Rabu, 09 Oktober 2013

IBD _ ISD



MAKALAH IBD – ISD
TENTANG
KONSEPSI IBD DALAM AGAMA, FILSAFAT, DAN KEINDAHAN



NAMA           :    MEDIKA YUNITA








INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI BENGKULU
FAKULTAS SYARI’AH DAN EKONOMI ISLAM
PRODI PERBANKAN SYARI’AH
TAHUN 2013/2014
LOKAL 1 C




KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah semesta alam. Salawat beserta salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullah SAW. Kami bersyukur kepada Ilahi Rabi yang telah memberikan hidayah serta taufik – Nya kepada kami sehingga makalah yang berjudul Konsepsi IBD dalam Agama, Filsafat, dan Keindahan dapat terselesaikan.
Kami menyadari bahwa makalah ini sangat lah jauh dari kata sempurna, untuk itu kami mohon kritik dan saran yang bersifat membantu makalah menjadih lebih sempurna.
Akhirnya kami ucapkan terima kasih,selain untuk memenuhi tugas, semoga makalah ini bermanfaar bagi kita semua. Amin.





                                                                                                Bengkulu, 10 oktober 2013
                                                                                                            penulis








KONSEPSI IBD DALAM AGAMA, FILSAFAT, DAN KEINDAHAN

A.    Pendahuluan
Salah satu syarat yang teramat penting dalam kehidupan manusia adlah keyakinan, yang oleh sebagian orang di anggap sebagai agama. Tujuan agama aadalah mencapai kedamaian rohani dan kesejahteraan jasmani. Tindakan orang yang percaya akan kebesaran Tuhan yang menciptakan semesta alam ini, akan selalu atas rahmat-Nya. Setiap daerah, setiap agama, dan setiap orang mempunyai cara-cara tersendiri untuk mendekatkan diri dan memuja Tuhan. Hal ini lah yang sering di katakan sebagai konsepsi IBD ( ilmu budaya dasar ) dalam agama.
Filsafat dalam IBD adalah sebagai media. Kogkritnya, IBD menggunakan pengertian – pengertian yang berasal dari filsafat untuk melatih kepekaan mahasiswa dan memperluas wawasan pemikirannya dan menagamati suatu fenomena atau menkaji suatu masalah kemanusiaan dan budaya.
Keindahan berasal dari kata indah yang berati bagus, permai, cantik, molek dan sebagainya. Benda yang mengandung keindahan adalah segala hasil seni dan alam semesta ciptaan Tuhan. Sangat luas kawasan keindahan bagi manusia. Karena itu, di mana dan siapa saja dapat menikmati keindahan.
Keindahan identik dengan kebenaran. Keduanya memepunyai nilai sama yaitu : abadi dan mempunyai daya tarik yang selalu bertambah. Yang tidak mengandung kebenaran berati tidak indah. Keindahan bersifat universal.












B.     Konsepsi IBD dalam Agama.[1]
Salah satu syarat yang teramat penting dalam kehidupan manusia adlah keyakinan, yang oleh sebagian orang di anggap sebagai agama. Tujuan agama aadalah mencapai kedamaian rohani dan kesejahteraan jasmani. Dan untuk mencapai kedamaian ini harus di ikuti dengan syarat yaitu percaya dengan adanya Tuhan Yang Maha Esa. Yang menciptakan dan memelihara semua yang ada di dunia ini. Kepercayaan manusia kepada tuhan berkembang sesuai dengan perkembangan pikiran dan peradaban manusia itu sendiri, untuk menampung dan memberikan jawaban atas kegelisaan dan keragu – raguan yang mencemaskan dan menakutkan. Sebelum turunnya ajaran Tuhan yang diberikan kepada Nabi – Nabi, orang mempercayai benda – benda, bintang – bintang, barang – barang, batu, dan sebagainya.
Yang kita kehendaki untuk menerangkan bahwa susunan Tuhan itu ada, tidak hanya suatu ide yang terdapat di dalam pikiran manusia, tetapi menunjukan bahwa zat yang di namakan Tuhan itu berwujud objektif, yaitu Tuhan sebelum kita sadar akan ada – Nya dan sekarang tetap ada, baik manusia itu sadar ataupun tidak sadar.
Tuhan yang kita maksud adalah Tuhan Yang Maha Esa, yang menjadi sasaran beribadah, Tuhan yang dapat diketahui oleh manusia walaupun tidak sepenuhnya.
Tuhan bagi agama monoteisme, bukan Tuhan yang terdapat di tingkatan yang paling atas, bukan Tuhan yang menciptakan kebenaran ilmu pasti. Seperti kata filsafat Epicurus, tetapi Tuhan bersifat Ar-Rahman,Ar-Rahim,yaitu Tuhan yag menyayangi dan menentramkan. Tuhan memenuhi jiwa dan hati manusia. Tuhan memberi rasa bahagia dan tentram pada manusia.
Menurut Aristoteles, Tuhan adalah zat yang memberi arti kepada alam, tetapi dapat kita artikan bukan Tuhan kita sembah dan dapat kita mintai. Tuhan meurut Aristoteles merupakan it dan bukan he.
Theisme adalah kepercayaan kepada Tuhan adalah zat yang menciptakan alam dunia, tetapi terbatas dalam dunia ini. Kepercayaan ini bersifat realis karena di dalamnya Tuhan merupakan zat yang ada tersendiri dan tidak bersandar kepada pengetahuan kita terhadap – Nya.


Bagi orang yang percaya pada Tuhan, perasaannya merasa selalu dilindungi oleh Tuhan dan dalam suasana dan keadaan bagaimanapun, mereka tidak merasa takut. Mereka berkeyakinan bahwa tidak ada daya upaya dan tiada satu kekuatanpun yang akan mempengaruhi dan memebinasakannya, kalau tuhan tidak mengizinkannya.
Kita mempunyai kepercayaan kepada Tuhan, mengingat kebutuhan jiwa akan rasa aman, yang akan memeberikan ketenangan jiwa. Kepercayaan tersebut akan menghindarkan perbuatan orang – orang yang kejam, dan penyelewengan sehingga dia akan terhindar dari gangguan jiwa. Begitu juga halnya dengan orang yang kehilangan kepercayaan diri, harga diri, dan kasih sayang, kalau mereka percaya akan kebesaran Tuhan, maka mereka akan bisa menghadapi semua itu dengan penuh ketenangan.
Tindakan orang yang percaya akan kebesaran Tuhan yang menciptakan alam semesta ini, akan selalu atas rahmat – Nya. Setiap daerah, setiap agama, setiap orang mempunyai cara-cara tersendiri untuk mendekatkan diri dan memuja Tuhan. Seperti di Bali, sebagian penduduknya memeluk agama Hindu – Dharma, mereka mempunyai cara tersendiri dalam melakukan pemujaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Mereka memuja Tuhan dengan sesajen yang berisi bermacam – macam buah – buahan dan kembang berwarna warni, kesemuaan itu ditunjukkan untuk memuja Tuhan. Daerah lainya seperti Jawa, Madura, Kalimantan, Sumatra, dan sebagainya, memepunyai cara – cara tersendiri untuk mendekatkan diri kepada Tuhan sesuai dengan agamanya masing – masing. Meskipun cara itu di lakukan berbeda – beda, tetapi tujuannya sama, yaitu Tuhan Yang Kuasa Sang Pencipta alam dunia ini.
Kita melakukan ibadah, sembahyang dan berdo’a kapan dan dimana pun kita berada. Meski dalam keadaan bahaya kalau snantiasa mengingat – Nya, kita pasti bisa mengatasinya, kita bisa menyelesaikan segala sesuatu dengan tenag dan bijaksana. Tanpa adanya Tuhan kehidupan beserta isi dunia ini tdak akan ada.
Yang jelas thuan bagi agama monoteisme, yakni Tuhan yang bersifat Ar – Rahman Ar – Rahim, yaitu Tuhan yang menyayangi dan menentramkan. Tuhan yang memenuhi jiwa dan hati manusia.
Manusia dengan jalanya sendiri – sendiri selalu berusaha untuk mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kita tidak tau dimana Tuhan itu berada bagaimana bentuk- Nya, rasa – Nya, maupun bau- Nya. Kita tidak tau karena tanpa Tuhan, kehidupan ini, beserta segala isi dunia ini tidak akan ada.
Dengan percaya kepada – Nya dan selalu mengingat – Nya kita bisa tenang dan tentram dalam menghadapi segala hal. Coba renungkan surat At – Tariq dan nilai yang terkandung di dalamnya :
[2]PENDATANG MALAM
      Demi langit dan pendatang malam
      Tahukah kau apa pendatang malam itu ?
      Bintang yang memijar tembuskan cahayanya
      Tak ada satu pun jiwa yang tak ada pengawasan – Nya
      Maka suruhlah manusia merenung dari apa sal jadinya
      Ia diciptakan dari air yang terpancar tumpah
      Dari antara punggung ayah dan tulang dada bunda
      Sungguh, Allah pun kuasa menghidupkan lagi dia
      Di hari kapan rahasia ruah terbuka
      Dan manusia lumpuh tanpa seorang pun juru selamat
      Demi langit yang menabur hujan
      Dan bumi rekah menyembulkan tumbuhan
      Sungguh, kitab ini kata keputusan
      Sama sekali bukan main – main
      Memang, orang –orang kafir merancang rencana
      Tapi aku pun merancang rencana
      Maka berilah mereka tanggak
      Biar mereka sementara waktu



Terjemahan surat At – Tariq : ayat 1 – 17 kitab suci Al – Qur’an


C.     Konsepsi IBD dalam Filsafat[3]
a.       Arti filsafat
Filsafat di[4] ambil dari bahasa Arab falsafah, berasal dari bahasa Yunani philosophia. Yang yang terakhir ini dapat di uraikan menjadi : philo berarti “ cinta “, dan sophia berarti “ hikma “ atau “ kebijaksanaan “. Jadi philoshopia berarti “ cinta hikma “ atau “ cinta kebijaksanaan “. ( Hoesin, 1964 : Pudjawijatna, 1965 : 1 ).
Terdapat banyak sekali rumusan para ahli tentsng pengertian filsafat yang berbeda satu sama lain. Perbedaan dalam perumusan ini wajar, lebih – lebih bila ingat bahwa filsafat melambangkan hal yang abstrak. Sedangkan pengertian kata – kata yang menunjukkan benda – benda yang konkrit saja orang sukar bersepakat.
Gazalba ( 1979 : 42 ) merumuskan pengertian filsafat berangkat dari kata kerjanya. Berfilsafat adalah kebenaran dari kebenaran untuk kebenaran., tentang segala sesuatu yang di permasalahkan dengan berpikir secara radikal, sistematik dan universal. Apabila seseorang berpikir demikian dalam mehadapi masalah dalam hubungannya dalam kebenaran, adalah orang itu memasuki filsafat. Penuturan dan uraian yangg tersusun oleh pemikiran itu adalah filsafat. Bertolak dari kerjanya, dapat dirumuskan kata bendanya : “ filsafat adalah sistem kebenaran tentang segala sesuatu yang di persoalkan sebagai hasil dari berpikir secara radikal, sistematis dan universal “.
Anshri (1982:85)setela mempelajari berbagai rumusan tentang filsafat,sampai kepada kesimpulanbahwah:
-filsafat adalah “ilmu istimewa”yang mencoba menjawab masalah-masalah yang tidak dapat dijawab oleh ilmu pengetahuan biasah ,karena masalah-masalah yang termasuk berada duluar atau diatas jangkauan ilamu pengetahuan biasa.
-filsafat ialah hasil upaya manusia dengan akal-budinya untuk memahami (mendalaami dan menyelami)secara redikal dan intergral serta secara sitsematikhakikat serawa yang ada (tuhan ,alam semestadan manusia )serta sikap manusia termasuk sebagai konsekuensi dari pada faham (pemahamannya)-nya tersebut.
b.      kerakteristik filsafat
dalam definisi Gazalb dimuka terdapat beberapa hal yang patut di perbincangkan di sini sehubungan dangan keratteristik filsafat.
Pertama ,filsafat mencari kebeanaran .di dalam mencari kebenaran,filosof tidak bertujun mencari pujian,kedudukan kemulian dan sejenisnya ,melainkan semata-semata karena itu mnghayati dalam hatinya .demikian juga filosof yang berpikir mencari kebenaran semata-mata karena ia menghayati masalah yang harus di cari jawabannya .fiosof sejati adalah pengabdi kebenaran.
Kedua berfilsafat adalah berfikir .tetapi berfikir tidak selalu berfilsafat.berfikir dikatakan berfilsafat apa bila mengandung tiga ciri: radikal ,sistematik dan universal.
-radikal artinya berakar atau mendasar ,siap membokar tempat berpijak secara fundamental;
Sitematik artinya logis ,bergerak selangka demi selangka dengan penuh kesadaran dan urutan yang penu tanggung jawab dan saling berhubungn  yang teratur.
-universal artinya umumdan menyeluru ,tidak ficik dan tidak terbatas pada bagian tertentu.
Seorang yang berfilsafat diilusikkan sebagai orang berpijak di bumi dan menengadah ke bintang-bintang .dia ingin mengetahui hakekat dirinya dalam kesemestan galaksi .atau orang yang berdiri di puncak  tinggi ,memandang ke nengarai dan lembah dibawanyah .dia ingin menyimak kehadirannya dengan kemestan yang ditatapnya .eseorang ilmuan berfikir filsafat ,tidak puas lgi mengenal ilmu hanya dari segi pandangan ilmu itu sendiri. Dia ingin melihat hakikat ilmu dalam konsetelasi pengetahuan yang lainnya. Dia ingin tau kaitan ilmu daengan moral dan kaitanya dengann ilmu agama.dia ingin yakin apaka ilmu itu membawa kebahagian kepadanya.(moral  AKTA V 1981:2).
c.       bidang telaah/obyek filsafat pada dasarnya menelah segala masalah yang mungkin dapay difikirkan oleh manusia.
Mulder (1966:12) menulis: “tiap-tiap manusia mulai berfikir tentang diri sendiri dan tentang tempat-tempatnya  dalam dunia akan menghadapi beberapa persoalan yang begitu penting sehingga boleh diberi nama persoalan-persoalan pokok. Kami terasa terutama tiga persoalan yang dapat dikatakan bersifat fokok,yaitu
-adakah allah siapaka allah itu?;
-apa dan siapakah manusia?dan
-apaka hakikaat dari segala realitas,apaka maknanya dan apaka intersarinya?
Dalamsejara manusia kita melihat tiga pertanyaan tadi itu sering dijawab dalam agama yang dianut oleh manusiah.tapi tidaklahjarang ilmu filsafat berusaha untuk menjawab persoalan-persoalan pokok itu”.    
Di dalam defenisi Anshari di muka, secara secara eksplisi di di sebutkan bidang telaah filsafat, yakni hakikat sarwa yang ada, meliputi :
-          hakikat Tuhan
-          hakikat alam semesta
-          hakikat manusia.
Para ahli membedakan objek materia dari objek forma. Objek sebagai di sebutkan di atas ( sarwa yang ada ) adalah merupakan objek materia filsafat. Sedangkan objek formanya adalah usala mencari keterangan sedalam – dalam nya tentang objek materia tersebut.
d.      Batas dan relativitas filsafat
Dimuka telah di kemukakan bahwa filsafat adalah ilmu istimewa yang mencoba menjawab masalah – masalah yang tidak dapat di jawab oleh ilmu pengetahuan biasa. Akan tetapi, dapatkah filsafat memberi jawaban atas segala soal dan pertanyaan ?.
Ppudjawijayatna menjawab, “ pada prinsipnya filsafat memang dapat memberikan jawaban kalaupun belum dapat menjawab, maka terus di usahakan. Tetapi usaha selalu dengan pikiran belaka. Maka dari itu filsafat bukannya sama dengan agama.
Ada kemungkinan agama memberi pengetahuan yang lebih tinggi dari filsafat, pengetahuan yang tak tercapai oleh budi biasa karena demikian tingginya hingga dapat diketahui karenakan di wahyukan “.
Dalam hubungan ini weiss memberikan ilustrasi :
Manusia dengan segala mekanisme jiwanya yang rumit, dengan segala hasrat dan kekuatannya, perasaan, dan ketidak pastian spekulatifnya, melihat dirinya dihadapkan pada satu alam di mana kemurahan dan kekejaman, bahay dan ketentraman, bercampur aduk dalam suatu cara yang dahsyat yang tak teruraikan dan tampaknya berkerja atas garis – garis yang berbedadari metode – metode dan struktur pikiran manusia.filsafat intelektual murni atau ilmu pengetahuan eksperemental saja tidak perna sanggup memecahkan komflik ini. Inilah justru titik dimana agama melangkah maju.
“ bila mana anda ( kata Kattsof ) mengharapkan jawaban – jawaban tingkat terakhir atas persolan – persoalan anda artinya jawaban –jawaban yang oleh semua ahli filsafat dianggap merupakan kebenaran, niscaya anda akan kecewa sekali. “
El – Bahy menimpalu “ sehubung dengan itu, siapa saja yang mengikuti filsafat atau tunduk pada hukum buatan manusia akan sadar bahwa yang di kutipnya atau yang di taatinya itu adalah suatu sistem buatan manusia yang tidak pasti menjamin kebenaran dan kke adilannya. ‘
Pendapat – pendapat di atas menegaskan batas dan realitivitas filsafat, yang secara singkat dapat di simpulkan bahwa kebenaran filsafat itu bersifat spekulatif, subjektif, dan relatif.
“ segala – galanya memang dapat ditanyakan dan bertanya itu tak habis – habisnya”, kata Boerling, yang selanjutnya mengingatkan bahwa “ sejak zaman dahulu sebagai filsuf telah mengetahui bahanya dan mereka memberi peringatan. Sekiranya pertanyaan ini tidak dihentikan oleh suatu jawaban yang pasti, sehingga semuanya dapat memahami, maka kita akan terdampar pada suatu putaran air.”
e.       Filsafat dan kebudayaan
Kebudayaan menurut Mukti Ali adalah  buda daya, tingkah laku manusia. Tingakah laku manusia digerakkan oleh akal dan perasaannya. Yang mendasari semua itu adalah ucapan hati, sedangkan ucapan batinmerupakan keyakinan dan penghayatan terhadap sesuatu yang dianggap benar. Apa yang di anggap benar atau kecil adalah agama. Dan agama sepanjang tidak di wahyukan, adalah hasil pemikiran filsafat.

Gazalba mendefinisikan kebudayaan sebagai “ cara berfikir dan mengungkapkan perasaan, yang menyatakan diri dalam seluruh segi kehidupan sekelompok manusia, yang membentuk kesatuan sosial dalam suatu ruang dan waktu.” Definisi Gabzalba secara implisit mengetengahkan jinis – jenis kebudayaan, cara berpikir dan mengungkapkan perasaa, merupakan kebudayaan batiniah, sedangkan manifestasinya dalam bentuk cara bertingkah laku dan cara berbuat atau cara hidup adalah kebudayaan lahiriah. Produk cara bertingkah laku, yang membentuk benda disebut kebudayaan material.
Apabila dibandingkan definisi kebudayaan dan defenisi filafat, keduanya bertemu dalam hal berpikir. Kebudayan adalah cara berpikir, sedangkan filsafat cara berpikir secara radikal, sistematis, dan universal. Berpikir demikian berujung pada setiap jiwa ( Gazalba ) atau ucapan batin ( Mukti Ali ). Manifestasinya adalah sikap hidup dan pandangan hidup. Dengan demikian jelaslah, bahwa filsafat itu mengendalikan cara kebudayaan. Di belakang setiap kebudayaan selalu kita temukan filafat. Perbedaan kebudayaan dapat dikebalikan kepada perbedaan filsafat.
Kebudayaan juga di pandang sebagai tata nilai. Seorang individu dalam masyarakat atau masyarakat itu sendiri berbuat sesuatu, karena susatu itu bernilai atau berguna bagi kehidupannya. Barang sebagai hasil perbuatan di hasrati karena keperluan. Dengan demikian barang itu mengandung nilai, jadi, tingkah laku dan hasil perbuatan dalam kebudayaan menuju pada realisasi nilai.
Kalau kebudayaan kta pandang sebagai nilai, maka timbul pertanyaan : siapakah yang menentukan nilai ? Yang pertama-tama sudah tentu Tuhan dan kemudian manusia. Tuhan menentukan nilai melalui agama. Manusia menentukan nilai melalui filsafat. Karena kebudayaan berpangkal pada manusia, maka jelas yang menentukan kebudayaan adalah filsafat.
f.       Filsafat dan masalah manusia
Yang dimaksud dengan masalah manusia adalah mereka yang dipermasalakan oleh manusia. Ada masalah yang sifatnya segerah ( immediare problems ) yaitu masalah – masalah praktis sehari – hari, yang berkenaan dengan keperluan – keperluan pribadi yang mendesak, yang tidak seorang dapat mengelak dari dirinya. Dan ada masalah yang sifatnya asasi ( ultimate problems ) yaitu berkenaan dengan hakikat manusia itu sendiri, alam semesta, dan Tuhan. Namun, masalah terbesar yang dihadapi manusia sepanjang masa adalah masalah dirinya sendiri.
Manusia merupakan salah satu objek material flsafat dan juga ilmu. Ada pertanyaan asasi tentang manusia :
a.       Bagaimana manusia itu ?
b.      Apa sebabnya demikian ?
c.       Apa sesungguhnya manusia itu ?
d.      Darimana awalnya ?
e.       Kemana akhirnya ?
Dua pertanyaan pertama di jawab oleh ilmu dan tiga yang terakhir dijawab oleh filsafat.
Pertanyaan tentang diri sendiri ( manusia ) melahirkan pertanyaan – pertanyaan tentang alam semesta. Pertanyaan pertama yang muncual ialah : apakah ( hakikat ) alam semesta ini ?
a.       Kapankah alam semesta ini terjadi ?
b.      Bagaimana terjadinya ?
c.       Dari sumber apa alam semesta memperoleh hidupnya ?
d.      Dan apa akhir yang dituju dengan gerakan ini ?
Pertanyaan – pertanyaan tentang alam semesta ini membawa serangkaian pertanyaan selanjutnya yang akhirnya sampai kepada pertanyaan – pertanyaan tentang Sang Pencipta, misalnya :
a.       Apaka ia suatu pribadi atau bukan pribadai ?
b.      Apabila suatu pribadi, apakah hakikat dan konstitusi Sang Pencipta itu ?
c.       Apakah Dia suatu pribadi seperti kita ?
d.      Apakah Dia suatu proses kerusakan dan kematian, apakah ia kekal ?
e.       Apakah Dia satu, dua, tiga, atau lebih ?
Pertanyaan tentang manusia, alam semesta dan Tuhan adalah pertanaan asasi, masala fundamental yang digeluti oleh setiap manusia yang berpikir. Tetapi, apakah pertanyaan – pertanyaan asasi itu, penting bagi setiap orang ? apakah pertanyaan – pertanyaan itu berhubungan dengan problema praktis umat manusia ? Apakah menjawab pertanyaan – pertanyaan semacam itu bagi manusia praktis tidak berati membuang – buang waktu dan energi ?
Tanpaknya pertanyaan – pertanyaan asasi, asasi itu hanya berarti bagi filsuf saja. Namun pada kenyataannya tidak demikian, setiap orang yang memeperhatikan hidup dengan serius, setiap orang yang tidak mau kehilangan makna dari setiap amal aktivitasnya, setiap orang yang tidak rela menjadi skrupmesin kehupan, setidak – tidaknya ketika seseorang merasa didera oleh beban hidup dan rumitnya liku – liku kehidupan, segerah akan mendapatkan pertanyaan – pertanyaan asasi tersebut.
Jawaban seseorang terhadap suatu pertanyaan asasi, membawa konsekuensi praktis bagi yang bersangkutan dalam menangani masalah – masalah mendesak yang di temuinya dalam kehidupan sehari – hari.
Seseorang yang sampai pada keyakinan bahwa Tuhan itu ada tentu berbeda tingkah lakunya dengan orang yang tidak mempercayai adanya Tuhan. Seseorang yang berpandangan hidup untuk hidup tentu lain sikap dan cara hidupnya dari yang berpandangan hidup untuk mati. Demikian seterusnya.
Namaun secara commonsense, dengan membawa pengertian –penertian filsafat kepada mahasiswa, kita dapat mewujudkan tujuan IBD yakni membantu memperluas wawasan berpikiran mahasiswa, karena filsafat senatiasa mendorong seseorang untuk :
a.       Berusaha untuk mengetahui apa yang telah di ketahui dan apa yang belum di ketahui.
b.      Berendah hati bahwa tidak semua hal akan perna di ketahuinya dalam alam yang tak terbatas ini.
c.       Mengoreksi diri, berani melihat sejauh mana kebenaran yang di cari telah di jangakaunya.
d.      Tidak apatis terhadap lingkungan dan terhadap nilai hidup dalam masyarakat.
e.       Senantiasa memberikan makna bagu setiap amal perbuatanya.






D.    Konsepsi IBD dalam Keindahan
Keindahan berasal dari kata indah yang berati bagus,permai, cantik, molek, dan lain sebagainya. Benda yang mengandung keindahan ialah segala hasil seni dan alam semesta ciptaan Tuhan. Sangat luas kawasan keindahan bagi manusia. Oleh karena itu, kapan dimana, dan siapa saja dapat menikmati keindahan.
Keindahan identik denaga kebenaran. Keduanya mempunyai nilai yang sama, yaitu abadi, dan mempunyai daya tarik yang selalu bertambah. Segala sesuatu yang tidak mengandung kebenaran berati tidak indah. Selain itu, keindahan juga bersifat universal.
Sejak abad ke – 18 pengertian keindahan ini telah digumuli oleh para filsuf. Keindahan dapat dibedakan sebagai suatu kualitas abstrak dan sebagai sebuah benda tentu yang indah. Menurut luasnya, keindahan dibedakan atas tiga pengertian, yakni keindahan dalam arti luas, dalam arti estetik murni, dan dalam arti terbatas dalam hubungannya dengan penglihatan. Keindahan dalam arti luas mengandung ide kebaikan, watak, hukum, pikiran, endapat, dan sebagainya. Keindahan dalam arti estetik disebut symetria. Jadi, pengertian keindahan yang luas-luasnya meliputi seni, alam, moral, dan intelektual.

Keindahan dalam arti estetik murni mencakup pengalaman estetik seseorang dalam hubungannya dengan segala sesuatu yang di serapnya. Keindahan ini dalam arti terbatas, yaitu berupa keindahan bentuk dan warna.
Ciri – ciri keindahan menyangkut kualita hakiki adalah segala benda yang mengandung kesatuan ( unity ), keselarasan ( harmoni ), kesetangkupan ( symmetry ), keseimbangan ( balance ), dan pertantangan ( contrast ). Dari ciri – ciri itu dapat diambil kesimpulan, bahwa keindahan tersusun dari keselarasan dan pertentangan garis, warna, bentuk, nada, dan kata – kata.


Definisi keindahan sangat luas. Oleh karena itu dalaml estetika modern, orang lebih suka berbicara tentang seni dan estetika karena hal itu merupakan gejala kongkrit yang dapat di telaah dengan pengalam secara empirik dan penguraian sistematis.
Nilai berati kebenaran ( worth ) atau kebaikan ( goodness ). Nilai estetik sesuatu adalah realita psikologis yang harus dibedakan secara tegas dari kegunaan karena terdapat pada jiwa manusia dan bukan pada benta itu sendiri.
Ada yang membedakan nilai ini sebagai nilai subjektif dan nilai objektif atau nilai perseorangan dengan nilai masyarakat. Penggolongan yang lebih penting ialah nilai ekstrinsik dan nilai insrinsik. Nilai ekstrinsik dipandang dari bendanya, sedangkab nilai instrinsik dari isinya.















E.     Kesimpulan

Salah satu syarat yang teramat penting dalam kehidupan manusia adlah keyakinan, yang oleh sebagian orang di anggap sebagai agama. Tujuan agama aadalah mencapai kedamaian rohani dan kesejahteraan jasmani. Tindakan orang yang percaya akan kebesaran Tuhan yang menciptakan semesta alam ini, akan selalu atas rahmat-Nya. Setiap daerah, setiap agama, dan setiap orang mempunyai cara-cara tersendiri untuk mendekatkan diri dan memuja Tuhan. Hal ini lah yang sering di katakan sebagai konsepsi IBD ( ilmu budaya dasar ) dalam agama.
Filsafat dalam IBD adalah sebagai media. Kogkritnya, IBD menggunakan pengertian – pengertian yang berasal dari filsafat untuk melatih kepekaan mahasiswa dan memperluas wawasan pemikirannya dan menagamati suatu fenomena atau menkaji suatu masalah kemanusiaan dan budaya.
Definisi keindahan sangat luas. Oleh karena itu dalaml estetika modern, orang lebih suka berbicara tentang seni dan estetika karena hal itu merupakan gejala kongkrit yang dapat di telaah dengan pengalam secara empirik dan penguraian sistematis.
Ciri – ciri keindahan menyangkut kualita hakiki adalah segala benda yang mengandung kesatuan ( unity ), keselarasan ( harmoni ), kesetangkupan ( symmetry ), keseimbangan ( balance ), dan pertantangan ( contrast ). Dari ciri – ciri itu dapat diambil kesimpulan, bahwa keindahan tersusun dari keselarasan dan pertentangan garis, warna, bentuk, nada, dan kata – kata.













DAFTAR PUSTAKA
Mawardi, Drs, Ir.Nur Hidayati. 2000. Ilmu alamiah dasar Ilmu sosial dasar Ilmu budaya dasar. Pustaka Setia : Bandung
Mustopo, M. Habib. 1983. Ilmu budaya dasar. Usaha Nasional : Surabaya
Mustofa, H. Ahmad. 1999. Ilmu budaya dasar. Pustaka Setia : Bandung


[1] Mustofo,ahmad, 1999 : hal.52
[2] Mustopo, habib, 1983 : hal.63
[3] Mustofa, ahmad, 1999 : hal. 56

Tidak ada komentar:

Posting Komentar