MAKALAH IBD – ISD
TENTANG
KONSEPSI IBD DALAM AGAMA, FILSAFAT,
DAN KEINDAHAN
NAMA : MEDIKA YUNITA
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
BENGKULU
FAKULTAS SYARI’AH DAN EKONOMI ISLAM
PRODI PERBANKAN SYARI’AH
TAHUN 2013/2014
LOKAL 1 C
KATA
PENGANTAR
Segala
puji bagi Allah semesta alam. Salawat beserta salam semoga dilimpahkan kepada
Rasulullah SAW. Kami bersyukur kepada Ilahi Rabi yang telah memberikan hidayah
serta taufik – Nya kepada kami sehingga makalah yang berjudul Konsepsi IBD dalam Agama, Filsafat, dan
Keindahan dapat terselesaikan.
Kami
menyadari bahwa makalah ini sangat lah jauh dari kata sempurna, untuk itu kami
mohon kritik dan saran yang bersifat membantu makalah menjadih lebih sempurna.
Akhirnya
kami ucapkan terima kasih,selain untuk memenuhi tugas, semoga makalah ini
bermanfaar bagi kita semua. Amin.
Bengkulu,
10 oktober 2013
penulis
KONSEPSI
IBD DALAM AGAMA, FILSAFAT, DAN KEINDAHAN
A. Pendahuluan
Salah
satu syarat yang teramat penting dalam kehidupan manusia adlah keyakinan, yang
oleh sebagian orang di anggap sebagai agama. Tujuan agama aadalah mencapai
kedamaian rohani dan kesejahteraan jasmani. Tindakan orang yang percaya akan
kebesaran Tuhan yang menciptakan semesta alam ini, akan selalu atas rahmat-Nya.
Setiap daerah, setiap agama, dan setiap orang mempunyai cara-cara tersendiri
untuk mendekatkan diri dan memuja Tuhan. Hal ini lah yang sering di katakan
sebagai konsepsi IBD ( ilmu budaya dasar ) dalam agama.
Filsafat
dalam IBD adalah sebagai media. Kogkritnya, IBD menggunakan pengertian –
pengertian yang berasal dari filsafat untuk melatih kepekaan mahasiswa dan
memperluas wawasan pemikirannya dan menagamati suatu fenomena atau menkaji
suatu masalah kemanusiaan dan budaya.
Keindahan
berasal dari kata indah yang berati bagus, permai, cantik, molek dan
sebagainya. Benda yang mengandung keindahan adalah segala hasil seni dan alam
semesta ciptaan Tuhan. Sangat luas kawasan keindahan bagi manusia. Karena itu,
di mana dan siapa saja dapat menikmati keindahan.
Keindahan
identik dengan kebenaran. Keduanya memepunyai nilai sama yaitu : abadi dan
mempunyai daya tarik yang selalu bertambah. Yang tidak mengandung kebenaran
berati tidak indah. Keindahan bersifat universal.
B. Konsepsi
IBD dalam Agama.[1]
Salah satu syarat yang
teramat penting dalam kehidupan manusia adlah keyakinan, yang oleh sebagian
orang di anggap sebagai agama. Tujuan agama aadalah mencapai kedamaian rohani
dan kesejahteraan jasmani. Dan untuk mencapai kedamaian ini harus di ikuti dengan
syarat yaitu percaya dengan adanya Tuhan Yang Maha Esa. Yang menciptakan dan
memelihara semua yang ada di dunia ini. Kepercayaan manusia kepada tuhan
berkembang sesuai dengan perkembangan pikiran dan peradaban manusia itu
sendiri, untuk menampung dan memberikan jawaban atas kegelisaan dan keragu –
raguan yang mencemaskan dan menakutkan. Sebelum turunnya ajaran Tuhan yang
diberikan kepada Nabi – Nabi, orang mempercayai benda – benda, bintang –
bintang, barang – barang, batu, dan sebagainya.
Yang kita kehendaki untuk
menerangkan bahwa susunan Tuhan itu
ada, tidak hanya suatu ide yang terdapat di dalam pikiran manusia, tetapi
menunjukan bahwa zat yang di namakan Tuhan itu berwujud objektif, yaitu Tuhan
sebelum kita sadar akan ada – Nya dan sekarang tetap ada, baik manusia itu
sadar ataupun tidak sadar.
Tuhan yang kita maksud
adalah Tuhan Yang Maha Esa, yang menjadi sasaran beribadah, Tuhan yang dapat
diketahui oleh manusia walaupun tidak sepenuhnya.
Tuhan bagi agama
monoteisme, bukan Tuhan yang terdapat di tingkatan yang paling atas, bukan
Tuhan yang menciptakan kebenaran ilmu pasti. Seperti kata filsafat Epicurus, tetapi Tuhan bersifat Ar-Rahman,Ar-Rahim,yaitu Tuhan yag
menyayangi dan menentramkan. Tuhan memenuhi jiwa dan hati manusia. Tuhan
memberi rasa bahagia dan tentram pada manusia.
Menurut Aristoteles,
Tuhan adalah zat yang memberi arti kepada alam, tetapi dapat kita artikan bukan
Tuhan kita sembah dan dapat kita mintai. Tuhan meurut Aristoteles merupakan it dan bukan he.
Theisme adalah
kepercayaan kepada Tuhan adalah zat yang menciptakan alam dunia, tetapi
terbatas dalam dunia ini. Kepercayaan ini bersifat realis karena di dalamnya
Tuhan merupakan zat yang ada tersendiri dan tidak bersandar kepada pengetahuan
kita terhadap – Nya.
Bagi orang yang percaya
pada Tuhan, perasaannya merasa selalu dilindungi oleh Tuhan dan dalam suasana
dan keadaan bagaimanapun, mereka tidak merasa takut. Mereka berkeyakinan bahwa
tidak ada daya upaya dan tiada satu kekuatanpun yang akan mempengaruhi dan
memebinasakannya, kalau tuhan tidak mengizinkannya.
Kita mempunyai
kepercayaan kepada Tuhan, mengingat kebutuhan jiwa akan rasa aman, yang akan
memeberikan ketenangan jiwa. Kepercayaan tersebut akan menghindarkan perbuatan
orang – orang yang kejam, dan penyelewengan sehingga dia akan terhindar dari
gangguan jiwa. Begitu juga halnya dengan orang yang kehilangan kepercayaan
diri, harga diri, dan kasih sayang, kalau mereka percaya akan kebesaran Tuhan,
maka mereka akan bisa menghadapi semua itu dengan penuh ketenangan.
Tindakan orang yang
percaya akan kebesaran Tuhan yang menciptakan alam semesta ini, akan selalu
atas rahmat – Nya. Setiap daerah, setiap agama, setiap orang mempunyai
cara-cara tersendiri untuk mendekatkan diri dan memuja Tuhan. Seperti di Bali,
sebagian penduduknya memeluk agama Hindu – Dharma, mereka mempunyai cara
tersendiri dalam melakukan pemujaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Mereka memuja
Tuhan dengan sesajen yang berisi bermacam – macam buah – buahan dan kembang
berwarna warni, kesemuaan itu ditunjukkan untuk memuja Tuhan. Daerah lainya
seperti Jawa, Madura, Kalimantan, Sumatra, dan sebagainya, memepunyai cara –
cara tersendiri untuk mendekatkan diri kepada Tuhan sesuai dengan agamanya
masing – masing. Meskipun cara itu di lakukan berbeda – beda, tetapi tujuannya
sama, yaitu Tuhan Yang Kuasa Sang Pencipta alam dunia ini.
Kita melakukan ibadah,
sembahyang dan berdo’a kapan dan dimana pun kita berada. Meski dalam keadaan
bahaya kalau snantiasa mengingat – Nya, kita pasti bisa mengatasinya, kita bisa
menyelesaikan segala sesuatu dengan tenag dan bijaksana. Tanpa adanya Tuhan
kehidupan beserta isi dunia ini tdak akan ada.
Yang jelas thuan bagi
agama monoteisme, yakni Tuhan yang bersifat Ar
– Rahman Ar – Rahim, yaitu Tuhan yang menyayangi dan menentramkan. Tuhan
yang memenuhi jiwa dan hati manusia.
Manusia dengan jalanya
sendiri – sendiri selalu berusaha untuk mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha
Esa. Kita tidak tau dimana Tuhan itu berada bagaimana bentuk- Nya, rasa – Nya,
maupun bau- Nya. Kita tidak tau karena tanpa Tuhan, kehidupan ini, beserta
segala isi dunia ini tidak akan ada.
Dengan percaya kepada –
Nya dan selalu mengingat – Nya kita bisa tenang dan tentram dalam menghadapi
segala hal. Coba renungkan surat At – Tariq dan nilai yang terkandung di
dalamnya :
[2]PENDATANG
MALAM
Demi langit dan pendatang malam
Tahukah kau apa pendatang malam itu ?
Bintang yang memijar tembuskan cahayanya
Tak ada satu pun jiwa yang tak ada
pengawasan – Nya
Maka suruhlah manusia merenung dari apa
sal jadinya
Ia diciptakan dari air yang terpancar
tumpah
Dari antara punggung ayah dan tulang dada
bunda
Sungguh, Allah pun kuasa menghidupkan lagi
dia
Di hari kapan rahasia ruah terbuka
Dan manusia lumpuh tanpa seorang pun juru
selamat
Demi langit yang menabur hujan
Dan bumi rekah menyembulkan tumbuhan
Sungguh, kitab ini kata keputusan
Sama sekali bukan main – main
Memang, orang –orang kafir merancang
rencana
Tapi aku pun merancang rencana
Maka berilah mereka tanggak
Biar mereka sementara waktu
Terjemahan surat At – Tariq : ayat 1 –
17 kitab suci Al – Qur’an
C. Konsepsi
IBD dalam Filsafat[3]
a. Arti
filsafat
Filsafat di[4]
ambil dari bahasa Arab falsafah, berasal dari bahasa Yunani philosophia. Yang
yang terakhir ini dapat di uraikan menjadi : philo berarti “ cinta “, dan
sophia berarti “ hikma “ atau “ kebijaksanaan “. Jadi philoshopia berarti “
cinta hikma “ atau “ cinta kebijaksanaan “. ( Hoesin, 1964 : Pudjawijatna, 1965
: 1 ).
Terdapat banyak sekali
rumusan para ahli tentsng pengertian filsafat yang berbeda satu sama lain.
Perbedaan dalam perumusan ini wajar, lebih – lebih bila ingat bahwa filsafat
melambangkan hal yang abstrak. Sedangkan pengertian kata – kata yang
menunjukkan benda – benda yang konkrit saja orang sukar bersepakat.
Gazalba ( 1979 : 42 )
merumuskan pengertian filsafat berangkat dari kata kerjanya. Berfilsafat adalah
kebenaran dari kebenaran untuk kebenaran., tentang segala sesuatu yang di
permasalahkan dengan berpikir secara radikal, sistematik dan universal. Apabila
seseorang berpikir demikian dalam mehadapi masalah dalam hubungannya dalam
kebenaran, adalah orang itu memasuki filsafat. Penuturan dan uraian yangg
tersusun oleh pemikiran itu adalah filsafat. Bertolak dari kerjanya, dapat
dirumuskan kata bendanya : “ filsafat adalah sistem kebenaran tentang segala
sesuatu yang di persoalkan sebagai hasil dari berpikir secara radikal,
sistematis dan universal “.
Anshri (1982:85)setela
mempelajari berbagai rumusan tentang filsafat,sampai kepada kesimpulanbahwah:
-filsafat adalah “ilmu
istimewa”yang mencoba menjawab masalah-masalah yang tidak dapat dijawab oleh
ilmu pengetahuan biasah ,karena masalah-masalah yang termasuk berada duluar
atau diatas jangkauan ilamu pengetahuan biasa.
-filsafat ialah hasil
upaya manusia dengan akal-budinya untuk memahami (mendalaami dan menyelami)secara
redikal dan intergral serta secara sitsematikhakikat serawa yang ada (tuhan ,alam
semestadan manusia )serta sikap manusia termasuk sebagai konsekuensi dari pada
faham (pemahamannya)-nya tersebut.
b. kerakteristik
filsafat
dalam definisi Gazalb
dimuka terdapat beberapa hal yang patut di perbincangkan di sini sehubungan
dangan keratteristik filsafat.
Pertama ,filsafat
mencari kebeanaran .di dalam mencari kebenaran,filosof tidak bertujun mencari
pujian,kedudukan kemulian dan sejenisnya ,melainkan semata-semata karena itu
mnghayati dalam hatinya .demikian juga filosof yang berpikir mencari kebenaran
semata-mata karena ia menghayati masalah yang harus di cari jawabannya .fiosof
sejati adalah pengabdi kebenaran.
Kedua berfilsafat
adalah berfikir .tetapi berfikir tidak selalu berfilsafat.berfikir dikatakan
berfilsafat apa bila mengandung tiga ciri: radikal ,sistematik dan universal.
-radikal artinya
berakar atau mendasar ,siap membokar tempat berpijak secara fundamental;
Sitematik artinya logis
,bergerak selangka demi selangka dengan penuh kesadaran dan urutan yang penu
tanggung jawab dan saling berhubungn
yang teratur.
-universal artinya
umumdan menyeluru ,tidak ficik dan tidak terbatas pada bagian tertentu.
Seorang yang
berfilsafat diilusikkan sebagai orang berpijak di bumi dan menengadah ke
bintang-bintang .dia ingin mengetahui hakekat dirinya dalam kesemestan galaksi
.atau orang yang berdiri di puncak
tinggi ,memandang ke nengarai dan lembah dibawanyah .dia ingin menyimak
kehadirannya dengan kemestan yang ditatapnya .eseorang ilmuan berfikir filsafat
,tidak puas lgi mengenal ilmu hanya dari segi pandangan ilmu itu sendiri. Dia
ingin melihat hakikat ilmu dalam konsetelasi pengetahuan yang lainnya. Dia
ingin tau kaitan ilmu daengan moral dan kaitanya dengann ilmu agama.dia ingin
yakin apaka ilmu itu membawa kebahagian kepadanya.(moral AKTA V 1981:2).
c. bidang
telaah/obyek filsafat pada dasarnya menelah segala masalah yang mungkin dapay
difikirkan oleh manusia.
Mulder (1966:12)
menulis: “tiap-tiap manusia mulai berfikir tentang diri sendiri dan tentang
tempat-tempatnya dalam dunia akan menghadapi
beberapa persoalan yang begitu penting sehingga boleh diberi nama
persoalan-persoalan pokok. Kami terasa terutama tiga persoalan yang dapat
dikatakan bersifat fokok,yaitu
-adakah allah siapaka
allah itu?;
-apa dan siapakah
manusia?dan
-apaka hakikaat dari
segala realitas,apaka maknanya dan apaka intersarinya?
Dalamsejara manusia
kita melihat tiga pertanyaan tadi itu sering dijawab dalam agama yang dianut
oleh manusiah.tapi tidaklahjarang ilmu filsafat berusaha untuk menjawab
persoalan-persoalan pokok itu”.
Di dalam defenisi
Anshari di muka, secara secara eksplisi di di sebutkan bidang telaah filsafat,
yakni hakikat sarwa yang ada, meliputi :
-
hakikat Tuhan
-
hakikat alam semesta
-
hakikat manusia.
Para
ahli membedakan objek materia dari objek forma. Objek sebagai di sebutkan di
atas ( sarwa yang ada ) adalah merupakan objek materia filsafat. Sedangkan
objek formanya adalah usala mencari keterangan sedalam – dalam nya tentang
objek materia tersebut.
d. Batas
dan relativitas filsafat
Dimuka telah di kemukakan
bahwa filsafat adalah ilmu istimewa yang mencoba menjawab masalah – masalah
yang tidak dapat di jawab oleh ilmu pengetahuan biasa. Akan tetapi, dapatkah
filsafat memberi jawaban atas segala soal dan pertanyaan ?.
Ppudjawijayatna
menjawab, “ pada prinsipnya filsafat memang dapat memberikan jawaban kalaupun
belum dapat menjawab, maka terus di usahakan. Tetapi usaha selalu dengan
pikiran belaka. Maka dari itu filsafat bukannya sama dengan agama.
Ada kemungkinan agama
memberi pengetahuan yang lebih tinggi dari filsafat, pengetahuan yang tak
tercapai oleh budi biasa karena demikian tingginya hingga dapat diketahui
karenakan di wahyukan “.
Dalam hubungan ini
weiss memberikan ilustrasi :
Manusia dengan segala
mekanisme jiwanya yang rumit, dengan segala hasrat dan kekuatannya, perasaan,
dan ketidak pastian spekulatifnya, melihat dirinya dihadapkan pada satu alam di
mana kemurahan dan kekejaman, bahay dan ketentraman, bercampur aduk dalam suatu
cara yang dahsyat yang tak teruraikan dan tampaknya berkerja atas garis – garis
yang berbedadari metode – metode dan struktur pikiran manusia.filsafat
intelektual murni atau ilmu pengetahuan eksperemental saja tidak perna sanggup
memecahkan komflik ini. Inilah justru titik dimana agama melangkah maju.
“ bila mana anda ( kata
Kattsof ) mengharapkan jawaban – jawaban tingkat terakhir atas persolan –
persoalan anda artinya jawaban –jawaban yang oleh semua ahli filsafat dianggap
merupakan kebenaran, niscaya anda akan kecewa sekali. “
El – Bahy menimpalu “
sehubung dengan itu, siapa saja yang mengikuti filsafat atau tunduk pada hukum
buatan manusia akan sadar bahwa yang di kutipnya atau yang di taatinya itu
adalah suatu sistem buatan manusia yang tidak pasti menjamin kebenaran dan kke
adilannya. ‘
Pendapat – pendapat di
atas menegaskan batas dan realitivitas filsafat, yang secara singkat dapat di
simpulkan bahwa kebenaran filsafat itu bersifat spekulatif, subjektif, dan
relatif.
“ segala – galanya
memang dapat ditanyakan dan bertanya itu tak habis – habisnya”, kata Boerling,
yang selanjutnya mengingatkan bahwa “ sejak zaman dahulu sebagai filsuf telah
mengetahui bahanya dan mereka memberi peringatan. Sekiranya pertanyaan ini
tidak dihentikan oleh suatu jawaban yang pasti, sehingga semuanya dapat memahami,
maka kita akan terdampar pada suatu putaran air.”
e. Filsafat
dan kebudayaan
Kebudayaan menurut
Mukti Ali adalah buda daya, tingkah laku
manusia. Tingakah laku manusia digerakkan oleh akal dan perasaannya. Yang
mendasari semua itu adalah ucapan hati, sedangkan ucapan batinmerupakan
keyakinan dan penghayatan terhadap sesuatu yang dianggap benar. Apa yang di
anggap benar atau kecil adalah agama. Dan agama sepanjang tidak di wahyukan,
adalah hasil pemikiran filsafat.
Gazalba mendefinisikan
kebudayaan sebagai “ cara berfikir dan mengungkapkan perasaan, yang menyatakan
diri dalam seluruh segi kehidupan sekelompok manusia, yang membentuk kesatuan
sosial dalam suatu ruang dan waktu.” Definisi Gabzalba secara implisit
mengetengahkan jinis – jenis kebudayaan, cara berpikir dan mengungkapkan
perasaa, merupakan kebudayaan batiniah, sedangkan manifestasinya dalam bentuk
cara bertingkah laku dan cara berbuat atau cara hidup adalah kebudayaan
lahiriah. Produk cara bertingkah laku, yang membentuk benda disebut kebudayaan
material.
Apabila dibandingkan
definisi kebudayaan dan defenisi filafat, keduanya bertemu dalam hal berpikir.
Kebudayan adalah cara berpikir, sedangkan filsafat cara berpikir secara
radikal, sistematis, dan universal. Berpikir demikian berujung pada setiap jiwa
( Gazalba ) atau ucapan batin ( Mukti Ali ). Manifestasinya adalah sikap hidup
dan pandangan hidup. Dengan demikian jelaslah, bahwa filsafat itu mengendalikan
cara kebudayaan. Di belakang setiap kebudayaan selalu kita temukan filafat.
Perbedaan kebudayaan dapat dikebalikan kepada perbedaan filsafat.
Kebudayaan juga di
pandang sebagai tata nilai. Seorang individu dalam masyarakat atau masyarakat
itu sendiri berbuat sesuatu, karena susatu itu bernilai atau berguna bagi
kehidupannya. Barang sebagai hasil perbuatan di hasrati karena keperluan.
Dengan demikian barang itu mengandung nilai, jadi, tingkah laku dan hasil
perbuatan dalam kebudayaan menuju pada realisasi nilai.
Kalau kebudayaan kta
pandang sebagai nilai, maka timbul pertanyaan : siapakah yang menentukan nilai
? Yang pertama-tama sudah tentu Tuhan dan kemudian manusia. Tuhan menentukan
nilai melalui agama. Manusia menentukan nilai melalui filsafat. Karena
kebudayaan berpangkal pada manusia, maka jelas yang menentukan kebudayaan
adalah filsafat.
f. Filsafat
dan masalah manusia
Yang dimaksud dengan
masalah manusia adalah mereka yang dipermasalakan oleh manusia. Ada masalah
yang sifatnya segerah ( immediare
problems ) yaitu masalah – masalah praktis sehari – hari, yang berkenaan
dengan keperluan – keperluan pribadi yang mendesak, yang tidak seorang dapat
mengelak dari dirinya. Dan ada masalah yang sifatnya asasi ( ultimate problems ) yaitu berkenaan
dengan hakikat manusia itu sendiri, alam semesta, dan Tuhan. Namun, masalah
terbesar yang dihadapi manusia sepanjang masa adalah masalah dirinya sendiri.
Manusia merupakan salah
satu objek material flsafat dan juga ilmu. Ada pertanyaan asasi tentang manusia
:
a. Bagaimana
manusia itu ?
b. Apa
sebabnya demikian ?
c. Apa
sesungguhnya manusia itu ?
d. Darimana
awalnya ?
e. Kemana
akhirnya ?
Dua
pertanyaan pertama di jawab oleh ilmu dan tiga yang terakhir dijawab oleh
filsafat.
Pertanyaan
tentang diri sendiri ( manusia ) melahirkan pertanyaan – pertanyaan tentang
alam semesta. Pertanyaan pertama yang muncual ialah : apakah ( hakikat ) alam
semesta ini ?
a. Kapankah
alam semesta ini terjadi ?
b. Bagaimana
terjadinya ?
c. Dari
sumber apa alam semesta memperoleh hidupnya ?
d. Dan
apa akhir yang dituju dengan gerakan ini ?
Pertanyaan
– pertanyaan tentang alam semesta ini membawa serangkaian pertanyaan
selanjutnya yang akhirnya sampai kepada pertanyaan – pertanyaan tentang Sang
Pencipta, misalnya :
a. Apaka
ia suatu pribadi atau bukan pribadai ?
b. Apabila
suatu pribadi, apakah hakikat dan konstitusi Sang Pencipta itu ?
c. Apakah
Dia suatu pribadi seperti kita ?
d. Apakah
Dia suatu proses kerusakan dan kematian, apakah ia kekal ?
e. Apakah
Dia satu, dua, tiga, atau lebih ?
Pertanyaan
tentang manusia, alam semesta dan Tuhan adalah pertanaan asasi, masala
fundamental yang digeluti oleh setiap manusia yang berpikir. Tetapi, apakah
pertanyaan – pertanyaan asasi itu, penting bagi setiap orang ? apakah
pertanyaan – pertanyaan itu berhubungan dengan problema praktis umat manusia ?
Apakah menjawab pertanyaan – pertanyaan semacam itu bagi manusia praktis tidak
berati membuang – buang waktu dan energi ?
Tanpaknya
pertanyaan – pertanyaan asasi, asasi itu hanya berarti bagi filsuf saja. Namun
pada kenyataannya tidak demikian, setiap orang yang memeperhatikan hidup dengan
serius, setiap orang yang tidak mau kehilangan makna dari setiap amal
aktivitasnya, setiap orang yang tidak rela menjadi skrupmesin kehupan, setidak
– tidaknya ketika seseorang merasa didera oleh beban hidup dan rumitnya liku –
liku kehidupan, segerah akan mendapatkan pertanyaan – pertanyaan asasi
tersebut.
Jawaban
seseorang terhadap suatu pertanyaan asasi, membawa konsekuensi praktis bagi
yang bersangkutan dalam menangani masalah – masalah mendesak yang di temuinya
dalam kehidupan sehari – hari.
Seseorang
yang sampai pada keyakinan bahwa Tuhan itu ada tentu berbeda tingkah lakunya
dengan orang yang tidak mempercayai adanya Tuhan. Seseorang yang berpandangan hidup untuk hidup tentu lain sikap dan
cara hidupnya dari yang berpandangan hidup
untuk mati. Demikian seterusnya.
Namaun
secara commonsense, dengan membawa
pengertian –penertian filsafat kepada mahasiswa, kita dapat mewujudkan tujuan
IBD yakni membantu memperluas wawasan berpikiran mahasiswa, karena filsafat
senatiasa mendorong seseorang untuk :
a. Berusaha
untuk mengetahui apa yang telah di ketahui dan apa yang belum di ketahui.
b. Berendah
hati bahwa tidak semua hal akan perna di ketahuinya dalam alam yang tak
terbatas ini.
c. Mengoreksi
diri, berani melihat sejauh mana kebenaran yang di cari telah di jangakaunya.
d. Tidak
apatis terhadap lingkungan dan terhadap nilai hidup dalam masyarakat.
e. Senantiasa
memberikan makna bagu setiap amal perbuatanya.
D. Konsepsi
IBD dalam Keindahan
Keindahan
berasal dari kata indah yang berati bagus,permai, cantik, molek, dan lain
sebagainya. Benda yang mengandung keindahan ialah segala hasil seni dan alam
semesta ciptaan Tuhan. Sangat luas kawasan keindahan bagi manusia. Oleh karena
itu, kapan dimana, dan siapa saja dapat menikmati keindahan.
Keindahan
identik denaga kebenaran. Keduanya mempunyai nilai yang sama, yaitu abadi, dan
mempunyai daya tarik yang selalu bertambah. Segala sesuatu yang tidak
mengandung kebenaran berati tidak indah. Selain itu, keindahan juga bersifat
universal.
Sejak
abad ke – 18 pengertian keindahan ini telah digumuli oleh para filsuf.
Keindahan dapat dibedakan sebagai suatu kualitas abstrak dan sebagai sebuah
benda tentu yang indah. Menurut luasnya, keindahan dibedakan atas tiga
pengertian, yakni keindahan dalam arti luas, dalam arti estetik murni, dan
dalam arti terbatas dalam hubungannya dengan penglihatan. Keindahan dalam arti
luas mengandung ide kebaikan, watak, hukum, pikiran, endapat, dan sebagainya.
Keindahan dalam arti estetik disebut symetria.
Jadi, pengertian keindahan yang luas-luasnya meliputi seni, alam, moral, dan
intelektual.
Keindahan
dalam arti estetik murni mencakup pengalaman estetik seseorang dalam
hubungannya dengan segala sesuatu yang di serapnya. Keindahan ini dalam arti
terbatas, yaitu berupa keindahan bentuk dan warna.
Ciri
– ciri keindahan menyangkut kualita hakiki adalah segala benda yang mengandung
kesatuan ( unity ), keselarasan ( harmoni ), kesetangkupan ( symmetry ),
keseimbangan ( balance ), dan pertantangan ( contrast ). Dari ciri – ciri itu
dapat diambil kesimpulan, bahwa keindahan tersusun dari keselarasan dan
pertentangan garis, warna, bentuk, nada, dan kata – kata.
Definisi
keindahan sangat luas. Oleh karena itu dalaml estetika modern, orang lebih suka
berbicara tentang seni dan estetika karena hal itu merupakan gejala kongkrit
yang dapat di telaah dengan pengalam secara empirik dan penguraian sistematis.
Nilai
berati kebenaran ( worth ) atau kebaikan ( goodness ). Nilai estetik sesuatu
adalah realita psikologis yang harus
dibedakan secara tegas dari kegunaan karena terdapat pada jiwa manusia dan
bukan pada benta itu sendiri.
Ada
yang membedakan nilai ini sebagai nilai subjektif dan nilai objektif atau nilai
perseorangan dengan nilai masyarakat. Penggolongan yang lebih penting ialah
nilai ekstrinsik dan nilai insrinsik. Nilai ekstrinsik dipandang dari bendanya, sedangkab nilai instrinsik dari isinya.
E.
Kesimpulan
Salah
satu syarat yang teramat penting dalam kehidupan manusia adlah keyakinan, yang
oleh sebagian orang di anggap sebagai agama. Tujuan agama aadalah mencapai
kedamaian rohani dan kesejahteraan jasmani. Tindakan orang yang percaya akan
kebesaran Tuhan yang menciptakan semesta alam ini, akan selalu atas rahmat-Nya.
Setiap daerah, setiap agama, dan setiap orang mempunyai cara-cara tersendiri
untuk mendekatkan diri dan memuja Tuhan. Hal ini lah yang sering di katakan
sebagai konsepsi IBD ( ilmu budaya dasar ) dalam agama.
Filsafat
dalam IBD adalah sebagai media. Kogkritnya, IBD menggunakan pengertian –
pengertian yang berasal dari filsafat untuk melatih kepekaan mahasiswa dan
memperluas wawasan pemikirannya dan menagamati suatu fenomena atau menkaji
suatu masalah kemanusiaan dan budaya.
Definisi
keindahan sangat luas. Oleh karena itu dalaml estetika modern, orang lebih suka
berbicara tentang seni dan estetika karena hal itu merupakan gejala kongkrit
yang dapat di telaah dengan pengalam secara empirik dan penguraian sistematis.
Ciri
– ciri keindahan menyangkut kualita hakiki adalah segala benda yang mengandung
kesatuan ( unity ), keselarasan ( harmoni ), kesetangkupan ( symmetry ),
keseimbangan ( balance ), dan pertantangan ( contrast ). Dari ciri – ciri itu
dapat diambil kesimpulan, bahwa keindahan tersusun dari keselarasan dan
pertentangan garis, warna, bentuk, nada, dan kata – kata.
DAFTAR PUSTAKA
Mawardi, Drs, Ir.Nur
Hidayati. 2000. Ilmu alamiah dasar Ilmu
sosial dasar Ilmu budaya dasar. Pustaka Setia : Bandung
Mustopo, M. Habib.
1983. Ilmu budaya dasar. Usaha
Nasional : Surabaya
Mustofa, H. Ahmad. 1999.
Ilmu budaya dasar. Pustaka Setia :
Bandung
Tidak ada komentar:
Posting Komentar