.       Suatu definisi terdahulu
Dalam kerenungan kefilsafatan kita berusahamencari dasar-dasar bagi kepercayaan- kepercayaan kita. Dengan mengingat ciri-ciri perenungan kefilsafatan mudalah bagi kita memberika definisi pertama tentang filsafat, berupa suatu definisi oprasional. Filsafat merupakan hasil dari perenungan kefilsafatan. Perenungan kefilsafatan tidak berusaha menemukan fakta-fakta ; filsafat menerimanya dari mereka yang menemukannya. Tetapi filsafat selalu menunjukan fakta-fakta ini untuk menguji apakah penjelasan sudah memadai. Filsafat membicarakan fakta-fakta denag dua cara :
1.       Filsafat mengajukan kritikatas makna yang di kandung fakta-fakta.
2.       Filsafat menarik kesimpula-kesimpulan yang bersifat umum dari fakta-fakta.
Seorang filsuf tidak perna menerima suatu fakta “ secara dangkal “ bahkan seorang ilmuwan yang baik tidak hanya berbicara mengenai fakta-fakta. Ia juga mempunyai pandangan dunia ; dalam hubungannya dengan pandangan dunianya itu ia memandang fakta-fakta yang dimilikinya
Pemikiran kefilsafatan menurut Sutadi M.P.
1.       Menyeluruh.
Artinya, pemikiran yang luas tidak membatasi diri dan bukan ditinjau dari satu sudut pandang tertentu.
2.       Mendasar.
Artinya, pemikiran yang dalam sampai kepada hasil yang fundamental atau eksensial objek yang di pelajarinya sehingga dapat dijadikan dasar berpijak bagi segenap nilai dan keilmuan.
3.       Spekulatif.
Artinya, hasil pemikiran yang dapat di jadikan dasar bagi pemikiran selanjutnya.

Sedangkan menurut Ali Mdhofir ( 1996 )ciri-ciri berpikir secara kefilsafatan adalah sebagai berikut :
1.       Secara radikal.
Berpikir secara radikal adalah berpikir sampai ke akar-akarnya.
2.       Secara universal ( umum ).
Berpikir secara universal adalah berpikir tentang hal-hal serta proses tentang umum, dalam arti tidak memikirkan sesuatu yang persial.
3.       Secara konseptual.
Yang di maksud konsep disini adalah hasil generalisasi dari pengalaman tentang hal-hal serta proses individual.
4.       Secara koheren dan konsisten.
Koheren, artinya sesuai dengan kaidah berpikir ( logis ). Konsisten artinya tidak mengandung kontradiksi.
5.       Secara sistematik.
Yang dimaksud sistem adalah kebulatan dari sebuah unsur yang saling berhubungan menurut tata pengaturan untuk mencapai suatu maksud atau menunaikan suatu pranan tertentu.
6.       Secara komprehensif.
Yang dimaksud komprehensif adalah mencakup secara menyeluruh.
7.       Secara bebas.
Sampai batas-batas yang luas , setiap filsafat boleh dikatakan merupakan suatu hasil dari pemikiran yang bebas.
8.       Secara kefilsafatan.
Berpikir secara kefilsafatan adalah pemikiran yang bertanggung jawab.
B.      Metode berfikir filsafat.
1.       Analisis
1.       Ekstensi dan intensi.
Maksud pokok mengadakan analisa ialah melalukan pemeriksaan secara konsepsional atas makna yang di kandung oleh istilah-istilah yang kita pergunakan dan pernyataan-pernyataan yang telah kita buat. Pendekatan serupa dapat diterapkan juga  terhadap analisa mengenai pernyataan-pernyataan. Perkataan “analisa “ itu sendiri berarti “ perincian “ di dalam filsafat, analisa berarti perincian istilah-istilah atau pernyataan –pernyataan ke dalam bagian-bagianya sedemikian rupa, sehingga kita dapat melakukan pemeriksaan atas maknya yang di kandung. Tantangan-tantangan mngkin mungkin mengenai hal-hal yang termasuk dalam lingkup istilah yang bersangkutan, atau mengenai sifat-sifat yang lainnya yang yang melekat pada istilah tersebut . kedua segi istilah ini masing-masing sering dinamakan ekstensi = (penerapan ) dan intensi =( sifat-sifat ) istilah tadi.
2.       Definisi ostensif.
Yang dinamakan definisi ostensif ( denagn cara menunjukan secara langsung ) , dan menunjukan ektensi istilah tersebut.
3.       Makna yang dikandung oleh pernyataan ( statement ) .
Maksud segala analisa, untuk memperoleh kejelasan yang sebesar mungkin mengenai makna yang di kandung oleh suatu pernyataan. Jika kita berusaha untuk memahami, maka kita perlu kejelasan tentang makna yang harus jita pahami itu.
4.       Filsafat kritik.
Cabang filsafat  yang memberikan tentang makna istilah istilah-istilah serta pernyataan-pertayaan dengan memakai metode analisa , oleh seseorang filsuf Britaniadewasa ini, C.D. di namakan “ critical philosophy “ .
2.       Metode kritis.
Bersifat analisis istilah dan pendapat. Merupakan hermenuutika, yang menjelaskan keyakinan, dan memperlihatkan pertentangan.
3.       Metode intuitif.
Dengan jalan intospeksi intuitif, dan dengan pemakaian simbol-simbol dan di usahakan pembersihan intelektual ( bersama dengan penyucian moral) sehimgga tercapailah suatu penerangan pikiran.
4.       Metode Skolastik
Besifat sentetis-deduktif. Denagn bertitik tolak dari definisi atau prinsip yang jelas dengan sendirinya , di tarik sebagai kesimpulan.
5.       Metode geometris
Melalui analisis mengenai hal-hal kompleks , di capai intuisi akan hakikat-hakikat “sederhana” ( ide terang dan berbeda dari yang lain ) ; dari hakikat dideduksikan secara sistematissegala pengertian lainnya.
6.       Metode empiris
Hanya pengalamanlah menyajikan pengertian benar; maka semua pengertian ( ide-ide) dalam introspeksi dibandingkan dengan cerapan-cerapan ( impresi ) dan kemudian disusun bersama secara geometris.
7.       Metode transendental
Bertitik tolak dari tepatnya pengertian tertentu, dengan jalan analisis di selidiki syarat-syarat apriori bagi pengertian sedemikian.
8.       Metode fenomenologis.
Dengan jalan beberapa pemotongan sistematis ( reduction ), refleksi atas fenomin dalam kesadaran mencapai penghilihatan hakikat-hakikat murni.
9.       Metode dealektis
Dengan jalan mengikuti dinamis pemikiran atau alam sendiri, menurut treade tesis, antitensis, sintensis di capai hakikat kenyataan.
10.   Metode neo-positivistis
Kenyataan di pahami menurut hakikatnya dengan jalan mempergunakan aturan-aturan seperti berlaku pada ilmu pengetahuan positif.
11.   Metode analitika bahasa
Dengan jalan analisis pemakaian bahasa sehari-hari ditentukan sah atau tidaknya ucapan-ucapan filosofis.
BUKU REFRENSI: PENGANTAR FILSAFAT , PENGARANG: LOIS KATTSOF DAN SUATU PENGANTAR ILMU FILSAFAT, PENGARANG: Drs. SURAJIYO.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar